Oleh: Dr. Muhsin Labib*
Empat puluh tahun silam, Imam Khomeini mengucapkan sebuah pernyataan yang pada zamannya mungkin terdengar seperti keberanian seorang revolusioner, tetapi hari ini terasa seperti intuisi politik yang jauh menembus zamannya. Ketika dunia sedang sibuk mengagungkan modernitas, pembangunan, dan “peradaban besar”, Khomeini justru mengajukan pertanyaan yang membongkar kemegahan itu: peradaban macam apa yang datang mengambil minyak sebuah bangsa, mendirikan pangkalan militer di tanahnya, lalu meminta bangsa tersebut menyebutnya sebagai kemajuan?
Ia bahkan bersedia menerima kemungkinan yang bagi banyak negara terdengar mengerikan. Jika seluruh dunia menutup pintunya bagi Iran, jika Iran dikelilingi tembok dan puluhan juta rakyatnya terkurung di dalamnya, ia mengatakan bahwa keadaan itu masih lebih baik daripada membuka pintu bagi para penjarah. Kalimat tersebut memperlihatkan sebuah cara berpikir yang sangat tegas: ada harga yang layak dibayar ketika yang dipertahankan adalah kebebasan menentukan nasib sendiri.
Di situlah ketajaman intuisi Khomeini terlihat. Ia memahami bahwa pintu yang terbuka tidak selalu berarti kebebasan. Pintu yang terbuka dapat menjadi jalan bagi ilmu, perdagangan, dan hubungan antarmanusia. Tetapi pintu yang sama dapat menjadi jalan masuk bagi dominasi ketika hubungan berlangsung tanpa kesetaraan. Minyak dapat disebut perdagangan. Pangkalan militer dapat disebut keamanan. Ketergantungan dapat disebut kerja sama. Dominasi bahkan dapat dibungkus dengan istilah yang paling indah: peradaban.
Khomeini menolak permainan bahasa tersebut. Ia membawa perhatian kembali kepada kenyataan di balik istilah. Jika sebuah kekuatan mengambil kekayaan suatu negeri dan menempatkan kekuatan militernya di tanah negeri tersebut, kemajuan teknologinya tidak otomatis membuat perilakunya beradab. Peradaban tidak cukup diukur dari apa yang dimiliki sebuah kekuatan, tetapi juga dari bagaimana kekuatan itu memperlakukan bangsa lain. Teknologi dapat membuat manusia lebih kuat; kekayaan dapat membuat negara lebih makmur; tetapi semua itu tidak dengan sendirinya menjadi ukuran moralitas.
Lebih jauh lagi, Khomeini tampaknya memahami bahwa penjajahan modern tidak selalu datang dengan kapal perang dan bendera pendudukan. Ia dapat hadir melalui kontrak, konsesi, ketergantungan ekonomi, tekanan politik, doktrin keamanan, pangkalan militer, dan jaringan kepentingan yang dibungkus dengan bahasa kerja sama. Bentuknya berubah, istilahnya berubah, metodenya berubah, tetapi pertanyaan dasarnya tetap sama: siapa yang menentukan dan siapa yang harus mengikuti?

Karena itu, kesediaan Khomeini menerima kemungkinan Iran terisolasi tidak tepat dibaca hanya sebagai penolakan terhadap dunia. Yang tampak justru sebuah penolakan terhadap ketergantungan yang mengharuskan sebuah bangsa menukar kebebasannya dengan kenyamanan. Ia memahami bahwa kemerdekaan tidak selalu datang bersama kemakmuran, dan mempertahankannya tidak selalu menghadirkan jalan yang mudah. Ada harga yang harus dibayar. Ada kesulitan yang harus ditanggung. Tetapi sebuah bangsa harus mengetahui apa yang tidak boleh ditukar dengan harga berapa pun.
Empat puluh tahun kemudian, kekuatan pernyataan itu justru terasa pada kesederhanaannya. Ia tidak membutuhkan teori geopolitik yang rumit. Ia hanya mengajukan satu pertanyaan setiap kali sebuah kekuatan besar datang membawa tawaran: apa yang sebenarnya masuk melalui pintu itu, dan setelah pintu terbuka, siapa yang memegang kuncinya?
Sejarah memperlihatkan bahwa sebuah bangsa tidak selalu kehilangan kemerdekaannya ketika tentara asing memasuki wilayahnya. Kemerdekaan juga dapat terkikis ketika sebuah bangsa mulai menerima anggapan bahwa nasibnya harus ditentukan oleh kekuatan yang lebih besar.
Rumah yang sederhana masih dapat dibangun kembali. Kekayaan yang hilang masih dapat dicari kembali. Bahkan keterasingan masih dapat diakhiri. Tetapi ketika hak untuk menentukan arah sejarah telah berpindah ke tangan kekuatan lain, yang dipertaruhkan bukan lagi sekadar minyak, wilayah, atau kekayaan. Yang dipertaruhkan adalah kemerdekaan sebuah bangsa untuk menentukan nasibnya sendiri.
Dan di situlah ketajaman intuisi Imam Khomeini terasa paling jelas. Ia tidak sekadar berbicara tentang Iran pada zamannya. Ia sedang mengajukan pertanyaan yang melampaui zamannya: apakah sebuah bangsa berani menanggung kesulitan untuk tetap menjadi penentu sejarahnya sendiri, atau bersedia menikmati kemudahan dengan membiarkan orang lain menuliskan sejarah untuknya? (*Cendekiawan Muslim)











