BERITAALTERNATIF.COM – Dengan terbukti tidak mampu memenangkan perang di berbagai front meskipun memiliki ketimpangan kekuatan yang besar, rezim Zionis telah mengembangkan berbagai doktrin hukuman kolektif selama bertahun-tahun.
Kali ini, setelah dihantam rudal Iran dan gagal mencapai tujuan strategis apa pun, rezim tersebut melampiaskan frustrasinya kepada Lebanon dan Gaza.
Ketika aliansi AS–Israel melancarkan perang agresi terhadap Republik Islam Iran pada 28 Februari, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu secara terbuka membanggakan bahwa ia akhirnya mendapatkan apa yang telah diinginkannya selama lebih dari 40 tahun. Namun, momen yang ia kejar selama puluhan tahun itu gagal menghasilkan hasil seperti yang diharapkannya.
Presiden AS Donald Trump, yang awalnya menyetujui rencana 10 poin Iran sebelum kemudian menarik kembali dukungannya, mengumumkan penghentian permusuhan selama dua minggu dengan Iran. Dalam hitungan jam, setelah Angkatan Udara Israel terbebas dari operasi serangan di Iran, mereka langsung menargetkan warga sipil di Lebanon, termasuk membom ambulans di Tyre, Lebanon selatan.
Beberapa jam kemudian terjadi pembantaian mengerikan di Beirut, di mana Israel melancarkan lebih dari 100 serangan udara dalam 10 menit, menghancurkan puluhan bangunan sipil tanpa peringatan. Akibatnya, lebih dari 300 orang tewas dan sekitar 1.200 lainnya terluka di seluruh negeri dalam waktu kurang dari satu hari.
Peristiwa ini jelas bukan kecelakaan; kepemimpinan Israel selama gencatan senjata 15 bulan di Lebanon—yang menurut UNIFIL dilanggar lebih dari 15.400 kali—terus mengklaim bahwa Hezbollah telah dikalahkan dan tidak lagi menjadi ancaman. Namun pada awal Maret, narasi kemenangan Israel runtuh sepenuhnya.
Ada alasan mengapa 77% warga Israel, menurut media Ibrani Maariv, menginginkan kelanjutan perang melawan Lebanon. Alasannya adalah mereka memahami bahwa Hezbollah masih menjadi ancaman besar, dan militer pendudukan gagal menahannya.
Narasi Kemenangan yang Runtuh
Setelah lebih dari dua tahun genosida di Jalur Gaza, Hamas masih bertahan, dan berbagai kelompok perlawanan Palestina lainnya juga belum dikalahkan.
Di Lebanon, Israel memang berhasil membunuh sebagian besar pimpinan senior Hezbollah, tetapi gagal memberikan pukulan yang menentukan. Dampak terbesar justru terjadi pada perubahan politik dalam pemerintahan Lebanon setelah serangan tahun 2024.
Di Iran, aliansi AS–Israel dua kali membunuh sejumlah tokoh penting, namun tetap gagal mengalahkan negara tersebut. Statistik yang diklaim Israel terkait penghancuran rudal disebut tidak berdasar.
Meskipun kepemimpinan di Tel Aviv mengklaim kemenangan dalam setiap konflik, mereka juga mengakui bahwa “perang belum berakhir.” Ini menunjukkan kegagalan—karena jika benar menang, tidak perlu ada perang berikutnya.
Satu-satunya hal yang menyelamatkan Israel adalah adanya gencatan senjata, yang kemudian digunakan untuk merencanakan serangan berikutnya. Jika perang berlangsung total tanpa jeda, mereka akan kelelahan dan dipaksa menyerah.
Menjadikan Warga Sipil sebagai Sasaran
Setiap kali terjadi jeda pertempuran, Israel justru mengakhiri fase konflik dengan tindakan yang lebih agresif. Kali ini, setelah AS mengumumkan gencatan senjata sementara dua minggu, Israel memanfaatkan kesempatan itu untuk memusatkan serangan udara pada target sipil.
Genosida di Gaza bukan hanya didorong oleh keinginan balas dendam, tetapi juga sebagai pesan kepada rakyat Palestina dan kawasan. Ini merupakan upaya mempertahankan citra “daya tangkal” (deterrence) yang telah lama dibangun.
Israel disebut menghindari konfrontasi langsung dengan kelompok perlawanan Palestina karena biayanya tinggi, sehingga memilih menghancurkan infrastruktur dan rumah sakit sebagai target utama.
Di Lebanon, taktik serupa diterapkan, namun lebih kompleks karena kekuatan militer Hezbollah yang lebih besar. Israel disebut telah mengusir sekitar satu juta warga Lebanon, menghancurkan jembatan, dan meratakan kota serta permukiman.
Pembantaian massal warga sipil di Beirut juga disebut sebagai bagian dari strategi ini. Warga sipil di Gaza dan Lebanon dijadikan “sasaran pelampiasan”, dengan tujuan melemahkan moral masyarakat dan membalikkan dukungan mereka terhadap kelompok perlawanan. (*)
Penulis: Robert Inlakesh
Sumber: Al Mayadeen












