BERITAALTERNATIF – Kunjungan terbaru Emmanuel Macron ke Marseille, kota terbesar kedua di Prancis, menjadi titik penting dalam penegasan kebijakan pemerintah terkait upaya pengembangan kota tersebut serta peningkatan infrastruktur dasarnya.
Macron melakukan kunjungan ini pada 16 Desember 2025. Kehadirannya di Marseille bersifat simbolis, dimaksudkan untuk menunjukkan keterlibatan langsung pemerintah pusat dalam proses pembenahan kota, sekaligus untuk menyampaikan laporan kemajuan proyek besar bertajuk “Marseille Besar”.
Program ini telah dimulai sejak beberapa waktu lalu dan didukung oleh pembiayaan negara sebesar 5 miliar euro, dengan total investasi yang diperkirakan mencapai 15 miliar euro. Tujuan utama program tersebut adalah mengatasi berbagai persoalan struktural serta memperbaiki kondisi ekonomi dan sosial Marseille, yang selama bertahun-tahun menghadapi kesenjangan pembangunan dan masalah perkotaan yang kompleks.
Dalam pidatonya di Marseille, Macron menegaskan bahwa pemerintah tetap berkomitmen terhadap kota tersebut. Ia menyatakan, “Kami menepati komitmen kami terhadap Marseille. Program ini tidak hanya ditujukan untuk pembangunan infrastruktur, tetapi juga untuk menciptakan peluang-peluang baru bagi warga kawasan ini. Marseille akan memiliki masa depan yang lebih cerah dan lebih maju.”
Menurut laporan Istana Élysée, hingga saat ini 87 persen dana program “Marseille Besar” telah dialokasikan. Sejumlah langkah konkret telah dijalankan di berbagai bidang, termasuk renovasi sekolah, perbaikan transportasi umum, peningkatan keamanan, serta pembaruan kawasan perkotaan di berbagai wilayah kota.
Di sektor transportasi, proyek-proyek penting telah direncanakan dan sebagian mulai dilaksanakan, seperti perluasan jaringan trem, peluncuran jalur bus cepat, serta dimulainya proyek-proyek rel baru. Sementara itu, di bidang keamanan, pemerintah mengumumkan penambahan jumlah personel kepolisian, pemasangan kamera pengawas, serta pembukaan kantor polisi baru di sejumlah kawasan Marseille.
Macron juga menekankan bahwa program-program tersebut secara khusus dirancang untuk memperbaiki kualitas hidup di kawasan utara Marseille, wilayah yang selama ini mengalami kekurangan infrastruktur dan tertinggal dibandingkan bagian kota lainnya. Namun, penilaian optimistis pemerintah ini segera mendapat tantangan dari kalangan oposisi.
Partai “Prancis Tak Tertundukkan”, khususnya melalui sebuah laporan berjudul “Marseille yang Nyata”, mempertanyakan evaluasi pemerintah terhadap program “Marseille Besar”. Menurut partai ini, proyek tersebut dinilai tidak memiliki perencanaan yang benar-benar komprehensif dan minim pelibatan nyata warga serta lembaga lokal. Mereka menilai pemerintah lebih banyak berfokus pada tampilan luar proyek, ketimbang menyentuh akar persoalan struktural yang dihadapi kota.
Para penulis laporan “Marseille yang Nyata” berpendapat bahwa proyek-proyek transportasi, terutama di kawasan utara kota yang paling membutuhkan peningkatan infrastruktur, masih jauh dari memadai. Selain itu, mereka mengkritik kurangnya perhatian terhadap pengembangan transportasi ramah lingkungan serta krisis perumahan sosial yang kian memburuk. Menurut mereka, aspek-aspek tersebut tidak ditangani secara serius dalam program pemerintah.
Mereka juga menegaskan bahwa penekanan berlebihan pada isu keamanan dan pendekatan yang semata-mata bersifat kepolisian, tanpa disertai kebijakan sosial dan ekonomi yang menyeluruh, tidak akan mampu memberikan solusi jangka panjang bagi persoalan Marseille. Pendekatan semacam ini dinilai hanya menangani gejala, bukan sumber masalah yang sebenarnya.
Perbedaan pandangan antara pemerintah dan para pengkritiknya mencerminkan tantangan yang lebih luas dalam pengelolaan kota besar. Pemerintah mempresentasikan “Marseille Besar” sebagai upaya untuk menebus kekurangan dan problem historis kota tersebut, sementara para penentang menilainya sebagai proyek yang tidak cukup ambisius dan masih penuh kekurangan.
Ketegangan ini tidak hanya menunjukkan adanya perbedaan penilaian terhadap kebijakan dan proyek pembangunan, tetapi juga berpotensi memicu persaingan politik yang semakin tajam menjelang pemilihan wali kota Marseille pada tahun 2026.
Pada akhirnya, meskipun pidato Macron dalam kunjungan ini menekankan capaian-capaian program “Marseille Besar” dan perbaikan kondisi hidup warga Marseille, para pengkritik tetap menyoroti kurangnya perhatian terhadap persoalan mendasar kota. Mereka menuntut adanya evaluasi ulang dan reformasi serius terhadap arah dan isi program tersebut. Dinamika ini, yang kini berada di bawah sorotan publik, diperkirakan akan menjadi salah satu isu utama dalam pertarungan politik menuju pemilihan wali kota Marseille pada tahun 2026. (*)
Sumber: Mehr News
Penerjemah dan Editor: Ali Hadi Assegaf












