BERITAALTERNATIF.COM – Maryam Abu Daqa, jurnalis Gaza yang gugur syahid dalam bombardir Rumah Sakit Nasser di Khan Yunis. Sebelum syahid, ia berwasiat agar namanya tidak dilupakan, meninggalkan pesan kepada putranya untuk menamai putrinya kelak dengan nama Maryam.
Dia adalah bagian dari ratusan jurnalis yang menjadi target serangan terencana, dan kini kisahnya menjadi simbol abadi keteguhan dan pengorbanan Gaza.
Maryam adalah seorang jurnalis dan fotografer Gaza. Ia gugur sebagai syahid, tetapi sebelum wafat ia meninggalkan pesan: “Jangan lupakan namaku, Maryam…”
Seakan dia tahu bahwa Maryam adalah simbol keabadian: lambang pertumbuhan, keberkahan, kehidupan, harapan, dan keteguhan hingga datang hari-hari hijau penuh zaitun, kedamaian, dan kebebasan.
Ia berwasiat kepada anaknya, Ghaith, “Saat kau dewasa, menikah, dan punya seorang putri, berikan namanya ‘Maryam’, agar aku selalu dikenang.”
Maryam sadar, cepat atau lambat, utara atau selatan Gaza tak ada bedanya—tanah itu suatu hari akan disirami darahnya. Ia tahu, selama Gaza belum disuburkan oleh darah mereka, benih kehidupan abadi tak akan tumbuh di sana.
Dia tahu ia sedang melanjutkan jejak Ahmad Mansour, Fatimah Hassouna, dan lebih dari 240 jurnalis Gaza yang gugur. Senjata mereka hanyalah pena dan kamera, tetapi tugas mereka besar: membuka tabir kejahatan rezim, membongkar kebohongan media Zionis yang sedang melakukan genosida, menghancurkan sejarah dan peradaban Palestina, sambil menciptakan identitas palsu bagi dirinya.
Maryam tahu, pasal-pasal hukum internasional yang seharusnya melindungi jurnalis hanyalah kertas kosong. Pasal 19 Deklarasi Universal HAM, Pasal 19 Kovenan Internasional Hak Sipil dan Politik, bahkan Konvensi Jenewa 1949 dan Protokol Tambahan 1977 yang menegaskan perlindungan jurnalis, tidak pernah dijalankan. Di Gaza justru sebaliknya: karena mereka saksi langsung genosida, para jurnalis menjadi target pertama serangan terencana.
Maryam tahu itu semua karena ia sendiri pernah menyaksikan Ahmad Mansour terbakar di tenda wartawan akibat bom Zionis. Ia melihat gedung bertingkat runtuh menimpa Fatimah Hassouna dan keluarganya. Dia juga menyaksikan syahidnya Anas Sharif, Muhammad Quraiqa, Ibrahim Zaher, Mu’min Aliwah, dan Muhammad Naufal dalam serangan udara ke tenda wartawan dekat Rumah Sakit Syifa, hanya sebulan sebelum dirinya gugur.
Akhirnya hari itu tiba. Karbala Maryam—yakni saat ia sendiri meraih syahid—terjadi pada 24 Agustus 2025 di Rumah Sakit Nasser, Khan Yunis. Pesawat tempur Zionis berulang kali membombardir gedung darurat rumah sakit itu.
Serangan pertama menghancurkan lantai keempat, menewaskan warga sipil, pasien, dan Hossam al-Masri, jurnalis Reuters.
Saat wartawan lain datang untuk merekam, dan tim medis menolong korban, serangan kedua menghantam.
Di situlah Maryam Abu Daqa (jurnalis lepas Associated Press dan Independent Arabia) gugur bersama rekan-rekannya: Muhammad Salameh (Al Jazeera), Mu’adz Abu Taha (Reuters), dan Ahmad Abu Aziz (Quds Feed).
Associated Press menulis setelah itu, “Maryam sering berada di Rumah Sakit Nasser, melaporkan kondisi korban luka, pasien, dan anak-anak yang kelaparan. Ia adalah seorang pahlawan.”
Namun kisah Maryam tidak berhenti di sana. Darahnya yang membasahi puing-puing hanyalah awal dari kisah baru. Publik kembali mengingat potret pengorbanannya ketika ia mendonorkan ginjalnya untuk sang ayah. Dalam sebuah video, Maryam tampak menangis bahagia, memeluk ayahnya yang kembali mendapat kehidupan.
Dalam unggahan terakhir di Instagram, Maryam tampak bersandar di dinding lift Rumah Sakit Nasser. Wajahnya lelah, namun matanya memancarkan keteguhan. Ia melantunkan bait, “Surga, ketenangan, dan ridha menanti. Siapa bilang orang yang pulang kepada Tuhannya adalah orang yang merugi?”
Syahidnya Maryam bukan akhir, melainkan awal baru. Ia bagaikan burung phoenix yang bangkit dari abu di Karbala Rumah Sakit Nasser. Ia menjadi benih yang tertanam di tanah Gaza, menumbuhkan harapan di hati anak-anak dan generasi yang akan datang.
Kepada putranya, Ghaith, ia berpesan penuh cinta, “Kau adalah hati dan jiwa ibumu. Jangan hanya menangis untukku, doakan aku agar bahagia. Jadilah kebanggaanku, rajin, sukses, dan mandiri.”
Ia juga berwasiat, “Jangan lupakan shalat. Shalatlah yang membuat rakyat Gaza tetap teguh, sabar, dan bermartabat di tengah penderitaan.”
Kisah Maryam adalah kisah semua Maryam di Gaza. Ia tahu namanya takkan pernah dilupakan, sebab Maryam adalah satu-satunya nama perempuan yang disebut langsung dalam Alquran, memiliki satu surah sendiri, disebut lebih dari 70 kali, dan kisahnya tersebar di tujuh surah. Nama Maryam terikat dengan iman, kesucian, pengorbanan, serta kehidupan—seperti pohon zaitun yang hijau dan tak pernah layu. (*)
Sumber: Tasnim News
Penerjemah: Ali Hadi Assegaf
Editor: Ufqil Mubin












