BERITAALTERNATIF.COM – Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kabupaten Kukar terus menggencarkan operasi pasar keliling untuk membantu masyarakat mendapatkan kebutuhan pokok dengan harga terjangkau, di tengah dampak kekeringan yang melanda sejumlah wilayah.
Plt Kepala Disperindag Kukar, Burhanuddin, mengungkapkan bahwa operasi pasar keliling terakhir dilaksanakan di Kecamatan Muara Kaman bekerja sama dengan pihak setempat.
“Kegiatan ini dilakukan agar masyarakat bisa mendapatkan kebutuhan pokok dengan harga yang lebih terjangkau. Pelaksanaannya juga bekerja sama dengan pihak kecamatan setempat,” ujarnya, Selasa (22/9/2026).
Dia menjelaskan, barang yang dijual dalam operasi pasar antara lain minyak goreng, beras, dan gula, dengan pasokan beras dan beberapa komoditas lainnya berasal dari Bulog yang telah menjalin kerja sama dengan Disperindag Kukar.
“Kami menyiapkan transportasi, sementara teman-teman di lapangan yang melaksanakan distribusinya,” ungkapnya.
Sejalan dengan penjelasan Burhanuddin, Kepala Bidang Pemasaran Produk Dalam Negeri dan Pengendalian Barang Pokok Disperindag Kukar, Muhammad Bustani, memaparkan bahwa operasi pasar ke-54 telah dilaksanakan di Kedang Ipil, Kecamatan Kota Bangun Darat.
Bustani menjelaskan, dalam operasi tersebut, beras premium dijual seharga Rp 57.500 per kemasan 5 kilogram atau setara Rp 13.000 per kilogram, jauh di bawah harga pasaran yang mencapai Rp 19.000 hingga Rp 20.000 per kilogram. Sementara itu, minyak goreng dijual Rp 15.700 dan gula Rp 14.500 per kilogram.
Ia menambahkan, dalam satu titik operasi, pasokan beras bisa mencapai sekitar 2 ton, dengan pembatasan pembelian maksimal lima kemasan atau setara 25 kilogram per keluarga.
Adapun sasaran utama operasi pasar saat ini diarahkan ke wilayah hulu yang mengalami dampak kekeringan cukup parah, seperti Tabang dan Kembang Janggut, di mana kondisi sungai sudah mulai mengering, serta Kota Bangun yang permukaan sungainya juga sangat dangkal.
Menurutnya, program operasi pasar sejatinya dirancang untuk membantu masyarakat menjelang hari besar keagamaan sekaligus meredam dampak inflasi. Namun tahun ini, arah program disesuaikan mengingat dampak kekeringan yang melanda sejumlah wilayah.
“Program ini sebenarnya dilaksanakan untuk membantu masyarakat pada hari-hari besar keagamaan agar menanggulangi dampak inflasi. Namun, tahun ini karena ada dampak kekeringan, pelaksanaannya kami arahkan kembali ke daerah-daerah yang membutuhkan,” jelasnya.
Terkait pasokan gas elpiji 3 kilogram, Disperindag berkoordinasi langsung dengan Pertamina, meski ketersediaannya masih bergantung pada stok yang ada.
Bustani mengakui masih ada daerah yang kebutuhannya belum sepenuhnya terpenuhi jika stok terbatas, namun untuk pelaksanaan terakhir kebutuhan gas 3 kilogram berhasil dipenuhi.
“Untuk wilayah kekeringan, jumlah pasokan kita tidak menetapkan secara kaku di angka 2 atau 3 ton, melainkan disesuaikan dengan kondisi lapangan, hasil koordinasi dengan kecamatan, serta kemampuan anggaran termasuk dana subsidi ongkos angkut yang tersedia,” pungkasnya. (Adv)
Penulis: Arif Rahmansyah
Editor: Devi Nila Sari











