Search

Haidir: IKA Febis Unikarta Harus Jadi Ruang untuk Saling Menguatkan dan Mengembangkan

Alumni Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unikarta, Haidir. (Dok. Berita Alternatif)

BERITAALTERNATIF.COM – Alumni Fakultas Ekonomi dan Bisnis (Febis) Universitas Kutai Kartanegara (Unikarta), Haidir, menilai organisasi alumni tidak semestinya hanya menjadi wadah untuk mempertemukan lulusan dengan almamater.

Menurutnya, ikatan alumni harus mampu membangun hubungan timbal balik antara alumni dan fakultas sekaligus memperkuat jejaring antarsesama alumni.

Hal tersebut disampaikan Haidir saat membahas pentingnya keberadaan Ikatan Keluarga Alumni (IKA) Febis Unikarta dalam mendukung kemajuan fakultas dan perkembangan para alumninya.

Dia mengatakan setidaknya terdapat dua hubungan timbal balik yang perlu dibangun melalui organisasi alumni.

Pertama, hubungan antara alumni dan fakultas. Ketika alumni memberikan kontribusi maksimal kepada fakultas, maka kemajuan fakultas pada akhirnya juga akan memberikan dampak positif terhadap nama besar para alumni.

“Ketika alumni berkontribusi maksimal kepada fakultas, maka fakultasnya akan menjadi besar. Nah, fakultas yang menjadi besar, maka ia akan memberikan dampak bagi nama besar alumni,” ujarnya kepada awak media Berita Alternatif di Kantor DPRD Kukar pada Sabtu (3/10/2026).

Karena itu, ia menilai hubungan alumni dan almamater tidak dapat dilihat hanya dari satu arah, seolah-olah alumni dituntut untuk terus memberikan kontribusi kepada fakultas tanpa melihat kontribusi balik yang dapat diberikan oleh fakultas kepada alumninya.

Haidir menegaskan, kemajuan dan reputasi sebuah perguruan tinggi pada akhirnya juga dapat meningkatkan nilai dan reputasi lulusan yang berasal dari institusi tersebut.

Dia mencontohkan Universitas Trisakti. Perkembangan reputasi perguruan tinggi tersebut tidak terlepas dari kontribusi para alumninya.

“Ketika kontribusi alumninya maksimal, maka Trisakti mendapat nama besar sebagai salah satu universitas favorit. Alumni-alumni yang hidup di masa Trisakti itu belum punya nama sebesar sekarang ini akhirnya ter-upgrade posisinya,” katanya.

Jejaring Alumni untuk Saling Menguatkan

Ia mengatakan hubungan dalam organisasi alumni tidak cukup hanya berbicara mengenai kepentingan fakultas dan kepentingan individual alumni.

Menurutnya, terdapat hubungan ketiga yang tidak kalah penting, yakni hubungan antarsesama alumni.

Haidir menilai jejaring alumni harus mampu menjadi ruang untuk membantu alumni, terutama mereka yang baru menyelesaikan pendidikan atau baru memasuki dunia profesional dan belum memiliki fondasi ekonomi maupun karier yang mapan.

“Yang kedua bahwa ikatan alumni ini juga tidak hanya bisa dilihat sebagai satu feedback antara alumni dengan fakultas, tetapi juga jejaring yang bisa dibangun untuk bagaimana memastikan, memperjuangkan alumni-alumni yang mungkin baru purna, yang notabene biasanya belum memiliki pondasi ekonomi kehidupan yang mapan,” jelasnya.

Dalam kondisi tersebut, jejaring alumni diharapkan dapat menjadi sistem pendukung bagi alumni yang sedang membangun karier.

Dukungan tersebut, kata dia, tidak selalu harus berupa bantuan material. Lebih jauh, dukungan dapat diberikan melalui pembukaan akses terhadap jaringan kerja, informasi, kesempatan profesional, maupun ruang-ruang lain yang memungkinkan alumni berkembang.

“Jangan hanya dilihat bahwa kepentingan alumni dengan fakultas itu adalah kepentingan hanya alumni dengan diri sendiri, fakultas, tapi alumni dan juga sesama alumni,” tuturnya.

Ia berpendapat, komunikasi dan silaturahmi yang terbangun secara konsisten akan membuka ruang bagi para alumni untuk terus meningkatkan kapasitas diri.

Pengembangan Alumni Tidak Berhenti setelah Lulus

Haidir menekankan bahwa proses pengembangan seorang mahasiswa seharusnya tidak dianggap selesai ketika yang bersangkutan menyelesaikan pendidikan di perguruan tinggi.

Menurutnya, setelah lulus, alumni tetap membutuhkan ruang untuk meningkatkan kemampuan, memperluas jaringan, dan beradaptasi dengan perkembangan dunia kerja.

“Silaturahmi dan komunikasi itu penting untuk menciptakan ruang-ruang bagi para alumni untuk meng-upgrade dirinya,” katanya.

Dia menilai organisasi alumni dapat menjadi salah satu instrumen untuk memastikan proses pengembangan tersebut terus berjalan.

Dengan jejaring yang kuat, alumni dapat saling bertukar pengalaman, pengetahuan, peluang, serta memberikan dukungan kepada lulusan yang menghadapi tantangan dalam perjalanan kariernya.

“Tidak tuntas bahwa pengembangan itu pada saat hanya belajar, tapi setelah selesai itu juga ada jaminan-jaminan perkembangan alumni itu terus ter-upgrade,” ujarnya.

Ia menambahkan, semakin kuat kapasitas alumni yang dibangun melalui jejaring tersebut, semakin besar pula peluang mereka untuk kembali memberikan kontribusi kepada almamater dan sesama alumni.

