Search

Ali Larijani Kecam AS karena Ajukan Tuntutan Tak Realistis dalam Negosiasi Nuklir

Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, Ali Larijani. (Fars News)

BERITAALTERNATIF.COM – Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran Ali Larijani menyampaikan kritik terhadap Amerika Serikat yang dianggap menghalangi jalur diplomasi dengan tuntutan tak realistis terkait negosiasi nuklir.

Larijani menegaskan komitmen Teheran terhadap kebijakan dialog dan interaksi sebagai jalan penyelesaian masalah. Namun, dia menyatakan bahwa AS justru menghalangi kemungkinan pembicaraan dengan mengajukan tuntutan yang tidak realistis, termasuk pembatasan kekuatan militer Republik Islam.

Dalam tulisannya di platform X pada Selasa (2/9/2025), ia menegaskan bahwa Teheran tetap terbuka untuk berdialog dengan Washington, namun kebijakan Amerika telah merusak peluang negosiasi yang bermakna.

Teheran dan Washington sebelumnya telah menggelar lima putaran perundingan tidak langsung terkait program nuklir Iran, sebelum Israel melancarkan perang terhadap Republik Islam, termasuk serangan ke fasilitas nuklir Iran. Putaran keenam yang dijadwalkan berlangsung di Muscat, Oman, batal digelar akibat serangan Israel.

Sebagai balasan, Angkatan Bersenjata Iran meluncurkan kampanye militer yang belum pernah terjadi sebelumnya terhadap wilayah pendudukan. Namun alih-alih mengecam aksi teror itu, AS justru menyerang tiga fasilitas nuklir Iran—tindakan yang oleh Teheran disebut sebagai pengkhianatan terhadap diplomasi.

Berlawanan dengan klaim Presiden Donald Trump, sebuah laporan awal yang bocor dari Badan Intelijen Pertahanan Pentagon menyebut bahwa serangan militer AS terhadap tiga fasilitas nuklir Iran tidak menghancurkan komponen inti program nuklir negara itu, dan kemungkinan hanya menunda beberapa bulan saja.

Iran kemudian melancarkan serangan rudal besar-besaran ke Pangkalan Udara Al-Udeid di Qatar—markas militer Amerika terbesar di Asia Barat—sebagai balasan atas serangan tersebut.

Larijani menyebut jalur negosiasi dengan AS sebenarnya tidak tertutup. Namun, yang terjadi adalah Amerika hanya berpura-pura ingin berdialog tetapi tidak pernah benar-benar hadir di meja perundingan, lalu secara keliru menyalahkan Iran.

Sebaliknya, Iran mengupayakan negosiasi yang rasional. “Tetapi dengan mengajukan tuntutan tak realistis seperti pembatasan rudal, mereka justru menutup pintu pembicaraan,” tambahnya. (*)

Sumber: Fars News
Penerjemah: Ali Hadi Assegaf
Editor: Ufqil Mubin

Bagikan

Kunjungi Berita Alternatif di :

BACA JUGA

POPULER BULAN INI
INDEKS BERITA