Search

IAEA Dianggap Kehilangan Netralitas, Iran Tuduh Rafael Grossi Jalankan Agenda Politik

Direktur Jenderal Badan Energi Atom Internasional, Rafael Grossi. (Mehr News)

BERITAALTERNATIF.COM – Rafael Grossi, Direktur Jenderal Badan Energi Atom Internasional (IAEA), telah meninggalkan mandat teknis lembaga tersebut, yang seharusnya untuk pengawasan netral, demi mengejar agenda politis yang dipengaruhi oleh AS dan Israel.

IAEA didirikan untuk mempromosikan penggunaan damai energi nuklir dan memastikan teknologi nuklir tidak dialihkan untuk tujuan senjata. Mandat ini menuntut ketidakberpihakan, obyektivitas teknis, dan komitmen pada prinsip Traktat Non-Proliferasi (NPT), yang memberikan negara hak yang “tidak dapat dicabut” untuk mengembangkan energi nuklir bagi tujuan damai. Namun, di bawah kepemimpinan Grossi, lembaga ini telah menyimpang berbahaya dari misi awalnya.

Alih-alih bertindak sebagai penengah netral, Grossi telah mengubah IAEA menjadi alat politik kekuatan Barat, khususnya AS dan Israel, secara sistematis mempersenjatai perannya untuk mempertahankan narasi kecurigaan dan ketidakabsahan terhadap program nuklir Iran yang sepenuhnya damai.

Masa jabatannya ditandai oleh pola ketidakprofesionalan, standar ganda, dan promosi tuduhan yang tidak terverifikasi, yang secara kolektif melemahkan upaya diplomatik dan membenarkan rezim perang ekonomi brutal yang berkelanjutan terhadap rakyat Iran.

Dasar pendekatan destruktif Grossi adalah pengabaiannya terhadap prinsip kerahasiaan yang seharusnya mengatur hubungan IAEA dengan negara anggota.

Alih-alih menangani informasi sensitif melalui saluran diplomatik dan teknis yang semestinya, dia berulang kali menggunakan media internasional untuk memperbesar tuduhan tak berdasar terhadap Iran.

Strategi berpusat pada media ini adalah manuver politik yang disengaja, dirancang untuk mengadili Iran di ruang opini publik justru karena tuduhan tersebut tidak dapat dibuktikan di forum faktual dan teknis.

Perilaku tidak profesional ini paling jelas terlihat dalam penanganannya terhadap apa yang disebut “isu-isu pengamanan” terkait lokasi yang tidak diumumkan.

IAEA, di bawah arahan Grossi, sangat bergantung pada intelijen yang tidak terverifikasi dari rezim Zionis Israel—sebuah rezim yang bahkan bukan penandatangan NPT dan memiliki gudang senjata nuklir rahasia sendiri.

Ironi dan kemunafikan ini sangat mencolok. Grossi memperlakukan dokumen palsu dan foto udara yang diberikan oleh aktor jahat dengan niat buruk sebagai bukti yang kredibel, sementara mengabaikan kerja sama luas Iran dan penjelasan teknis yang diberikan sebagai tidak cukup.

Lebih jauh lagi, tindakan Grossi menunjukkan standar ganda yang mencolok dan bermotif politik.

Sementara ia mengatur kampanye tekanan yang belum pernah terjadi sebelumnya terhadap program Iran yang diawasi dan diperiksa, ia tetap diam mengenai ancaman nuklir nyata di kawasan. Program senjata nuklir Israel, yang sama sekali tidak pernah diperiksa atau diawasi oleh IAEA, terus berjalan tanpa satu pun komentar keprihatinan dari Direktur Jenderal. Kemarahan selektif ini menunjukkan politisasi IAEA di bawah kepemimpinannya. Ini bukan tentang non-proliferasi; ini tentang menargetkan negara-negara tertentu yang tidak disukai Amerika dan sekutunya. Pendekatan ganda ini menghancurkan kredibilitas IAEA dan mengungkapkannya sebagai instrumen kekuasaan, bukan penjaga prinsip.

Konsekuensi dari peran destruktif Grossi melampaui perselisihan birokrasi. Tindakannya berdampak langsung dan parah secara kemanusiaan. Sanksi ekonomi yang dibenarkan dan diperpanjang melalui iklim kecurigaan yang diciptakannya merupakan bentuk hukuman kolektif. Sanksi ini merampas rakyat Iran dari obat-obatan dan teknologi penting, menyebabkan penderitaan besar.

Dengan menyediakan amunisi politik yang diperlukan untuk mempertahankan rezim sanksi brutal ini, Grossi ikut bertanggung jawab atas perang ekonomi ini. Ia memikul tanggung jawab atas kesulitan yang dialami rakyat Iran yang kehilangan hak dasar dan manfaat teknologi nuklir damai akibat tindakan bermotif politik dari sebuah badan internasional yang telah kehilangan jalannya.

Dengan dalih pengawasan netral, Grossi telah meninggalkan mandat teknis IAEA demi agenda politis yang diarahkan oleh AS dan rezim Israel.