Kontribusi Alumni Perlu Dilihat dari Berbagai Faktor

Dalam kesempatan tersebut, Haidir juga menyoroti persoalan kompetensi alumni ketika memasuki dunia kerja.

Saat disinggung lulusan dari perguruan tinggi tertentu yang ketika masuk ke ruang kerja menghadapi persoalan karena kompetensinya belum sepenuhnya sesuai dengan kebutuhan dunia praktis, dia menegaskan, persoalan tersebut tidak dapat serta-merta disimpulkan sebagai bentuk ketidakmampuan alumni.

Ada berbagai faktor yang dapat memengaruhi kemampuan seseorang dalam beradaptasi di lingkungan kerja, termasuk kebutuhan dunia usaha, kebijakan pemerintah, kondisi ekonomi, serta situasi sosial yang berkembang di masyarakat.

“Posisi-posisi ketidakmampuan mengadaptasi di lingkungan itu banyak ditentukan oleh berbagai faktor, kebijakan, baik kebijakan pemerintah pusat, pemerintah daerah, maupun situasi kondisi umum yang terjadi di tengah masyarakat,” jelasnya.

Karena itu, ia mengingatkan agar penilaian terhadap kontribusi atau kinerja alumni tidak dilakukan berdasarkan dugaan semata.

Menurutnya, diperlukan data yang memadai untuk mengetahui kondisi alumni secara objektif. “Tidak bisa kita menyimpulkan bahwa ketika dianggap tidak berkontribusi, posisinya sejauh mana, kemudian faktor-faktor eksternal yang memengaruhi kinerja alumni itu sejauh mana, itu harus diukur,” tegasnya.

Haidir menilai organisasi alumni perlu memiliki database yang baik, melakukan pendataan, serta menjalankan survei yang memadai untuk mengetahui kondisi para alumni.

Dengan data tersebut, organisasi alumni dan fakultas dapat mengetahui kebutuhan alumni, persoalan yang mereka hadapi, serta bentuk dukungan yang benar-benar diperlukan.

“Kalau menduga-duga ini spekulasi. Tentu harus ada database, kemudian harus ada pendataan, survei yang memadai untuk memberikan kesimpulan,” tegasnya.

Alumni di Posisi Strategis Harus Membuka Ruang

Haidir juga menjelaskan pentingnya peran alumni yang telah menempati posisi strategis, baik di pemerintahan maupun sektor swasta.

Menurutnya, alumni yang memiliki posisi dalam pemerintahan dapat memberikan kontribusi melalui kebijakan maupun program yang membuka ruang kerja sama dengan almamater.

Sementara alumni yang berada di sektor swasta dapat membawa fakultas masuk ke berbagai kegiatan perusahaan, seperti kerja sama pendidikan, kegiatan profesional, pengembangan sumber daya manusia maupun program lainnya.

“Peran alumni yang mungkin punya posisi penting, misalnya dalam policy, segala macam, dapat membuat kebijakan-kebijakan. Peran alumni yang misalnya berada di posisi swasta, maka ia bisa menarik fakultas itu dalam banyak momen-momen kegiatan perusahaan,” ungkapnya.

Dia menekankan, posisi strategis yang dimiliki alumni seharusnya tidak hanya memberikan manfaat kepada individu yang bersangkutan.

Ada tanggung jawab moral untuk membuka ruang bagi alumni lainnya, terutama alumni yang lebih muda.

Senior dan Junior Harus Saling Menguatkan

Ia menegaskan pentingnya hubungan antara alumni senior dan junior. Alumni yang telah memiliki kapasitas, pengalaman, dan posisi yang lebih kuat diharapkan memiliki beban moral untuk membantu meningkatkan kapasitas alumni lainnya.

Bentuknya tidak selalu berupa bantuan finansial. Hal yang lebih penting adalah menciptakan ruang dan akses agar alumni lain dapat berkembang.

“Sesama alumni juga harus ada saling mem-backup antara senior dan junior. Harus ada cerita, ada panutan, ada harapan yang diberikan oleh jejaring alumni itu kepada masing-masing alumni,” katanya.

Haidir menilai alumni yang telah memiliki kapasitas perlu mengambil peran dalam membantu junior maupun alumni yang sedang menghadapi situasi sulit.

“Setiap alumni itu yang memiliki kapasitas punya beban moril untuk bagaimana meng-upgrade para junior ataupun alumni-alumni yang pada saat ini menghadapi situasi-situasi yang mungkin butuh uluran tangan, bukan dalam artian material, tapi ruang-ruang kerja yang diciptakan,” jelasnya.

Dia menjelaskan, prinsip tersebut menjadi bagian penting dari makna sebuah ikatan alumni. Jika tidak ada hubungan timbal balik, perhatian, dan rasa saling memiliki, organisasi alumni berpotensi hanya menjadi wadah formal tanpa ikatan yang kuat.

“Kalau tidak, maka ikatan itu tidak menjadi ikatan, bisa jadi semu. Namanya ikatan berarti ada hubungan, ada saling memperhatikan, saling memberikan rasa saling memiliki. Layaknya persaudaraan jadinya,” pungkas Haidir. (*)

Penulis: Ahmad Rifa’i
Editor: Ufqil Mubin

Bagikan

Kunjungi Berita Alternatif di :

BACA JUGA

This error message is only visible to WordPress admins

Error 400: API key not valid. Please pass a valid API key..

Domain code: global
Reason code: badRequest

Error: No videos found.

Make sure this is a valid channel ID and that the channel has videos available on youtube.com.

This error message is only visible to WordPress admins

Error 400: API key not valid. Please pass a valid API key..

Domain code: global
Reason code: badRequest

Error: No videos found.

Make sure this is a valid channel ID and that the channel has videos available on youtube.com.

POPULER BULAN INI
INDEKS BERITA