Search

Manuver Rezim Zionis di Suriah; Akar Masalah dan Dampaknya

Rezim Zionis bermaksud mempertahankan kehadiran militer jangka panjang di selatan Suriah untuk, di satu sisi, semakin melemahkan Turki, dan di sisi lain menjadikan Suriah sebagai pijakan kuat dalam menghadapi Poros Perlawanan. (Mehr News)

BERITAALTERNATIF – Dalam sepekan terakhir, kemunculan terbuka Netanyahu di wilayah Suriah dan terbangnya jet tempur rezim Zionis di atas Damaskus, sementara pasukan militer Turki di Suriah tidak bereaksi terhadap hal ini, telah menyingkapkan realitas pahit. Netanyahu pekan lalu melakukan kunjungan lapangan ke sejumlah kawasan di selatan Suriah; wilayah pegunungan yang menguasai seluruh area, yang sebagian di antaranya telah berhasil dikuasai rezim Zionis setelah berakhirnya pemerintahan Bashar al-Assad tahun lalu. Dalam kunjungan yang dipublikasikan luas oleh media-media Zionis itu, Netanyahu menegaskan bahwa posisi militer rezim Zionis di kawasan ini “bersifat defensif sekaligus ofensif”, dan bahwa langkah-langkah tersebut ia anggap sangat penting bagi keamanan Tel Aviv.

Penerbangan bebas dan bernada penghinaan oleh jet-jet tempur militer rezim Zionis di langit Hauran (Quneitra, Daraa, dan Suweida) di selatan Suriah, bahkan di atas Damaskus, Tartus, dan Latakia yang berada di bawah kendali Julani, juga menjadi peristiwa lain yang terjadi pekan lalu. Semua ini berlangsung di saat militer Turki hadir di banyak wilayah tersebut, namun tidak menunjukkan reaksi apa pun. Para Zionis dalam kunjungan lapangan bersama Netanyahu itu melaju tanpa rasa khawatir hingga beberapa kilometer dari posisi tentara Turki untuk memamerkan penguasaan mereka atas situasi di Suriah.

Bagian media militer rezim Zionis juga menyatakan: pasukan Brigade Cadangan “Pionir” (55) yang dalam beberapa bulan terakhir kembali ditempatkan dalam status cadangan, saat ini berada di bawah komando Divisi 210 Angkatan Darat Israel dan ditempatkan serta beroperasi di kawasan selatan Suriah. Pasukan ini menjalankan misi-misi defensif preventif untuk menjaga keamanan warga “Israel”, khususnya mereka yang tinggal di Dataran Tinggi Golan.

Sebelumnya, pada Maret 2025, jet-jet tempur Zionis juga telah melancarkan serangan terhadap sejumlah target militer di Suriah. Serangan tersebut mencakup sistem radar, pangkalan senjata, gudang amunisi, dan berbagai instalasi militer lainnya. Pada Juli 2025, rezim Zionis melancarkan serangan ke pusat Damaskus, termasuk ke gedung Kementerian Pertahanan Suriah dan kawasan di dekat istana kepresidenan, yang hancur akibat serangan itu. Serangan-serangan tersebut dipandang sebagai peringatan bagi Julani dan Turki, khususnya terkait konflik internal Suriah dan benturan mereka dengan komunitas Druze di selatan Suriah. Dengan tindakan ini, rezim Zionis menunjukkan bahwa Suriah mereka anggap sebagai ladang permainan yang nyaris tanpa biaya bagi manuver mereka.

Reaksi Suriah dan Komunitas Internasional

Rezim Julani di Suriah, yang pada saat bersamaan tengah bertempur dengan pasukan Kurdi, hanya sebatas mengecam kunjungan Netanyahu dan menyebut tindakan tersebut sebagai “pelanggaran serius terhadap kedaulatan dan integritas wilayah Suriah”. Beberapa negara lain seperti Yordania juga hanya menyampaikan respons verbal, menyebut langkah tersebut sebagai tindakan “berbahaya” dan “eskalasi ketegangan”. PBB, seperti biasanya, hanya menyampaikan keprihatinan. Turki pun memilih diam dan tidak memberikan respons nyata.

