BERITAALTERNATIF – Pemerintahan Presiden Amerika Serikat Donald Trump dilaporkan tengah menyiapkan dorongan baru untuk melakukan pergantian rezim di Kuba. Langkah ini muncul kurang dari satu bulan setelah pencopotan paksa presiden Venezuela, dengan mengandalkan perang ekonomi dan upaya destabilisasi internal untuk meruntuhkan sistem politik di Havana.
Menurut para pejabat Amerika Serikat yang dikutip oleh The Wall Street Journal pada hari Rabu, Washington menargetkan terwujudnya “pergantian rezim” di Kuba sebelum akhir tahun ini. Hal itu dilakukan meskipun Amerika Serikat memiliki catatan panjang kegagalan dalam upayanya melawan negara kepulauan tersebut, serta adanya risiko besar terjadinya bencana kemanusiaan di sana.
Para pejabat itu mengatakan bahwa kepercayaan diri mereka bertumpu pada dua perkembangan utama. Pertama adalah apa yang mereka sebut sebagai “serangan bedah” pada 3 Januari yang berujung pada penculikan dan penggulingan Presiden Venezuela Nicolas Maduro. Kedua adalah keyakinan bahwa ekonomi Kuba—yang selama ini sangat bergantung pada pasokan minyak dari Venezuela—sedang berada di ambang kehancuran tanpa dukungan tersebut.
Para analis intelijen Amerika Serikat mengklaim bahwa Kuba kini mengalami pemadaman listrik yang sering terjadi, serta kekurangan parah bahan pangan dan obat-obatan. Mereka juga menyebutkan bahwa hampir 90 persen penduduk Kuba hidup di bawah garis kemiskinan. Meski tekanan ini semakin berat, para pejabat mengakui bahwa hingga kini tidak ada rencana konkret untuk menjatuhkan pemerintahan Kuba yang berdiri sejak Revolusi 1959 yang dipimpin oleh Fidel Castro.
Sebagai gantinya, Gedung Putih disebut tengah berfokus pada upaya mengidentifikasi figur-figur di dalam struktur negara Kuba yang mungkin bersedia bekerja sama dengan kepentingan Amerika Serikat. Strategi ini meniru pola yang diterapkan di Venezuela, di mana seorang tokoh dari dalam pemerintahan disebut-sebut berbalik melawan Maduro.
Operasi tersebut berujung pada serangan militer ke Caracas yang menewaskan 32 tentara Kuba serta sekitar dua lusin anggota pasukan pengamanan Presiden Maduro.
Pada saat yang sama, Amerika Serikat meningkatkan perang ekonomi terhadap Kuba dengan memutus pasokan minyak dari Venezuela. Para ekonom memperingatkan bahwa Kuba bisa kehabisan bahan bakar hanya dalam hitungan minggu. Penyitaan kapal tanker minyak yang terkait dengan Venezuela oleh militer Amerika Serikat kini tampaknya tidak hanya bertujuan menghukum Caracas atas nasionalisasi industri minyaknya, tetapi juga untuk mencekik jalur energi utama Kuba.
The Wall Street Journal juga melaporkan adanya perbedaan pendapat di internal pemerintahan Amerika Serikat mengenai langkah selanjutnya. Kelompok garis keras, termasuk para pengasingan Kuba yang berbasis di Florida dan bersekutu dengan Trump, mendesak diakhirinya hampir tujuh dekade pemerintahan komunis secara agresif. Namun pihak lain menunjuk pada kegagalan invasi Teluk Babi serta embargo selama puluhan tahun—yang diberlakukan sejak 1962—sebagai bukti bahwa tekanan dan paksaan Amerika Serikat secara konsisten tidak pernah berhasil.
Meski menyadari bahaya memicu krisis kemanusiaan, Trump disebut memandang penggulingan kepemimpinan Kuba sebagai cara untuk mengamankan apa yang ia sebut sebagai warisan kebijakan luar negerinya, sekaligus melampaui Presiden John F. Kennedy yang gagal menyingkirkan Fidel Castro.
Para pejabat Amerika Serikat kini semakin terbuka menyuarakan sikap tersebut. Penjabat wakil menteri luar negeri Amerika Serikat, Jeremy Lewin, mengatakan bahwa Kuba “harus membuat pilihan untuk mundur atau memberikan kehidupan yang lebih baik bagi rakyatnya.” Sementara itu, Trump pada 11 Januari memperingatkan bahwa tidak akan ada lagi minyak atau dana dari Venezuela, dengan menulis, “Saya sangat menyarankan mereka untuk membuat kesepakatan, SEBELUM TERLAMBAT.”
Para pemimpin Kuba menolak mentah-mentah ancaman tersebut. Presiden Miguel Díaz-Canel menegaskan, “Tidak ada penyerahan diri atau kapitulasi, dan tidak ada bentuk pemahaman apa pun yang didasarkan pada paksaan atau intimidasi.” (*)
Sumber: Presstv.ir
Penerjemah dan Editor: Ali Hadi Assegaf












