BERITAALTERNATIF – Pada 29 Desember 2025, Presiden Amerika Serikat Donald Trump meningkatkan ketegangan dengan Iran melalui peringatan militer yang lugas saat konferensi pers bersama Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu. Trump menyatakan bahwa setiap upaya Teheran untuk menghidupkan kembali atau memperluas program nuklir atau rudal balistiknya akan memicu tindakan militer yang tegas, dengan consideration bahwa Amerika Serikat siap mendukung serangan terhadap kemampuan militer Iran. Ia memperingatkan bahwa jika Iran “mencoba membangun kembali,” upaya tersebut akan segera “dimusnahkan,” menggunakan bahasa yang menunjukkan kesiapan untuk melampaui konfrontasi sebelumnya. Ketegasan bahasa ini, yang disampaikan tanpa pembatasan diplomatik, mencerminkan normalisasi luar biasa terhadap ancaman perang terhadap sebuah negara berdaulat.
Yang membuat peringatan tersebut semakin mengkhawatirkan adalah pengabaian sengaja terhadap realitas hukum dan politik internasional yang diakui. Iran masih merupakan penandatangan Traktat Non-Proliferasi Nuklir (NPT) dan berulang kali menyatakan bahwa program nuklirnya semata-mata bersifat damai, sebuah posisi yang diakui secara formal dalam kerangka hukum internasional. Demikian pula, kemampuan rudal Iran—yang secara eksplisit menjadi sasaran Trump—secara luas diperkenalkan oleh Teheran sebagai kebutuhan defensif dan pencegah, khususnya di kawasan yang ditandai oleh ketidakstabilan berkelanjutan akibat kehadiran rezim pendudukan Israel, yang memiliki senjata nuklir tak dideklarasikan dan berulang kali menyerang negara-negara di kawasan.
Pernyataan Trump juga membawa gema sejarah yang mengkhawatirkan. Dengan merujuk pada agresi militer Amerika Serikat–Israel sebelumnya terhadap Iran pada Juni 2025, ia membingkai penggunaan kekuatan sebagai instrumen kebijakan rutin yang bergantung pada pilihan kedaulatan Iran. Sikap ini membangkitkan kembali ingatan tentang eskalasi Juni 2025, ketika Israel melancarkan serangan terang-terangan dan tanpa provokasi terhadap wilayah Iran saat negosiasi nuklir antara Teheran dan Washington masih berlangsung. Serangan itu memicu perang selama 12 hari yang merenggut setidaknya 1.064 nyawa, termasuk komandan militer, ilmuwan nuklir, dan warga sipil. Krisis semakin dalam ketika Amerika Serikat secara langsung memasuki konflik dengan membom tiga fasilitas nuklir Iran, tindakan yang dikutuk Teheran sebagai pelanggaran serius terhadap hukum internasional. Serangan balasan Iran terhadap target strategis di wilayah pendudukan dan pangkalan udara Al-Udeid milik Amerika di Qatar pada akhirnya memaksa penghentian agresi pada 24 Juni, menegaskan konsekuensi nyata dan berbahaya dari ancaman terbuka penggunaan kekuatan di kawasan yang sudah rapuh.
Nada konfrontatif Trump tidak dibiarkan tanpa jawaban. Dalam hitungan jam setelah ancaman 29 Desember tersebut, para pejabat senior Iran dari spektrum politik, militer, dan diplomatik menyampaikan respons tegas, menolak retorika Washington dan menegaskan kembali hak Iran untuk mempertahankan kedaulatan dan keamanan nasionalnya. Dari kepresidenan dan Kementerian Luar Negeri hingga penasihat militer senior dan pimpinan parlemen, pesan Teheran konsisten: ancaman dan intimidasi tidak akan mengubah perhitungan strategis Iran maupun merongrong apa yang dipandangnya sebagai hak sah berdasarkan hukum internasional. Bagian-bagian berikut mengulas respons tersebut secara rinci.
Kata-kata keras, sikap tegas: Bagaimana Iran merespons ancaman Trump?
Ali Shamkhani, penasihat senior Pemimpin Revolusi Islam, mengeluarkan peringatan keras sebagai respons terhadap ancaman terbaru Presiden AS Donald Trump, dengan menekankan bahwa kemampuan pertahanan Iran bersifat mandiri dan tidak dapat dinegosiasikan. Dalam unggahan di akun X resminya, Shamkhani menegaskan bahwa dalam doktrin pertahanan Iran, sejumlah respons telah ditentukan jauh sebelum ancaman mencapai tahap pelaksanaan, yang menandakan tingkat kesiapsiagaan tinggi terhadap potensi agresi apa pun.
Shamkhani menekankan bahwa kemampuan rudal dan pertahanan Iran tidak dapat dibatasi maupun bergantung pada izin eksternal, dan menggambarkannya sebagai komponen penting keamanan nasional di kawasan yang semakin bergejolak. Ia memperingatkan bahwa setiap tindakan agresi terhadap Iran akan dibalas dengan respons cepat, langsung, dan keras, seraya menambahkan bahwa pembalasan tersebut akan melampaui “bayangan imajinasi” para musuh Iran. Pernyataan ini berlawanan tajam dengan klaim Trump bahwa Washington tetap terbuka untuk dialog sambil menjaga opsi penggunaan kekuatan “tetap di atas meja,” sebuah sikap yang dipandang Teheran kontradiktif dan tidak stabil.
Kata-kata keras, sikap tegas: Bagaimana Iran merespons ancaman Trump?