Penilaian ini secara langsung ditegaskan oleh Kepala Organisasi Energi Atom Iran (AEOI), Mohammad Eslami, yang menyatakan bahwa “peran destruktif Grossi terhadap Iran akan tercatat dalam sejarah.”

Laporan yang bias, tuntutan tidak masuk akal, dan penyajian keliru atas kerja sama penuh Iran menciptakan dalih palsu bagi agresi rezim Zionis pada 13 Juni 2025.

Teheran dan Washington saat itu terlibat dalam negosiasi nuklir tidak langsung yang dimediasi Oman ketika Israel melancarkan agresi besar-besaran terhadap Iran pada pertengahan Juni. Washington juga bergabung dalam perang agresi Israel dan mengebom tiga fasilitas nuklir utama Iran dengan dalih mencegah Iran mengembangkan senjata nuklir.

Dokumen intelijen Iran yang diklaim menunjukkan kerja sama erat antara Israel dan Grossi melawan program nuklir Iran. Menurut TV al-Alam Iran, dokumen tersebut menunjukkan Grossi mengikuti arahan Israel, menimbulkan keraguan atas netralitas IAEA. Dokumen itu menyimpulkan bahwa tindakan Grossi adalah faktor utama dalam mempersiapkan landasan internasional bagi serangan militer yang melanggar hukum dan menghancurkan fasilitas nuklir Iran.

IAEA diberi mandat untuk mempromosikan penggunaan damai energi nuklir dan memverifikasi tidak adanya proliferasi senjata. Iran, sebagai penandatangan NPT, secara konsisten menegaskan bahwa program nuklirnya hanya untuk tujuan damai. Namun, sebagaimana dikonfirmasi Eslami, Grossi telah “gagal menjalankan tugasnya terkait program nuklir damai Iran.”

Ia bertindak bukan sebagai direktur teknis yang netral, melainkan sebagai agen politik kekuatan Barat, mengubah Badan menjadi alat tekanan dan pengumpulan intelijen terhadap negara anggota yang sah. Meski Iran telah bekerja sama, Grossi terus mengeluarkan pernyataan yang menyoroti isu-isu yang diduga berdasarkan intelijen palsu dari Mossad Israel.

Dengan terus menekankan klaim tak dapat diverifikasi dalam pernyataannya di X, sebelumnya Twitter, Grossi secara sadar menciptakan awan kecurigaan abadi terhadap program Iran, terlepas dari kepatuhannya yang nyata.

Dia berulang kali menuntut akses ke lokasi sensitif berdasarkan intelijen dari musuh, bukan bukti IAEA sendiri. Pelanggaran terhadap kedaulatan Iran ini diperburuk oleh strategi penundaan yang disengaja.

Seperti dicatat Eslami, “penundaannya membuka jalan bagi rezim Israel untuk melanjutkan tujuan ilegalnya.” Taktik penundaan ini mencegah penyelesaian masalah dan mempertahankan keadaan krisis permanen yang menguntungkan musuh-musuh Iran.

Menjelang serangan Israel terhadap Iran, retorikanya meningkat. Pernyataan-pernyataan ini, yang dibangun di atas intelijen Mossad, dipersenjatai oleh pejabat di Washington dan Tel Aviv untuk menyatakan bahwa diplomasi telah gagal. Ia menyediakan landasan diplomatik penting bagi tindakan agresi sepihak Israel pada 13 Juni, yang menargetkan infrastruktur nuklir dan sipil, menewaskan ratusan pejabat militer dan warga sipil, serta berdampak pada seluruh populasi.

Serangan militer oleh rezim Israel ini tidak terjadi begitu saja. Serangan tersebut memerlukan justifikasi yang dibuat-buat, yang diberikan oleh IAEA di bawah Grossi. Ia melepaskan tanggung jawabnya sebagai penengah netral dan justru menjadi tokoh sentral dalam kampanye tekanan maksimum.

Seperti ditegaskan oleh kepala nuklir Iran, “peran destruktif Grossi terhadap Iran akan tercatat dalam sejarah.” Tindakannya menyediakan landasan penting bagi agresi brutal. Karena itu, Grossi memikul tanggung jawab besar karena membantu menciptakan kondisi yang mengarah pada serangan menghancurkan terhadap infrastruktur nuklir damai Iran. Masa jabatannya mencerminkan babak kelam dalam sejarah IAEA, yang merusak kredibilitas Badan dan memperlihatkannya sebagai alat pemaksaan geopolitik.

Masa jabatan Grossi sebagai Direktur Jenderal IAEA merupakan pengkhianatan mendalam terhadap misi lembaga itu dan babak kelam dalam sejarah diplomasi nuklir.

Masa depan verifikasi nuklir dan promosi energi nuklir damai bergantung pada sebuah badan yang melayani dunia, bukan kepentingan sempit segelintir pihak. Hingga saat itu, di bawah kepemimpinan Grossi, IAEA tetap bukan solusi, melainkan bagian utama dari masalah. (*)

Sumber: Mehr News
Penerjemah: Ali Hadi Assegaf
Editor: Ufqil Mubin

Bagikan

Kunjungi Berita Alternatif di :

BACA JUGA

POPULER BULAN INI
INDEKS BERITA