Apa Tujuan Netanyahu Dengan Langkah Ini?

Tampaknya rezim Zionis berniat mempertahankan kehadiran militer jangka panjang di selatan Suriah guna, di satu sisi, semakin melemahkan Turki, dan di sisi lain menjadikan Suriah sebagai pijakan kuat untuk menghadapi Poros Perlawanan. Netanyahu sebelumnya telah menyatakan bahwa rezim Zionis tidak akan mengizinkan pasukan Suriah yang baru ataupun kelompok-kelompok seperti Hay’at Tahrir al-Sham (HTS) memasuki sebagian wilayah selatan Damaskus. Ia juga menuntut demiliterisasi penuh kawasan seperti Quneitra, Daraa, dan Suweida.

Tujuan Netanyahu kini bukan sekadar memukul ancaman, tetapi program para Zionis adalah menancapkan kehadiran permanen di wilayah yang luas di Suriah demi menjamin kepentingan keamanan mereka serta mempertahankan pengaruh di titik-titik lain di negara itu untuk menggagalkan setiap gerakan anti-Zionis. Tahap berikutnya adalah menjadikan rezim Zionis sebagai pangkalan anti-perlawanan untuk berhadapan dengan Iran, Hizbullah, dan seluruh kekuatan perlawanan lainnya. Dengan bersikap pasif di Suriah, Turki pada praktiknya telah berubah menjadi “perata jalan” bagi skema anti-perlawanan rezim Zionis.

Strategi ini bagi rezim Zionis memiliki dua dimensi: pertama, melindungi perbatasan utara mereka dan mencegah potensi ancaman dari infiltrasi kelompok-kelompok perlawanan atau pasukan Suriah independen yang menentang Israel; kedua, memaksimalkan pengaruh politik dalam dinamika internal Suriah, khususnya setelah tumbangnya pemerintahan Assad.

Dampak dan Implikasi Langkah Terkini Netanyahu

Peningkatan Ketegangan Dengan Suriah:
Terlepas dari reaksi pasif Julani, kunjungan Netanyahu dan serangan-serangan udara itu bagaimanapun telah meningkatkan ketegangan antara rezim Zionis dan Suriah. Damaskus mengecam keras tindakan tersebut dan ruang bagi Julani untuk secara terbuka berkoordinasi dengan Zionis menjadi semakin sempit.

Memperparah Konflik Internal di Suriah:
Jika strategi rezim Zionis ini berhasil, mereka bisa mempertahankan kehadiran jangka panjang di sabuk selatan Suriah. Hal ini akan mengubah kalkulasi regional dan berpotensi memicu konflik yang lebih luas, khususnya bila sebagian kekuatan Suriah independen atau kelompok bersenjata anti-Israel di dalam Suriah yang menolak penetrasi ini memutuskan untuk melawan secara langsung.

Meningkatkan Ketidakpercayaan Antara Turki dan Israel:
Ankara berupaya mengokohkan kehadiran militernya di Suriah, sementara rezim Zionis memandang kehadiran tersebut sebagai ancaman bagi ambisi ekspansionisnya. Turki menginginkan pemerintahan pusat yang kuat dan terpusat di Suriah, sedangkan rezim Zionis justru cenderung mendorong terbentuknya negara yang terdesentralisasi atau lebih lemah, agar Suriah semakin dekat pada skenario fragmentasi dan keruntuhan.

Keberlanjutan kondisi saat ini, meski ada upaya mengendalikan situasi, bisa berujung pada konfrontasi yang lebih serius. Kemungkinan benturan langsung atau insiden yang tak disengaja tetap terbuka, dan pembelahan Suriah lebih jauh menjadi dua atau beberapa zona pengaruh akan makin mengacaukan stabilitas keamanan negara itu. Suriah yang lemah dan terpecah justru merupakan kondisi ideal bagi rezim Zionis.

