Search

Konflik Iran-Israel-AS Berpotensi Ganggu Ekonomi Indonesia, Ini Penjelasan Pakar UI

Tangkapan layar - Pakar Hukum Internasional dari Universitas Indonesia (UI) Hikmahanto Juwana. (ANTARA/Muhammad Zulfikar)

BERITAALTERNATIF.COM – Konflik geopolitik yang melibatkan Iran, Israel, dan Amerika Serikat (AS) dinilai dapat memberikan dampak serius terhadap perekonomian global, termasuk Indonesia. Guru Besar Hukum Internasional Universitas Indonesia (UI), Hikmahanto Juwana, mengingatkan masyarakat Indonesia agar lebih mewaspadai dampak tidak langsung dari ketegangan di Timur Tengah tersebut.

Menurut Hikmahanto, konflik bersenjata antara ketiga negara tersebut bisa mengganggu stabilitas pasokan barang-barang impor yang selama ini menjadi kebutuhan pokok dalam aktivitas ekonomi nasional. Ia menekankan bahwa situasi ini bukan sekadar isu luar negeri, tetapi memiliki implikasi langsung terhadap harga dan ketersediaan barang-barang di dalam negeri.

“Konflik ini akan berdampak pada berbagai barang-barang yang kita impor,” ujar Hikmahanto saat dihubungi di Jakarta, Kamis. Ia menambahkan, jika pasokan terganggu, maka bukan tidak mungkin akan terjadi perlambatan ekonomi di Indonesia akibat rantai distribusi yang terputus atau biaya logistik yang meningkat.

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa perluasan konflik ke wilayah yang lebih luas akan berdampak lebih serius terhadap rantai pasok global. Situasi ini, menurutnya, harus menjadi perhatian tidak hanya pemerintah tetapi juga masyarakat luas.

“Belum lagi kalau misalnya perang meluas, ini juga akan mengganggu rantai pasok berbagai negara,” ungkapnya. Ia mengajak masyarakat Indonesia untuk tidak bersikap pasif dan hanya menjadi penonton dalam konflik tersebut. Sebaliknya, masyarakat bisa mengambil bagian dengan mengirimkan pesan-pesan perdamaian yang menekankan pentingnya penyelesaian konflik secara diplomatik.

Sementara itu, ketegangan terbaru antara AS dan Iran mencuat setelah laporan bahwa Presiden AS saat itu, Donald Trump, sempat menyetujui rencana serangan terhadap Iran. Namun, ia belum memberikan keputusan final terkait pelaksanaan serangan tersebut. Trump dilaporkan masih menunggu langkah konkret dari Iran, terutama soal penghentian program nuklir, yang selama ini menjadi sorotan utama dalam hubungan antara kedua negara.

Fasilitas pengayaan uranium bawah tanah milik Iran di Fordow disebut-sebut menjadi target utama AS, namun serangan terhadap lokasi tersebut memerlukan senjata dengan daya ledak tinggi. Dalam sebuah survei yang dilakukan Washington Post, sekitar 20 persen warga AS menganggap program nuklir Iran sebagai ancaman langsung dan serius terhadap negaranya. Hampir setengah dari responden menyatakan program itu sebagai ancaman yang cukup serius, sementara sepertiga lainnya tidak melihatnya sebagai ancaman besar.

Dalam survei yang sama, sekitar empat dari sepuluh warga AS mengaku sangat khawatir bahwa konflik ini bisa memicu perang skala penuh antara AS dan Iran. Jumlah yang hampir sama menyatakan sedikit khawatir akan kemungkinan tersebut.

Konflik yang terus bereskalasi ini menjadi pengingat bahwa ketegangan internasional memiliki potensi besar untuk mengganggu stabilitas ekonomi dan sosial di berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia. Maka dari itu, dibutuhkan kesadaran kolektif dan kesiapsiagaan dari semua pihak agar dampak negatif yang ditimbulkan dapat diminimalisir. (*)

Sumber : ANTARA
Editor : M.Anshori

Bagikan

Kunjungi Berita Alternatif di :

BACA JUGA

POPULER BULAN INI
INDEKS BERITA