Search

Karavan Syuhada di Laut Mediterania

Armada Sumud menjadikan syahid Shireen Abu Aqleh sebagai pemimpin rombongan menuju Jalur Gaza. (Tasnim News)

BERITAALTERNATIF.COM – Armada Sumud terus mengarungi Laut Mediterania, menembus ombak dengan harapan penuh dan keyakinan kuat bahwa kemenangan, pembebasan Gaza, dan berakhirnya blokade sudah dekat. Armada tersebut kali ini bergerak dengan pasukan syuhada media, dipimpin oleh sosok yang abadi—Shireen Abu Aqleh, syahid dari barisan panjang jurnalis Palestina.

Kapal-kapal dalam armada global dan rakyat Sumud memang membawa ratusan penumpang dari 44 negara berbeda. Namun, pada hakikatnya, armada ini juga ditemani oleh ratusan syuhada: arwah suci jurnalis yang gugur dalam beberapa dekade terakhir akibat peluru, bom, dan serangan tentara Zionis. Bahkan, salah satu kapal dinamai untuk mengenang Shireen Abu Aqleh, jurnalis syahid Palestina-Amerika yang ditembak mati saat meliput agresi di Tepi Barat.

Armada internasional ini dibentuk untuk membantu rakyat Gaza yang sudah 18 tahun terkurung oleh blokade darat, udara, dan laut. Para penumpangnya terdiri dari seniman, penulis, jurnalis, dan aktivis media. Mereka berangkat dengan dua tujuan: membuka jalur kemanusiaan menuju Gaza, dan jika itu gagal, setidaknya menarik perhatian dunia pada kejahatan yang terus dibiarkan oleh pemerintah-pemerintah yang bungkam.

Jurnalis Gaza selama dua tahun terakhir menjadi ujung tombak perlawanan. Mereka hadir di garis depan bersama para pejuang, meliput pemakaman syuhada, melaporkan kondisi rumah sakit yang penuh dengan darah, luka, dan tangis anak-anak. Kamera dan pena mereka membawa kesaksian dari balik pagar blokade Gaza yang sempit, hanya 365 kilometer persegi luasnya.

Merekalah yang mengguncang dunia dengan gambar-gambar memilukan: tubuh hancur, keluarga musnah, rumah rata dengan tanah. Liputan mereka menyalakan kesadaran global, mengalirkan air mata di pipi para penonton, dan menyalakan semangat protes di kampus-kampus Amerika serta jalanan Eropa.

Di antara mereka, Shireen Abu Aqleh berdiri paling menonjol. Ia lahir pada 3 April 1971 di Bethlehem, kota bersejarah di Tepi Barat tempat Yesus Kristus dilahirkan. Kota itu dipenuhi kebun zaitun berusia ribuan tahun, sekaligus menjadi saksi penderitaan panjang akibat pendudukan Israel sejak 1967.

Shireen tumbuh di keluarga Arab-Kristen Palestina. Ia sempat belajar arsitektur di Yordania, lalu beralih ke jurnalisme di Universitas Yarmouk. Setelah lulus, ia kembali ke Palestina untuk menjadi reporter berbagai lembaga, hingga pada 1997 bergabung dengan Al Jazeera.

Sejak itu, selama 25 tahun, Shireen menjadi suara Palestina. Ia hadir di setiap penggusuran, setiap serangan, setiap kebun zaitun yang dibakar, dan setiap rumah yang dihancurkan buldoser Israel. Keberaniannya membuatnya dicintai rakyatnya sekaligus dibenci pendudukan.

Pada 11 Mei 2022, Shireen meliput serangan Israel di kamp pengungsi Jenin. Ia mengenakan rompi bertuliskan “PRESS” dan helm pelindung. Namun, peluru sniper Israel menembus kepalanya dari jarak sekitar 180 meter. Rekannya Shatha Hanaysha menyaksikan bagaimana Shireen roboh, sementara tentara Israel mencegah siapa pun mendekat untuk menolongnya.

Kematian Shireen mengguncang dunia. Upacara pemakamannya berubah menjadi aksi perlawanan massal di Yerusalem, dengan ribuan warga Palestina—Muslim dan Kristen—yang tetap mengangkat peti jenazahnya meski dihantam pukulan dan peluru karet tentara Israel.

Israel menyebut kematian Shireen sebagai “tidak disengaja” akibat baku tembak, namun laporan investigasi Al Jazeera dan kesaksian jurnalis lain membantahnya: tidak ada perlawanan bersenjata di lokasi saat itu. Bukti menunjukkan Shireen sengaja ditembak.

PBB, AS, dan Uni Eropa sempat menyerukan penyelidikan, tetapi hingga kini tak ada yang benar-benar dilakukan. Pada 2022, keluarga Shireen dan Al Jazeera mengajukan kasus ke Mahkamah Pidana Internasional.

Pada 2025, film dokumenter investigasi Who Killed Shireen? yang diproduksi di New York mengungkap nama penembaknya: Kapten Alon Sakagiu, sniper pasukan Kfir Israel. Namun, takdir berbalik: pada Juni 2024, ia sendiri tewas dalam serangan kelompok perlawanan di Jenin.

Meski tubuhnya tiada, Shireen justru semakin hidup dalam ingatan. Presiden Mahmoud Abbas menyebutnya “Syahid Palestina, syahid Yerusalem, dan syahid kebebasan pers.” Jalan di Tepi Barat dan juga di Teheran dinamai dengan namanya.

Federasi Jurnalis Internasional meluncurkan Penghargaan Shireen Abu Aqleh untuk jurnalis perempuan. Universitas Birzeit di Ramallah juga mendirikan penghargaan tahunan untuk jurnalis terbaik atas namanya.

Kini, armada global Sumud yang berlayar menuju Gaza membawa kapal bernama Shireen Abu Aqleh. Kapal itu menjadi simbol: dipimpin oleh seorang syuhada yang meski dibungkam peluru, suaranya terus memimpin dunia menuju kebenaran. (*)

Sumber: Tasnim News
Penerjemah: Ali Hadi Assegaf
Editor: Ufqil Mubin

Bagikan

Kunjungi Berita Alternatif di :

BACA JUGA

POPULER BULAN INI
INDEKS BERITA