Kepentingan Iran di Suriah mencakup upaya menjaga jalur logistik serta pengaruh politik dan militer di Damaskus dan selatan Suriah untuk mengurangi ruang gerak Zionis; mencegah pelemahan Poros Perlawanan; dan mempertahankan kapasitas daya tangkal politik dan militer terhadap Zionis sekaligus menghadang manuver bebas rezim Zionis dan Turki di Suriah.

Untuk mewujudkan kepentingannya di Suriah, Iran dapat mengambil langkah-langkah berikut:

  1. a) Melaksanakan Diplomasi Multidimensi
    Berupaya membangun kanal diplomatik, baik terbuka maupun tertutup, dengan para aktor kunci (Rusia, Turki, Irak, Lebanon, bahkan para mediator Eropa) untuk mendefinisikan garis merah Iran di Suriah dan mencegah eskalasi sebelum kapasitas pertahanan Poros Perlawanan dipulihkan dan diperkuat sepenuhnya. Kontak-kontak semacam ini dapat menurunkan risiko eskalasi konflik yang berjenjang.
  2. b) Menciptakan Daya Tangkal
    Memperkuat kemampuan deterrence melalui penyampaian pesan-pesan yang jelas dan proporsional dengan situasi di ranah politik, ekonomi, dan diplomasi, serta pada akhirnya melalui respons terukur yang tujuannya membangun daya tangkal, bukan memperlebar perang.
  3. c) Memperkuat Pengaruh Politik dan Ekonomi di Suriah
    Melakukan investasi terarah untuk membangun kembali komunitas-komunitas lokal tertentu, menyalurkan bantuan kemanusiaan, menjalin kesepakatan ekonomi dengan aktor-aktor lokal, dan memberikan dukungan politik kepada jaringan lokal yang dekat dengan Teheran. Langkah ini akan meningkatkan ongkos bagi Israel jika ingin menghadapi Iran melalui arena Suriah sekaligus mengukuhkan pijakan Iran di sana. Program rekonstruksi dan penetrasi lunak dapat berubah menjadi instrumen daya tangkal.
  4. d) Pertukaran Informasi dan Diplomasi Demi Peningkatan Kewaspadaan
    Meningkatkan pertukaran informasi dengan sekutu dan memanfaatkan kanal-kanal diplomatik untuk memberikan peringatan dini kepada pihak-pihak pesaing dan musuh terkait manuver yang akan datang. Upaya ini membantu memastikan bahwa setiap respons Iran bersifat rasional dan berdasarkan penilaian yang matang, sekaligus mengurangi kemungkinan terjadinya konfrontasi tak terduga tanpa persiapan.
  5. e) Memanfaatkan Mekanisme Hukum dan Internasional
    Mendorong pihak-pihak yang berkepentingan untuk mengajukan gugatan hukum terhadap Israel, menginformasikan pelanggaran kedaulatan Suriah oleh Israel kepada lembaga-lembaga internasional, dan menggunakan diplomasi publik untuk menyoroti tindakan sepihak Zionis. Langkah ini dapat menyatukan opini internasional melawan agresi Israel dan menciptakan biaya politik serta hukum bagi mereka.
  6. f) Kerja Sama Bersyarat Dengan Turki
    Hubungan Iran–Turki sekaligus bersifat kompetitif dan kooperatif. Untuk menjaga kepentingannya di Suriah, Iran harus menerapkan “diplomasi aktif” sambil tetap mempertahankan “kapasitas daya tangkal”-nya. Kerja sama Iran dengan Turki di Suriah mungkin saja dilakukan, tetapi terbatas dan bersyarat. Titik-titik kerja sama yang paling realistis adalah membentuk mekanisme teknis untuk mengurangi risiko benturan di titik-titik sensitif, melakukan pertukaran informasi terbatas terhadap ancaman bersama, dan mendorong diplomasi regional dalam isu-isu non-militer.

