Search

Mengurai Kontradiksi Mencolok dalam Pembenaran AS–Zionis atas Perang Melawan Iran

Dampak serangan balasan Iran terhadap target militer di wilayah pendudukan, bagian dari Operasi True Promise 4 yang dilancarkan oleh IRGC terhadap kepentingan Israel dan Amerika di kawasan. (Presstv)

BERITAALTERNATIF –  Sementara tokoh-tokoh seperti Donald Trump, Benjamin Netanyahu, dan Marco Rubio menyampaikan berbagai alasan yang saling bertentangan untuk membenarkan agresi ilegal dan tanpa provokasi terhadap Iran, penilaian intelijen dari Central Intelligence Agency (CIA) justru meruntuhkan klaim adanya ancaman yang “segera terjadi”. Hal ini sekaligus menyingkap bagaimana entitas Zionis memiliki pengaruh besar dalam arah kebijakan luar negeri Amerika Serikat.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengeluarkan serangkaian pernyataan yang saling bertolak belakang mengenai serangan gabungan AS–Zionis terhadap Republik Islam Iran yang diluncurkan pada 28 Februari 2026.

Dalam pernyataan video awalnya, Trump mengatakan bahwa serangan tersebut bertujuan menghilangkan “ancaman yang segera terjadi” dari Iran, termasuk dugaan upaya negara itu memperoleh senjata nuklir dan mengembangkan rudal jarak jauh yang mampu mencapai wilayah Amerika Serikat.

Trump menggambarkan Iran sebagai “kelompok yang sangat kejam dan mengerikan” yang tindakannya dianggap membahayakan kepentingan Amerika.

Namun narasi itu segera berubah. Pada 3 Maret, Trump mengakui bahwa keputusan untuk menyerang sebenarnya didasarkan pada “pendapatnya” bahwa Iran akan menyerang lebih dulu jika tidak didahului oleh serangan pre-emptive.

“Itu adalah pendapat saya bahwa mereka akan menyerang terlebih dahulu,” ujarnya, meninggalkan klaim sebelumnya tentang adanya intelijen konkret.

Perubahan pernyataan ini sekali lagi menunjukkan adanya pembesar-besaran ancaman. Trump sebelumnya mengklaim Iran hampir memiliki rudal balistik antarbenua yang dapat mengancam Amerika Serikat, sebuah pernyataan yang bertentangan dengan penilaian intelijen AS sendiri.

Media seperti BBC juga menyoroti bahwa klaim “ancaman segera” yang disampaikan Trump tidak memiliki dukungan bukti kuat, serta mencatat bahwa kemampuan nuklir Iran masih jauh dari tahap persenjataan meskipun retorika politik terus meningkat.

Keraguan Trump sebelum serangan juga semakin melemahkan argumennya. Associated Press melaporkan bahwa Trump merasa tidak puas dengan jalannya perundingan nuklir yang sedang berlangsung, sehingga memutuskan memberi perintah serangan meskipun jalur diplomatik masih terbuka. Pergeseran dari diplomasi menuju agresi ini menunjukkan adanya motif oportunistik, bukan kebutuhan mendesak.

Dorongan Netanyahu selama puluhan tahun: perubahan rezim dengan segala cara

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu sejak lama dikenal sebagai pendukung utama konfrontasi terhadap Iran, yang ia anggap sebagai musuh eksistensial.

Dalam membenarkan serangan tahun 2026, Netanyahu menyatakan bahwa serangan tersebut merupakan tindakan pencegahan untuk menggagalkan program nuklir dan rudal Iran, sambil memperingatkan bahwa kekuatan militer besar akan digunakan bila diperlukan.

Ia mengatakan bahwa membiarkan Iran memiliki senjata nuklir dan rudal balistik antarbenua akan membahayakan seluruh umat manusia.

Retorika Netanyahu mencerminkan obsesinya selama empat dekade terhadap Iran. Bahkan jurnalis seperti Mehdi Hasan menyebut Netanyahu telah “mendambakan dan memimpikan serangan seperti ini selama 40 tahun”, dengan Trump menjadi presiden Amerika pertama yang memenuhi keinginannya.

Media The Guardian menyebut serangan tersebut sebagai “tindakan agresi ilegal” tanpa dasar hukum yang sah, didorong oleh preferensi Netanyahu terhadap solusi militer dibandingkan diplomasi.

Setelah serangan terjadi, Netanyahu merayakan tujuan operasi tersebut dan bahkan menyerukan dalam bahasa Persia agar rakyat Iran “turun ke jalan dalam jumlah jutaan untuk menyelesaikan pekerjaan dan menggulingkan rezim ketakutan”.

Media Mondoweiss mencatat bahwa alasan awal tentang nuklir dengan cepat berubah menjadi pengakuan terbuka mengenai tujuan perubahan rezim—sebuah pola yang mengingatkan pada narasi yang digunakan menjelang Perang Irak.

Dalam pernyataan lain, Trump juga mengatakan kepada rakyat Iran: “Ketika kami selesai, ambil alih pemerintahan kalian. Itu akan menjadi milik kalian.”

Namun laporan The Nation mengungkap bahwa sebagian tujuan sebenarnya adalah menjadikan Iran sebagai negara gagal yang kehilangan struktur pemerintahan yang stabil.

Dalam retorika lain yang menuai kontroversi, Netanyahu juga merujuk pada kisah Amalek dalam Taurat—sebuah narasi yang oleh banyak pihak dipandang sebagai seruan simbolis untuk menghancurkan musuh sepenuhnya.

“Slip of the tongue” Rubio dan pengaruh Zionis terhadap keputusan AS

Pernyataan Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio juga menyingkap pengaruh besar Israel terhadap kebijakan Amerika.