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyampaikan salah satu seruan publiknya yang paling langsung kepada Washington, memperingatkan bahwa intimidasi tidak akan berhasil sementara diplomasi masih menawarkan jalan yang layak. Dalam sebuah artikel opini yang dimuat oleh The Guardian pada hari Selasa, Araghchi secara langsung menyapa Trump dengan menulis, “Anda tidak akan pernah mengalahkan kami di Iran, Presiden Trump—tetapi dengan perundingan yang nyata, kita berdua bisa menang.” Artikel tersebut diterbitkan sehari setelah Trump bertemu Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu di Amerika Serikat. Araghchi mendesak presiden AS untuk mengesampingkan tekanan Israel dan mengakui peluang sempit namun nyata untuk memulai kembali negosiasi, dengan menegaskan bahwa penataan ulang Timur Tengah tidak dapat dicapai tanpa keterlibatan Iran.
Dalam korespondensi diplomatik paralel, Araghchi secara resmi mengecam pernyataan Trump pada 29 Desember melalui surat yang ditujukan kepada para mitranya di seluruh dunia, dengan menyebut ancaman penggunaan kekuatan secara eksplisit terhadap Iran sebagai pelanggaran terang-terangan terhadap hukum internasional dan Piagam PBB, yang secara tegas melarang ancaman terhadap kedaulatan dan integritas teritorial negara-negara anggota PBB. Ia mengingatkan agresi militer bersama AS–Israel pada Juni 2025, seraya mencatat bahwa pernyataan terbaru Washington mencerminkan kelanjutan tindakan yang melanggar hukum dan bermusuhan, yang tanggung jawab atas konsekuensinya sepenuhnya berada di pihak Amerika Serikat.
Araghchi juga menunjuk pada pengakuan presiden AS sendiri atas keterlibatan Amerika dalam serangan terhadap warga sipil Iran, infrastruktur, dan fasilitas nuklir damai, yang ia gambarkan sebagai pelanggaran berat hukum internasional dengan tanggung jawab pidana individual. Ia memperingatkan bahwa dukungan tanpa syarat Amerika Serikat terhadap Israel—yang secara luas dipandang sebagai satu-satunya rezim bersenjata nuklir di Asia Barat—mencerminkan standar ganda berbahaya yang merusak rezim non-proliferasi global dan menimbulkan ancaman langsung terhadap perdamaian dan keamanan internasional.
Kata-kata keras, sikap tegas: Bagaimana Iran merespons ancaman Trump?
Ali Akbar Velayati, penasihat senior Pemimpin Revolusi Islam, menegaskan kembali komitmen Iran untuk memajukan program nuklir dan kemampuan pertahanan nasionalnya sebagai respons atas ancaman berulang dari Amerika Serikat dan Israel. Dalam unggahan di akun Twitter resminya pada hari Selasa, Velayati menyoroti bahwa Iran, dengan dukungan “salah satu peradaban manusia terpanjang,” terus berada di bawah bimbingan Pemimpin Revolusi Islam Ayatollah Seyyed Ali Khamenei dan rakyat yang bertekad untuk mengejar industri nuklirnya secara damai dan mandiri, tanpa ketergantungan pada bantuan asing. Ia menekankan bahwa Iran tetap merupakan negara berdaulat yang kuat dan berkomitmen pada perdamaian serta stabilitas kawasan, sambil menolak upaya intimidasi atau penghalangan terhadap ikhtiar pertahanan dan ilmiah yang sah.
Kata-kata keras, sikap tegas: Bagaimana Iran merespons ancaman Trump?
Mohammad Bagher Ghalibaf, Ketua Parlemen Iran, mengeluarkan peringatan keras sebagai respons terhadap ancaman Amerika Serikat dan Israel, dengan menegaskan bahwa Iran tidak meminta izin dari kekuatan eksternal mana pun untuk membela diri. Dalam unggahan di media sosial, Ghalibaf menulis bahwa respons rakyat Iran terhadap setiap tindakan agresi atau provokasi akan bersifat menyeluruh, tanpa kompromi, dan berpotensi tidak terduga. Ia juga menekankan bahwa keputusan dan tindakan Iran untuk melindungi kepentingan sah dan mempertahankan kedaulatannya tidak dapat diprediksi serta mungkin tidak mengikuti pola masa lalu, menandakan tekad Teheran untuk menjalankan otonomi penuh dalam strategi keamanan nasionalnya.
Kata-kata keras, sikap tegas: Bagaimana Iran merespons ancaman Trump?
Presiden Masoud Pezeshkian merespons tegas ancaman terbaru dari Amerika Serikat dan rezim Israel, dengan memperingatkan bahwa setiap agresi terhadap Iran akan dibalas dengan respons keras dan disesalkan. Dalam unggahan di akun X resminya pada hari Selasa, Pezeshkian menegaskan bahwa Republik Islam tidak akan menoleransi tindakan tiran dan akan bertindak tegas untuk menjaga kedaulatannya.
Pernyataan-pernyataan gabungan ini menegaskan pesan strategis yang lebih luas: setiap upaya memaksa Iran melalui ancaman atau agresi tidak akan berhasil, dan tindakan semacam itu membawa konsekuensi serius bagi para penggagasnya. Dengan membingkai posisinya secara tegas namun tetap diplomatis, otoritas Iran menonjolkan pendekatan ganda—pencegahan yang kokoh dipadukan dengan keterbukaan terhadap perundingan konstruktif—seraya mengirimkan sinyal jelas bahwa kedaulatan, legalitas, dan perdamaian tidak dapat dinegosiasikan, bahkan di tengah tekanan eksternal yang belum pernah terjadi sebelumnya. Seiring ketegangan terus membara, komunitas internasional dihadapkan pada pilihan tegas: menegakkan prinsip-prinsip hukum internasional dan mendukung keterlibatan diplomatik, atau mempertaruhkan destabilisasi lebih lanjut di kawasan yang sudah rapuh. (*)
Sumber: Mehr News
Penerjemah dan Editor: Ali Hadi Assegaf