Dalam sepekan terakhir, kemunculan terbuka Netanyahu di wilayah Suriah dan terbangnya jet tempur rezim Zionis di atas Damaskus, sementara pasukan militer Turki di Suriah tidak bereaksi terhadap hal ini, telah menyingkapkan realitas pahit. Netanyahu pekan lalu melakukan kunjungan lapangan ke sejumlah kawasan di selatan Suriah; wilayah pegunungan yang menguasai seluruh area, yang sebagian di antaranya telah berhasil dikuasai rezim Zionis setelah berakhirnya pemerintahan Bashar al-Assad tahun lalu. Dalam kunjungan yang dipublikasikan luas oleh media-media Zionis itu, Netanyahu menegaskan bahwa posisi militer rezim Zionis di kawasan ini “bersifat defensif sekaligus ofensif”, dan bahwa langkah-langkah tersebut ia anggap sangat penting bagi keamanan Tel Aviv.

Penerbangan bebas dan bernada penghinaan oleh jet-jet tempur militer rezim Zionis di langit Hauran (Quneitra, Daraa, dan Suweida) di selatan Suriah, bahkan di atas Damaskus, Tartus, dan Latakia yang berada di bawah kendali Julani, juga menjadi peristiwa lain yang terjadi pekan lalu. Semua ini berlangsung di saat militer Turki hadir di banyak wilayah tersebut, namun tidak menunjukkan reaksi apa pun. Para Zionis dalam kunjungan lapangan bersama Netanyahu itu melaju tanpa rasa khawatir hingga beberapa kilometer dari posisi tentara Turki untuk memamerkan penguasaan mereka atas situasi di Suriah.

Bagian media militer rezim Zionis juga menyatakan: pasukan Brigade Cadangan “Pionir” (55) yang dalam beberapa bulan terakhir kembali ditempatkan dalam status cadangan, saat ini berada di bawah komando Divisi 210 Angkatan Darat Israel dan ditempatkan serta beroperasi di kawasan selatan Suriah. Pasukan ini menjalankan misi-misi defensif preventif untuk menjaga keamanan warga “Israel”, khususnya mereka yang tinggal di Dataran Tinggi Golan.

Sebelumnya, pada Maret 2025, jet-jet tempur Zionis juga telah melancarkan serangan terhadap sejumlah target militer di Suriah. Serangan tersebut mencakup sistem radar, pangkalan senjata, gudang amunisi, dan berbagai instalasi militer lainnya. Pada Juli 2025, rezim Zionis melancarkan serangan ke pusat Damaskus, termasuk ke gedung Kementerian Pertahanan Suriah dan kawasan di dekat istana kepresidenan, yang hancur akibat serangan itu. Serangan-serangan tersebut dipandang sebagai peringatan bagi Julani dan Turki, khususnya terkait konflik internal Suriah dan benturan mereka dengan komunitas Druze di selatan Suriah. Dengan tindakan ini, rezim Zionis menunjukkan bahwa Suriah mereka anggap sebagai ladang permainan yang nyaris tanpa biaya bagi manuver mereka.

Reaksi Suriah dan Komunitas Internasional

Rezim Julani di Suriah, yang pada saat bersamaan tengah bertempur dengan pasukan Kurdi, hanya sebatas mengecam kunjungan Netanyahu dan menyebut tindakan tersebut sebagai “pelanggaran serius terhadap kedaulatan dan integritas wilayah Suriah”. Beberapa negara lain seperti Yordania juga hanya menyampaikan respons verbal, menyebut langkah tersebut sebagai tindakan “berbahaya” dan “eskalasi ketegangan”. PBB, seperti biasanya, hanya menyampaikan keprihatinan. Turki pun memilih diam dan tidak memberikan respons nyata.

Apa Tujuan Netanyahu Dengan Langkah Ini?

