BERITAALTERNATIF.COM – Founder PT Gadai Syariah, Muhammad Yusuf, membagikan pandangannya mengenai pentingnya memahami pola dalam membangun bisnis. Menurutnya, keberhasilan dalam usaha tidak semata-mata ditentukan oleh seberapa banyak aktivitas yang dilakukan seseorang, tetapi sejauh mana seseorang mampu menemukan pola dari aktivitas yang menghasilkan keberhasilan.
Yusuf mengatakan, setiap orang pada dasarnya melakukan berbagai aktivitas setiap hari. Namun, tidak semua orang melakukan evaluasi terhadap aktivitas tersebut untuk mengetahui mana yang menghasilkan sesuatu dan mana yang justru tidak memberikan hasil.
Dia mengungkapkan, pengalaman yang menghasilkan keberhasilan seharusnya dicatat, dipelajari, kemudian diulang dengan menyesuaikan kondisi yang ada.
“Sebenarnya badannya bisa berbeda, tapi menciptakan kembali itu sangat mudah. Karena kita paham pola. Setiap tindakan atau yang kita ambil selama kita tahu pola, aman,” ujarnya saat menjadi pembicara yang mempertemukan para pimpinan perusahaan di Desa Teluk Dalam, Kecamatan Tenggarong Seberang, Kukar pada Rabu (23/9/2026).
Ia menilai persoalan yang sering terjadi adalah seseorang tidak mau mempelajari kembali tindakan yang pernah dilakukan.
Padahal, menurut Yusuf, aktivitas yang pernah menghasilkan keberhasilan dapat menjadi formula yang bisa digunakan kembali.
“Kalau pernah berhasil itu seharusnya dicatat. Itu jadi pelajaran dan diulang lagi. Kalau polanya gagal, jangan diulangi,” katanya.
Bisnis Tidak hanya Berbicara tentang Produk
Dia menekankan bahwa bisnis pada akhirnya sangat berkaitan dengan manusia. Produk, modal dan sistem memang penting, tetapi orang-orang yang menjalankan bisnis menjadi salah satu faktor utama dalam menentukan keberlangsungannya.
Ia berpendapat, seseorang tidak cukup hanya memiliki pengetahuan atau ide. Pengetahuan tersebut harus diwujudkan melalui tindakan.
“Bisnis ini lebih ke manusianya, karena enggak mungkin kita ngomong tanpa kita melakukan,” ujarnya.
Karena itu, Yusuf menyarankan seseorang yang ingin membangun bisnis untuk tidak hanya mengandalkan kemampuan sendiri.
Dia menyebut pendampingan melalui mentoring maupun coaching dapat membantu seseorang menemukan pola yang tepat dan menghindari pengulangan kesalahan.
Ia mengatakan, seseorang sebenarnya bisa menjalankan bisnis secara mandiri. Namun, tanpa pendamping, seseorang berpotensi melakukan kesalahan yang sama berulang kali karena tidak memiliki pihak yang membantu melihat persoalan dari sudut pandang berbeda.
“Kita enggak bisa berhasil kalau enggak ada pendamping. Nah, pada waktu itu saya pernah terapkan. Kalau kita mau berhasil, juga harus punya pendamping,” katanya.
Pengalaman Pribadi Menemukan Pola
Yusuf kemudian memberikan contoh dari pengalaman pribadinya di luar dunia bisnis.
Dia mengatakan, pemahaman terhadap pola juga dapat diterapkan dalam menjaga kondisi fisik dan mencapai target tertentu.
Ia mengungkapkan, dalam periode sekitar enam bulan, berat badannya pernah berubah dari sekitar 100 kilogram menjadi 67 kilogram.
Namun, setelah mengalami perubahan tersebut, ia merasa kondisinya terlalu kurus. Karena mengetahui pola yang digunakan, Yusuf kemudian melakukan penyesuaian dengan bantuan pelatihnya.
Berat badannya kemudian kembali mengalami perubahan. “Karena tahu polanya lagi, diubah lagi sama pelatih saya,” tuturnya.
Dia juga menyebut sempat mengalami perubahan berat badan kembali beberapa waktu terakhir. Namun, karena sudah memahami pola yang pernah diterapkan, ia merasa proses untuk mencapai target berikutnya menjadi lebih mudah.
Yusuf menjelaskan, contoh tersebut menunjukkan bahwa keberhasilan bukan sekadar persoalan melakukan sesuatu secara berulang, tetapi memahami hubungan antara tindakan, metode dan hasil.
Target Harus Jelas
Dia mengatakan, seseorang tidak cukup hanya menjaga rutinitas. Setiap aktivitas harus memiliki target yang jelas.
Menurutnya, kegiatan yang dilakukan setiap hari harus dapat dijawab dengan pertanyaan mengenai tujuan yang hendak dicapai.
“Bukan menjaga kegiatan rutinitas, tapi menjaga target. Setiap yang kita lakukan itu ada goal-nya, dicapai goal-nya apa. Tentukan,” ujarnya.
