Search

Iran Tegaskan Kekuatan Rudal Tak Bisa Dibendung, Jenderal IRGC: Kemenangan 12 Hari Ungkap Salah Hitung Musuh

Komandan IRGC wilayah Teheran menegaskan bahwa kemampuan rudal Iran “tidak dapat dibatasi”, sambil menyebut bahwa musuh telah salah perhitungan dalam perang 12 hari tersebut. (Mehr News)

BERITAALTERNATIF – Komandan Pasukan IRGC Tehran, Brigadir Jenderal Hassan Hassanzadeh, menegaskan bahwa kemampuan rudal Iran adalah kekuatan yang “tidak dapat dibatasi”. Ia menyampaikan hal tersebut dalam Kongres Ilmiah, Budaya, dan Seni yang digelar untuk menghormati Komandan Syahid Hassan Tehrani Moghaddam—tokoh yang dikenal sebagai bapak program rudal Iran. Dalam acara itu, Hassanzadeh menjelaskan bahwa salah satu sumber utama kekuatan Iran saat ini adalah harapan rakyat terhadap masa depan dan kepercayaan mereka pada kemampuan pertahanan nasional.

Menurut Hassanzadeh, perang 12 hari yang dipicu agresi Israel telah berakhir dengan “kemenangan penuh dan terhormat” bagi bangsa Iran, Revolusi Islam, dan seluruh dunia Islam. Sebaliknya, ia menilai perang singkat namun intens tersebut menjadi salah satu kekalahan paling menyakitkan bagi musuh-musuh Iran, terutama bagi Amerika Serikat, rezim Israel, dan kekuatan arogan global lainnya yang selama ini berusaha melemahkan kemampuan pertahanan Republik Islam Iran.

Jenderal tersebut menjelaskan bahwa musuh sebelumnya berasumsi mampu mencegah dan menetralisasi kekuatan rudal Iran. Mereka menyangka dapat menghancurkan rudal di titik peluncuran, mencegatnya di tengah jalur terbang, serta mengendalikan proyektil yang mencapai wilayah pendudukan melalui sistem pertahanan udara global. Namun, menurut Hassanzadeh, seluruh perhitungan itu terbukti keliru ketika rudal-rudal Iran berhasil mencapai sasaran strategis tanpa dapat dihentikan oleh sistem pertahanan lawan.

Ia menegaskan bahwa semangat perjuangan dan keberanian Syahid Tehrani Moghaddam masih hidup dalam diri para pemuda Iran, khususnya di tubuh Angkatan Dirgantara IRGC. Spirit itu, kata Hassanzadeh, adalah sesuatu yang tidak akan pernah mampu dipahami oleh para musuh Iran. “Dalam doktrin Tehrani Moghaddam, kekalahan tidak memiliki tempat. Baginya hanya ada dua hasil: kemenangan atau kesyahidan,” ujar sang komandan.

Agresi Israel pada 13 Juni menjadi pemicu awal konflik. Saat itu, Israel melancarkan serangan terang-terangan terhadap Iran, padahal Washington dan Tehran sedang berada dalam proses negosiasi nuklir. Serangan tersebut memicu perang selama 12 hari yang menewaskan sedikitnya 1.064 orang di Iran, termasuk sejumlah perwira militer penting, ilmuwan nuklir, serta warga sipil.

Amerika Serikat kemudian ikut menyerang dengan membombardir tiga lokasi nuklir Iran, tindakan yang dipandang sebagai pelanggaran berat terhadap hukum internasional. Namun, respons Iran berlangsung cepat dan terkoordinasi. Angkatan Bersenjata Iran melancarkan serangan balasan terhadap lokasi-lokasi strategis di wilayah pendudukan Palestina dan menyerang pangkalan udara Al-Udeid di Qatar—pangkalan terbesar AS di Asia Barat.

Pada 24 Juni, Iran melalui operasi pembalasan yang terukur berhasil menghentikan agresi kedua pihak tersebut dan memaksakan gencatan serangan. Pemerintah Iran menyatakan bahwa keberhasilan itu merupakan bukti bahwa kemampuan pertahanan Iran tidak hanya bertahan tetapi juga mampu melumpuhkan perhitungan strategis musuh.

Dalam pernyataan terpisah pada Minggu, Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi mengatakan bahwa kemampuan pertahanan Iran saat ini jauh lebih kuat dibandingkan sebelum perang Juni. Ia menegaskan bahwa Iran telah mengambil pelajaran penting dari konflik tersebut sehingga memiliki kesiapan lebih tinggi untuk menghadapi kemungkinan perang baru.

Araghchi menekankan bahwa peningkatan kemampuan itu sendiri sudah menjadi faktor utama pencegah terjadinya konflik berikutnya. “Jika perang serupa terjadi lagi, kami jauh lebih siap untuk merespons. Kesiapan ini adalah elemen terpenting dalam mencegah pecahnya perang baru,” katanya. Ia juga menyoroti fakta bahwa empat dekade sanksi tidak pernah mampu mematahkan ketahanan bangsa Iran atau mengurangi kemampuan strategisnya.

Menurutnya, seluruh pengalaman dan tekanan yang dialami Iran selama bertahun-tahun justru memperkuat ketahanan nasional dan membuat Iran mampu mempertahankan stabilitas di tengah berbagai upaya tekanan politik dan ekonomi dari luar negeri. (*)

Sumber: Mehr News
Penerjemah dan Editor: Ali Hadi Assegaf

 

Bagikan

Kunjungi Berita Alternatif di :

BACA JUGA

POPULER BULAN INI
INDEKS BERITA