Tampaknya rezim Zionis berniat mempertahankan kehadiran militer jangka panjang di selatan Suriah guna, di satu sisi, semakin melemahkan Turki, dan di sisi lain menjadikan Suriah sebagai pijakan kuat untuk menghadapi Poros Perlawanan. Netanyahu sebelumnya telah menyatakan bahwa rezim Zionis tidak akan mengizinkan pasukan Suriah yang baru ataupun kelompok-kelompok seperti Hay’at Tahrir al-Sham (HTS) memasuki sebagian wilayah selatan Damaskus. Ia juga menuntut demiliterisasi penuh kawasan seperti Quneitra, Daraa, dan Suweida.

Tujuan Netanyahu kini bukan sekadar memukul ancaman, tetapi program para Zionis adalah menancapkan kehadiran permanen di wilayah yang luas di Suriah demi menjamin kepentingan keamanan mereka serta mempertahankan pengaruh di titik-titik lain di negara itu untuk menggagalkan setiap gerakan anti-Zionis. Tahap berikutnya adalah menjadikan rezim Zionis sebagai pangkalan anti-perlawanan untuk berhadapan dengan Iran, Hizbullah, dan seluruh kekuatan perlawanan lainnya. Dengan bersikap pasif di Suriah, Turki pada praktiknya telah berubah menjadi “perata jalan” bagi skema anti-perlawanan rezim Zionis.

Strategi ini bagi rezim Zionis memiliki dua dimensi: pertama, melindungi perbatasan utara mereka dan mencegah potensi ancaman dari infiltrasi kelompok-kelompok perlawanan atau pasukan Suriah independen yang menentang Israel; kedua, memaksimalkan pengaruh politik dalam dinamika internal Suriah, khususnya setelah tumbangnya pemerintahan Assad.

Dampak dan Implikasi Langkah Terkini Netanyahu

Peningkatan Ketegangan Dengan Suriah:
Terlepas dari reaksi pasif Julani, kunjungan Netanyahu dan serangan-serangan udara itu bagaimanapun telah meningkatkan ketegangan antara rezim Zionis dan Suriah. Damaskus mengecam keras tindakan tersebut dan ruang bagi Julani untuk secara terbuka berkoordinasi dengan Zionis menjadi semakin sempit.

Memperparah Konflik Internal di Suriah:
Jika strategi rezim Zionis ini berhasil, mereka bisa mempertahankan kehadiran jangka panjang di sabuk selatan Suriah. Hal ini akan mengubah kalkulasi regional dan berpotensi memicu konflik yang lebih luas, khususnya bila sebagian kekuatan Suriah independen atau kelompok bersenjata anti-Israel di dalam Suriah yang menolak penetrasi ini memutuskan untuk melawan secara langsung.

Meningkatkan Ketidakpercayaan Antara Turki dan Israel:
Ankara berupaya mengokohkan kehadiran militernya di Suriah, sementara rezim Zionis memandang kehadiran tersebut sebagai ancaman bagi ambisi ekspansionisnya. Turki menginginkan pemerintahan pusat yang kuat dan terpusat di Suriah, sedangkan rezim Zionis justru cenderung mendorong terbentuknya negara yang terdesentralisasi atau lebih lemah, agar Suriah semakin dekat pada skenario fragmentasi dan keruntuhan.

Keberlanjutan kondisi saat ini, meski ada upaya mengendalikan situasi, bisa berujung pada konfrontasi yang lebih serius. Kemungkinan benturan langsung atau insiden yang tak disengaja tetap terbuka, dan pembelahan Suriah lebih jauh menjadi dua atau beberapa zona pengaruh akan makin mengacaukan stabilitas keamanan negara itu. Suriah yang lemah dan terpecah justru merupakan kondisi ideal bagi rezim Zionis.