Ia mencontohkan target perubahan berat badan yang pernah ditetapkannya. Ketika sudah mengetahui metode yang tepat, Yusuf dapat memperkirakan langkah-langkah yang harus dilakukan untuk mencapai target tersebut.
Dia menyebut pernah menargetkan penurunan berat badan dari sekitar 90 kilogram menjadi 78 kilogram dalam periode tertentu dan target tersebut berhasil dicapai. “Karena saya tahu polanya. Tahu cara untuk capai itu,” katanya.
Ia mengungkapkan, pengalaman tersebut menjadi ilustrasi bahwa target yang jelas harus diikuti dengan pemahaman terhadap cara mencapainya.
Ketika Bisnis Mengalami Konflik
Pemahaman terhadap pola, menurut Yusuf, juga penting ketika seseorang menghadapi persoalan dalam bisnis.
Dia mengatakan, konflik dalam membangun bisnis tidak selalu berasal dari orang lain. Konflik juga dapat muncul dari dalam diri sendiri.
Rasa jenuh, malas, kehilangan motivasi maupun keinginan untuk berhenti dapat muncul ketika seseorang menjalankan bisnis dalam waktu yang panjang.
Namun, menurut dia, ketika seseorang pernah mengalami keberhasilan, pengalaman tersebut dapat menjadi titik rujukan untuk kembali bangkit.
Ia mengajukan pertanyaan sederhana: ketika seseorang kembali ke titik nol, apa yang akan dilakukan?
Jawabannya, menurut Yusuf, adalah kembali mengulang pola yang sebelumnya terbukti menghasilkan sesuatu, kemudian memperbaiki bagian yang menyebabkan kegagalan.
“Selama kita tahu pola, tinggal ulang aja pola yang sama,” ujarnya.
Menurutnya, seseorang tidak perlu mengulang tindakan yang sudah terbukti tidak berhasil. “Yang yang buat tidak berhasil, jangan dilakukan lagi,” katanya.
Konsistensi Menjadi Kunci
Yusuf kemudian mengaitkan konsep tersebut dengan perjalanan bisnis yang telah dijalaninya.
Dia mengatakan, dari luar seseorang mungkin melihat dirinya menjalankan banyak jenis bisnis. Namun, terdapat pola yang relatif sama dalam berbagai aktivitas tersebut.
Ia menyebut bisnis pergadaian telah dijalankan sejak 2015. Sementara itu, proyek Three Harmoni telah mulai dibangun sejak sekitar 2018.
Yusuf juga menyebut kegiatan konsultasi yang dilakukan sejak sekitar 2018 masih berlangsung hingga sekarang meskipun nama atau bentuk bisnisnya dapat mengalami perubahan.
Dia menyebut perubahan merek, bentuk usaha atau model bisnis tidak selalu berarti seseorang memulai semuanya dari awal.
Yang terpenting, katanya, adalah mempertahankan pola kerja yang terbukti berhasil sembari melakukan penyesuaian terhadap kondisi.
“Brand-nya yang berbeda. Tapi sebenarnya kita lakukan itu-itu aja,” ujarnya.
Berani Mengakui Kesalahan
Dalam membangun usaha, Yusuf juga menekankan pentingnya mengetahui batas kemampuan diri.
Menurutnya, ketika seseorang masuk ke bidang yang tidak dipahami, risiko kerugian akan semakin besar.
“Kalau misalnya ada sesuatu yang tidak saya paham, berarti kita siap rugi,” katanya.
Ia memberikan contoh mengenai bisnis yang tidak dikuasainya. Apabila ada orang mengajaknya masuk ke bisnis tertentu yang tidak dipahaminya, Yusuf memilih untuk tidak serta-merta menerima tawaran tersebut.
Dia mengaku pengalaman kerugian menjadi pelajaran penting untuk menentukan keputusan berikutnya.
Ia menyinggung pengalaman terkait bisnis kendaraan yang menurutnya pernah menimbulkan kerugian besar, bahkan mencapai sekitar Rp 4 miliar.
Namun, pengalaman tersebut tidak membuatnya meninggalkan bisnis pergadaian yang selama ini telah dipahaminya.
Justru, menurut Yusuf, pengalaman tersebut menjadi alasan untuk lebih fokus pada bidang yang telah diketahui polanya.
“Kenapa saya masih tetap usaha gadai? Berarti kan saya tinggal konsisten tetap usaha gadai saya, tidak melakukan kesalahan yang saya lakukan,” ujarnya.
Yusuf juga mengubah pola dalam menerima barang untuk digadaikan berdasarkan pengalaman yang pernah terjadi. “Caranya saya ubah,” katanya.
Tidak Semua Peluang Harus Diambil
Bagi Yusuf, kemampuan seorang pengusaha bukan hanya terletak pada keberanian mengambil peluang, tetapi juga kemampuan menentukan peluang mana yang sesuai dengan kompetensi dan pengalaman.