Pada 2 Maret, Rubio mengatakan bahwa Amerika melakukan serangan karena “kami tahu akan ada tindakan dari Israel”, sehingga Washington memilih bergerak lebih dulu untuk menghindari korban lebih besar akibat balasan Iran.

Rubio menambahkan bahwa pengetahuan tentang rencana Israel membuat keterlibatan AS menjadi tak terelakkan.

Media Al Jazeera menyebut penjelasan ini sebagai “pembenaran berputar” yang menunjukkan bagaimana niat Israel menentukan waktu keputusan Amerika.

Menghadapi kritik keras, Rubio kemudian menarik kembali pernyataannya dan mengatakan bahwa serangan itu akan tetap terjadi terlepas dari tindakan Israel.

The New York Times melaporkan klarifikasi Rubio yang mengatakan bahwa presiden memutuskan agar Amerika tidak menjadi pihak yang diserang lebih dulu.

Media Axios mencatat bahwa pernyataan Rubio memicu perpecahan di kalangan pendukung Trump sendiri, sementara The Guardian menyoroti kemarahan dari kalangan Partai Demokrat yang melihatnya sebagai indikasi perang pilihan atas nama Israel.

Intelijen CIA meruntuhkan klaim “ancaman segera”

Penilaian intelijen CIA justru menunjukkan gambaran berbeda dari narasi resmi pemerintah.

Associated Press melaporkan bahwa intelijen Amerika tidak menemukan rencana serangan pendahuluan Iran terhadap AS.

Laporan kepada Kongres juga tidak menunjukkan indikator serangan tersebut.

Media Reuters melaporkan pengakuan pejabat Pentagon bahwa tidak ada intelijen yang menunjukkan Iran akan menyerang terlebih dahulu.

The Hill juga mengutip temuan serupa yang bertentangan dengan klaim Trump mengenai ancaman segera.

Sementara itu, laporan dari House of Commons Library pada 2025 menyebut intelijen AS menilai Iran tidak sedang membangun senjata nuklir.

CNN melaporkan bahwa CIA memang memantau aktivitas para pemimpin Iran, namun tidak menemukan rencana ofensif terhadap Amerika.

Laporan-laporan ini menunjukkan bahwa ancaman yang dijadikan alasan perang kemungkinan telah dibesar-besarkan atau bahkan direkayasa.

Kepanikan Pentagon dan kerentanan sistem pertahanan

Pejabat Pentagon juga dilaporkan khawatir terhadap menipisnya persediaan sistem pertahanan udara THAAD.

Menurut laporan The Washington Post, suasana di kalangan pejabat militer digambarkan sebagai “tegang dan penuh paranoia”.

Media The Daily Beast bahkan menyebut sejumlah pejabat Pentagon “diam-diam panik” jika konflik berlangsung lama.

Tingginya tingkat penggunaan interceptor menjadi penyebab utama. Setiap rudal yang masuk dapat memerlukan dua hingga tiga interceptor untuk dihentikan.

Selain itu, kerusakan radar peringatan dini di pangkalan Al Udeid juga memperburuk situasi.

Beberapa laporan menyebut Iran menghancurkan sistem radar AN/FPS-132 senilai sekitar 1,1 miliar dolar—sebuah sistem penting untuk melacak rudal balistik.

Kerusakan ini memperlemah kemampuan peringatan dini dan mempersingkat waktu reaksi sistem pertahanan.

Pengaruh Israel terhadap kebijakan Amerika

Sejumlah analis menyimpulkan bahwa Israel selama bertahun-tahun mendorong Amerika menuju konfrontasi dengan Iran.

Media Al Jazeera menyoroti bagaimana rencana Israel memicu keterlibatan militer Amerika.

Sementara lembaga pemikir seperti Council on Foreign Relations menyebut intervensi Amerika meningkat setelah tindakan sepihak Israel.

The Guardian menyebut perang ini sebagai agresi ilegal yang dipicu oleh ketidaksabaran Netanyahu terhadap jalur diplomasi.

Berbagai laporan juga menunjukkan bahwa tujuan akhir sebagian pihak adalah perubahan rezim di Iran—sebuah agenda yang berpotensi memperluas konflik dan mengancam

Kontradiksi utama dalam pernyataan para pemimpin

Sejumlah kontradiksi mencolok muncul dari pernyataan para pemimpin yang terlibat:

  • Klaim Trump tentang ancaman rudal Iran bertentangan dengan penilaian intelijen AS.
  • Netanyahu menyebut serangan sebagai langkah menuju perdamaian, sementara banyak analis melihatnya sebagai eskalasi konflik.
  • Rubio awalnya menyiratkan bahwa rencana Israel memaksa Amerika bertindak, sebelum kemudian menarik ucapannya.
  • Laporan intelijen menunjukkan tidak ada rencana serangan Iran yang segera terjadi.

Kontradiksi-kontradiksi ini semakin meningkatkan skeptisisme baik di kalangan aparat keamanan Amerika maupun negara-negara sekutu di Asia Barat.

Sejumlah pengamat menilai bahwa situasi ini dapat menjadi titik balik bagi peran Amerika di kawasan tersebut.

Di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik, perdebatan tentang kebenaran, propaganda, dan kepentingan politik kini semakin mengemuka di panggung internasional.

Tulisan ini ditulis oleh David Miller, produser sekaligus pembawa acara program mingguan Palestine Declassified di Press TV.  (*)

Sumber: Presstv
Penerjemah dan Editor: Ali Hadi Assegaf

 

 

 

Bagikan

Kunjungi Berita Alternatif di :

BACA JUGA

POPULER BULAN INI
INDEKS BERITA