BERITAALTERNATIF.COM – Pengamat Timur Tengah Faisal Assegaf menilai serangan Amerika Serikat (AS) ke tiga fasilitas nuklir Iran baru-baru ini mengingatkan pada kesalahan besar Washington saat menginvasi Irak pada 2003.
Menurutnya, tuduhan bahwa Iran tengah mengembangkan senjata nuklir sama lemahnya dengan klaim senjata pemusnah massal Irak yang hingga kini tak pernah terbukti.
“Serangan Amerika kemarin itu seperti mengulang kesalahan ketika menginvasi Irak pada 2003. Amerika berbohong bahwa Saddam mengembangkan senjata pemusnah massal, tapi sampai sekarang tidak pernah terbukti. Dan kini Amerika menyerang tiga fasilitas nuklir Iran dengan alasan yang juga tidak berdasar,” ujar Faisal sebagaimana dikutip dari kanal YouTube Metro TV pada Senin (23/6/2025).
Dia menegaskan bahwa propaganda Barat soal program senjata nuklir Iran sejauh ini tidak pernah terbukti. “Tim inspeksi IAEA (Badan Energi Atom Internasional) sudah berkali-kali ke Iran dan tidak pernah menemukan bukti bahwa Iran mengembangkan senjata nuklir. Bahkan Direktur Komunitas Intelijen Nasional Amerika sendiri, Tulsi Gabbard, sudah menyatakan tidak ada bukti Iran memiliki bom nuklir,” katanya.
Terkait langkah balasan, Faisal menyebut Iran mempunyai empat opsi untuk merespons serangan AS tersebut: melanjutkan serangan ke Israel, yang sebagian sudah dilakukan; menutup Selat Hormuz, jalur penting pasokan energi dunia; menyerang pangkalan militer AS di Timur Tengah, dan keluar dari NPT (Perjanjian Non-Proliferasi Nuklir).
Iran terus melanjutkan serangan terhadap Israel, sehingga masih ada tiga pilihan yang belum diambil oleh Iran. Parlemen Iran sudah merekomendasikan ketiga opsi tersebut.
“Sekarang keputusan ada di tangan Ayatullah Ali Khamenei dan penasihat keamanannya, Ali Shamkhani,” jelasnya.
Namun, ia menekankan bahwa langkah Iran selanjutnya juga mempertimbangkan dampak ekonomi global, terutama jika Selat Hormuz benar-benar ditutup. “Pasokan energi dunia akan tersendat dan ini tentu sangat merugikan banyak pihak,” ujarnya.
Faisal menyimpulkan bahwa dunia kini menunggu apakah Iran akan menempuh opsi konfrontatif lainnya, atau tetap menahan diri demi kestabilan kawasan dan global. (*)
Penulis & Editor: Ufqil Mubin