Dia mengingatkan agar seseorang tidak mudah masuk ke bisnis hanya karena diajak oleh orang lain.
Ia menjelaskan, apabila seseorang membangun bisnis bersama orang yang sama-sama belum memiliki pengalaman dan keberhasilan, maka risiko kegagalan harus diperhitungkan sejak awal.
“Jangan mau berbisnis dengan orang baru. Kemudian orang itu ngajak padahal belum berhasil bisnisnya,” katanya.
Namun, Yusuf menegaskan bahwa hal tersebut bukan berarti seseorang tidak boleh membangun bisnis bersama orang yang belum berpengalaman.
Jika keputusan tersebut diambil, maka semua pihak harus menyadari bahwa proses membangun bisnis membutuhkan waktu dan kemungkinan mengalami kerugian.
Menurutnya, keberhasilan dalam bisnis tidak selalu dapat diperoleh dalam waktu singkat. Ia menilai dibutuhkan proses bertahun-tahun untuk membangun sistem, pasar, tim dan jaringan.
Relasi Menentukan Perjalanan Bisnis
Selain pola dan konsistensi, Yusuf memberikan perhatian besar terhadap pentingnya relasi.
Dia menegaskan, orang yang berhasil membangun bisnis besar tidak selalu karena memiliki kemampuan bisnis yang paling tinggi.
Ia menilai kualitas tim dan relasi yang dimiliki seseorang dapat menjadi faktor penting dalam perjalanan bisnis.
“Orang besar itu bukan karena jago bisnisnya, tapi dia ketemu tim yang tepat. Relasinya yang tepat,” katanya.
Yusuf mengatakan, seseorang yang memiliki kemampuan terbatas sekalipun dapat berkembang apabila bertemu dengan orang-orang yang tepat.
“Biarpun saya bego nih, saya ketemu relasi yang tepat, itu bisa jadi pintar saya,” ujarnya.
Bahkan, kata dia, seseorang yang sebelumnya tidak memiliki bisnis dapat memperoleh kesempatan membangun usaha karena bertemu dengan jaringan yang tepat.
Konsistensi Membuka Peluang Pertemuan
Yusuf menghubungkan pentingnya relasi tersebut dengan konsistensi.
Menurutnya, seseorang tidak pernah mengetahui kapan akan bertemu dengan orang yang dapat memberikan peluang penting dalam perjalanan bisnisnya.
Karena itu, seseorang harus tetap menjalankan aktivitas dan mempertahankan konsistensi.
Dia menjelaskan, pertemuan yang tampaknya biasa saja pada suatu hari dapat berkembang menjadi kerja sama atau peluang baru di kemudian hari.
Ia menyebut bahwa pertemuan antarorang dapat terjadi karena adanya kesamaan tujuan, kebutuhan maupun energi yang sama dalam membangun sesuatu.
“Bisa jadi hari ini kita bertemu, bisa jadi bukan karena kita mau. Ya, kan ada energi yang sama. Nah, hari ini energi itu menyatukan,” katanya.
Bisnis sebagai Proses Menemukan Formula
Dari berbagai pengalaman tersebut, Yusuf memandang bisnis sebagai proses menemukan formula yang tepat.
Seseorang perlu memahami tindakan yang dilakukan, mencatat hasilnya, mengevaluasi kegagalan, mempertahankan keberhasilan dan mengulangi pola yang terbukti memberikan hasil.
Menurutnya, pola tersebut tidak harus selalu identik karena kondisi bisnis dapat berubah. Namun, prinsip dasarnya tetap dapat digunakan.
Ketika kondisi berubah, pengusaha perlu menyesuaikan cara tanpa kehilangan tujuan utama.
Dengan demikian, kata dia, konsistensi bukan berarti melakukan hal yang sama secara membabi buta. Konsistensi adalah kemampuan mempertahankan tujuan, mengevaluasi proses dan mengubah cara ketika ditemukan pola yang tidak lagi efektif.
Ia juga menekankan bahwa perjalanan bisnis membutuhkan pendampingan, tim dan relasi yang tepat.
Bagi Yusuf, pengalaman membangun usaha sejak 2015 menjadi proses panjang untuk memahami bahwa keberhasilan tidak hanya ditentukan oleh modal maupun keberanian memulai usaha.
Kemampuan membaca pola, menentukan target, membangun konsistensi, belajar dari kegagalan, memilih bidang yang dipahami serta membangun relasi menjadi bagian penting dari proses tersebut.
Pada akhirnya, dia mengajak para calon pengusaha untuk tidak hanya sibuk melakukan aktivitas, tetapi juga meluangkan waktu untuk mengevaluasi aktivitas tersebut.
Sebab, dari evaluasi itulah seseorang dapat menemukan pola: tindakan apa yang menghasilkan keberhasilan, tindakan apa yang menyebabkan kegagalan, dan apa yang harus dilakukan untuk mencapai target berikutnya. (*)
Penulis: Ulwan Murtadho
Editor: Ufqil Mubin











