BERITAALTERNATIF.COM – Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Pertanian (Faperta) Universitas Kutai Kartanegara (Unikarta) menggelar kegiatan Sekolah Tani sebagai upaya meningkatkan kapasitas mahasiswa agar mampu menjadi generasi muda pertanian yang kritis, inovatif, dan siap menghadapi berbagai tantangan sektor pertanian di masa depan.
Ketua BEM Faperta Unikarta, Muhammad Wirya, mengatakan kegiatan tersebut dirancang sebagai wadah pengembangan wawasan, pola pikir, dan kepemimpinan mahasiswa di bidang pertanian.
Menurutnya, mahasiswa pertanian tidak cukup hanya memahami teori di ruang kuliah, tetapi juga harus memiliki kepekaan terhadap persoalan nyata yang dihadapi sektor pertanian.
“Tujuan utama Sekolah Tani ini adalah menjadi wadah pengembangan kapasitas, pola pikir, dan kepemimpinan mahasiswa agar mampu menjadi generasi muda pertanian yang kritis, inovatif, dan siap menghadapi tantangan sektor pertanian di masa depan,” ujarnya.
Kegiatan tersebut menghadirkan sejumlah narasumber dari berbagai latar belakang, di antaranya Dekan Faperta Unikarta, para dosen Faperta, Pemuda Tani Indonesia, Dinas Pertanian, serta Dinas Perkebunan.
Wirya menjelaskan, keterlibatan berbagai pihak itu diharapkan dapat memberikan perspektif yang komprehensif kepada peserta, mulai dari aspek akademik, kebijakan pemerintah, hingga praktik pertanian di lapangan.
“Mahasiswa perlu mendengar langsung pengalaman dan pandangan dari akademisi, pemerintah, dan praktisi agar wawasan mereka lebih luas,” katanya.
Sekolah Tani dilaksanakan selama tiga hari, yakni pada 15-17 Mei 2026, bertempat di Aula Serbaguna Dinas Pemuda dan Olahraga Kukar.
Lokasi tersebut dipilih karena dinilai representatif dan mampu menunjang pelaksanaan kegiatan yang melibatkan banyak peserta serta narasumber.
Dia menuturkan, penyelenggaraan Sekolah Tani dilatarbelakangi oleh keprihatinan terhadap berbagai tantangan pertanian yang semakin kompleks, baik di tingkat daerah maupun nasional.
Ia menyebut persoalan seperti krisis pangan, alih fungsi lahan, perubahan iklim, hingga rendahnya minat generasi muda terhadap sektor pertanian menjadi isu penting yang harus mendapat perhatian serius.
“Pertanian hari ini menghadapi banyak tantangan. Karena itu, generasi muda harus disiapkan agar memiliki pengetahuan, kepedulian, dan semangat untuk terlibat langsung dalam pembangunan sektor pertanian,” jelasnya.
Dalam pelaksanaannya, Sekolah Tani mengusung konsep pembelajaran yang interaktif dan partisipatif.
Kegiatan diisi dengan penyampaian materi, diskusi, berbagi pengalaman, serta pembelajaran yang berkaitan langsung dengan kondisi pertanian di lapangan.
Melalui rangkaian kegiatan tersebut, peserta diharapkan memperoleh pemahaman yang lebih luas mengenai isu pertanian, pangan, dan lingkungan.
Selain itu, mereka didorong untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis, membangun jiwa kepemimpinan, serta menumbuhkan kepedulian terhadap kondisi petani dan keberlanjutan pertanian di daerah.
“Harapan kami, setelah mengikuti Sekolah Tani, mahasiswa tidak hanya bertambah pengetahuannya, tetapi juga memiliki semangat untuk berkontribusi nyata dalam memajukan sektor pertanian,” tutupnya. (*)
Penulis: Ulwan Murtadho
Editor: Ufqil Mubin