Kepentingan Iran di Suriah mencakup upaya menjaga jalur logistik serta pengaruh politik dan militer di Damaskus dan selatan Suriah untuk mengurangi ruang gerak Zionis; mencegah pelemahan Poros Perlawanan; dan mempertahankan kapasitas daya tangkal politik dan militer terhadap Zionis sekaligus menghadang manuver bebas rezim Zionis dan Turki di Suriah.

Untuk mewujudkan kepentingannya di Suriah, Iran dapat mengambil langkah-langkah berikut:

  1. a) Melaksanakan Diplomasi Multidimensi
    Berupaya membangun kanal diplomatik, baik terbuka maupun tertutup, dengan para aktor kunci (Rusia, Turki, Irak, Lebanon, bahkan para mediator Eropa) untuk mendefinisikan garis merah Iran di Suriah dan mencegah eskalasi sebelum kapasitas pertahanan Poros Perlawanan dipulihkan dan diperkuat sepenuhnya. Kontak-kontak semacam ini dapat menurunkan risiko eskalasi konflik yang berjenjang.
  2. b) Menciptakan Daya Tangkal
    Memperkuat kemampuan deterrence melalui penyampaian pesan-pesan yang jelas dan proporsional dengan situasi di ranah politik, ekonomi, dan diplomasi, serta pada akhirnya melalui respons terukur yang tujuannya membangun daya tangkal, bukan memperlebar perang.
  3. c) Memperkuat Pengaruh Politik dan Ekonomi di Suriah
    Melakukan investasi terarah untuk membangun kembali komunitas-komunitas lokal tertentu, menyalurkan bantuan kemanusiaan, menjalin kesepakatan ekonomi dengan aktor-aktor lokal, dan memberikan dukungan politik kepada jaringan lokal yang dekat dengan Teheran. Langkah ini akan meningkatkan ongkos bagi Israel jika ingin menghadapi Iran melalui arena Suriah sekaligus mengukuhkan pijakan Iran di sana. Program rekonstruksi dan penetrasi lunak dapat berubah menjadi instrumen daya tangkal.
  4. d) Pertukaran Informasi dan Diplomasi Demi Peningkatan Kewaspadaan
    Meningkatkan pertukaran informasi dengan sekutu dan memanfaatkan kanal-kanal diplomatik untuk memberikan peringatan dini kepada pihak-pihak pesaing dan musuh terkait manuver yang akan datang. Upaya ini membantu memastikan bahwa setiap respons Iran bersifat rasional dan berdasarkan penilaian yang matang, sekaligus mengurangi kemungkinan terjadinya konfrontasi tak terduga tanpa persiapan.
  5. e) Memanfaatkan Mekanisme Hukum dan Internasional
    Mendorong pihak-pihak yang berkepentingan untuk mengajukan gugatan hukum terhadap Israel, menginformasikan pelanggaran kedaulatan Suriah oleh Israel kepada lembaga-lembaga internasional, dan menggunakan diplomasi publik untuk menyoroti tindakan sepihak Zionis. Langkah ini dapat menyatukan opini internasional melawan agresi Israel dan menciptakan biaya politik serta hukum bagi mereka.
  6. f) Kerja Sama Bersyarat Dengan Turki
    Hubungan Iran–Turki sekaligus bersifat kompetitif dan kooperatif. Untuk menjaga kepentingannya di Suriah, Iran harus menerapkan “diplomasi aktif” sambil tetap mempertahankan “kapasitas daya tangkal”-nya. Kerja sama Iran dengan Turki di Suriah mungkin saja dilakukan, tetapi terbatas dan bersyarat. Titik-titik kerja sama yang paling realistis adalah membentuk mekanisme teknis untuk mengurangi risiko benturan di titik-titik sensitif, melakukan pertukaran informasi terbatas terhadap ancaman bersama, dan mendorong diplomasi regional dalam isu-isu non-militer.  (*)

Sumber: Mehr News
Penerjemah dan Editor: Ali Hadi Assegaf

 

 

 

Bagikan

Kunjungi Berita Alternatif di :

BACA JUGA

POPULER BULAN INI
INDEKS BERITA