BERITAALTERNATIF.COM – Direktur Jenderal Badan Energi Atom Internasional (IAEA) Rafael Grossi kembali mengeluarkan pernyataan yang dinilai provokatif dengan menuntut akses ke semua fasilitas nuklir Iran, termasuk fasilitas yang baru-baru ini menjadi sasaran serangan dalam perang agresif Amerika Serikat dan rezim Zionis.
Menurut laporan, Grossi pada hari Jumat (29/8/2025) menegaskan bahwa inspeksi yang dilakukan badan internasional ini tidak bersifat “selektif”, dan ia kembali menuntut akses penuh ke seluruh fasilitas nuklir Iran.
Dia juga menyinggung keputusan tiga negara Eropa—Prancis, Jerman, dan Inggris—untuk mengaktifkan mekanisme snapback yang memungkinkan kembalinya sanksi PBB terhadap Iran.
Ia menyebut langkah itu sebagai keputusan politik, yang menurutnya harus dilihat dalam konteks tersebut.
Grossi menambahkan bahwa keputusan itu telah memulai sebuah proses 30 hari, dan dia berharap dalam periode itu ada kemajuan yang bisa dicapai.
Ia menekankan bahwa bagi IAEA, prioritas utama adalah dimulainya kembali inspeksi. Menurutnya, hal ini berkaitan dengan syarat yang diajukan oleh troika Eropa terkait perpanjangan tenggat waktu bagi Iran.
Menjawab pertanyaan soal kemungkinan kembalinya beberapa inspektur IAEA ke Iran setelah Teheran membatasi kerja sama akibat serangan Israel, Grossi mengatakan, kondisi memang berubah setelah 12 hari serangan. “Tetapi kerangka hukum tetap berlaku,” ucapnya.
Ia juga menuduh bahwa sebagai anggota Traktat Non-Proliferasi (NPT), Iran wajib mematuhi perjanjian pengamanan yang salah satunya mencakup inspeksi.
Grossi mengklaim bahwa Iran sebelumnya sempat menuntut perubahan aturan, namun IAEA menolak dan menegaskan kerangka hukum tidak akan diubah.
Meski begitu, dia mengatakan bahwa kekhawatiran Iran harus dipertimbangkan secara praktis agar prosedur pengawasan tidak terganggu.
Dengan nada yang dianggap angkuh, Grossi menegaskan, Iran tidak bisa berkata bahwa inspektur tidak boleh masuk ke situs seperti Natanz atau Isfahan hanya karena fasilitas itu telah diserang.
Sementara itu, Menlu Iran Abbas Araghchi sebelumnya menekankan bahwa inspektur hanya masuk ke Iran untuk keperluan teknis, seperti pergantian bahan bakar di Pembangkit Nuklir Bushehr, dan tidak ada rencana inspeksi terhadap fasilitas yang rusak akibat serangan.
Grossi juga menambahkan bahwa tidak ada aktivitas, bahkan aktivitas militer sekalipun, yang boleh menghalangi pelaksanaan inspeksi.
Dalam 12 hari perang terakhir, IAEA disebut telah melampaui peran pengawasan teknisnya. Lembaga ini dinilai menunjukkan kecenderungan berpihak pada kepentingan pihak yang bermusuhan dengan Iran, sehingga menimbulkan kekhawatiran serius di kalangan pembuat kebijakan dan lembaga keamanan Iran.
Sejumlah pengamat memperingatkan bahwa mengingat rekam jejak IAEA dalam berbagi informasi dengan pihak Barat serta keterlibatannya dalam pengumpulan data sensitif, maka tidak tepat bila aktivitas mereka hanya dipandang sebagai murni teknis.
Ada kemungkinan besar bahwa IAEA juga mengejar tujuan politik yang lebih luas, termasuk mengisi kekosongan intelijen, memperluas pengawasan, bahkan membuka jalan bagi langkah-langkah tidak langsung terhadap keamanan energi nuklir Iran. (*)
Sumber: Tasnim News
Penerjemah: Ali Hadi Assegaf
Editor: Ufqil Mubin












