Search

Agresi Israel-AS terhadap Sekolah di Iran Selatan Tewaskan 165 Anak

Serangan AS-Israel terhadap Sekolah Dasar Shajareh Tayyebeh di Minab menewaskan 165 anak dan melukai hampir 100 lainnya, menurut pejabat setempat. (Presstv)

BERITAALTERNATIF –  Seorang pria berusia awal empat puluhan menatap sebuah tas sekolah berwarna merah muda yang berlumuran darah. Sambil memeluknya erat, ia mencium tas itu sebelum perlahan membuka dan membongkar buku-buku serta buku tulis di dalamnya.

Saat matanya menelusuri halaman-halaman tersebut, air mata menggenang dan tangisan pilu tak tertahankan keluar dari dirinya.

Putrinya termasuk di antara para korban dalam serangan teror AS-Israel pada Sabtu pagi yang menghancurkan Sekolah Dasar Perempuan Shajareh Tayyebeh di Minab, Provinsi Hormozgan.

Taheri, Jaksa Minab, mengonfirmasi jumlah korban yang mengerikan itu. “Kemarin pagi, menyusul serangan kriminal oleh Amerika dan rezim Zionis kriminal, sebuah sekolah dasar menjadi sasaran.

Sejauh ini, 165 anak telah gugur sebagai syahid dan hampir 100 lainnya terluka dalam serangan brutal ini, sebagian besar dari mereka adalah pelajar. Di antara para syahid juga terdapat staf pendidikan dan orang tua siswa.”

Sekolah dasar tersebut, yang sebelumnya dihiasi mural ceria dan ruang kelas penuh warna, kini berdiri sebagai bukti tak terbantahkan dari tindakan agresi yang disengaja dan brutal oleh Amerika Serikat dan Israel, yang merupakan pelanggaran terang-terangan terhadap hukum humaniter internasional.

Menyampaikan belasungkawa atas serangan kejam itu, Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyatakan, “Tragedi memilukan di Sekolah Dasar Shajarat Tayyibeh di Minab dan kesyahidan puluhan siswa tak berdosa akibat serangan pengkhianatan oleh agresor Amerika dan Zionis terhadap pusat-pusat sipil telah melukai hati seluruh rakyat Iran dan orang-orang merdeka di dunia.”

Pezeshkian menambahkan bahwa “tindakan tidak manusiawi dan brutal ini adalah halaman gelap lain dalam catatan panjang kejahatan para agresor terhadap tanah ini, yang tidak akan pernah terhapus dari ingatan sejarah bangsa kita.”

Anak-Anak yang Tewas

Serangan tersebut, yang dilakukan sebagai bagian dari agresi teror tanpa provokasi dan melanggar hukum oleh AS-Israel pada Sabtu, meratakan bangunan dua lantai itu hingga ke tanah. Lantai dasar digunakan sebagai sekolah untuk anak laki-laki dan lantai pertama sebagai sekolah perempuan.

Lokasi itu sepenuhnya bersifat sipil, hanya berfungsi sebagai tempat aman di mana anak-anak berkumpul untuk belajar dan bermain.

Segera setelah aksi teror itu, asap tebal terlihat membumbung dari dinding-dinding yang hangus, sementara puing-puing berserakan di jalan. Orang tua dan keluarga yang terpukul berkumpul di lokasi, sementara jeritan terdengar di seluruh area.

Di kota kecil Minab yang tenang, sekolah itu dikenal karena suasananya yang ceria, perabotan berwarna-warni, dan staf yang berdedikasi. Dinding-dinding sederhananya dihiasi karya seni anak-anak, dan sebuah ayunan berdiri di halaman, semuanya dirancang untuk menumbuhkan rasa gembira dan kenyamanan bagi para murid.

Namun, rasa bahagia itu lenyap dalam sekejap ketika serangan teroris AS-Israel menghancurkan sekolah dasar tersebut, memecah ketenangan dan meninggalkan pemandangan penuh kekacauan dan darah.

Juru bicara Kementerian Kesehatan Iran, Hossein Kermanpour, menulis di platform X bahwa pemboman sekolah itu merupakan “berita paling pahit” dari perang sejauh ini. “Tuhan saja yang tahu berapa banyak lagi jasad anak-anak yang akan mereka keluarkan dari bawah reruntuhan.”

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi dengan keras mengecam pembantaian puluhan anak sekolah tak berdosa dalam serangan AS-Israel tersebut.

“Bangunan yang hancur itu adalah sekolah dasar perempuan di selatan Iran. Tempat itu dibom di siang bolong, ketika dipenuhi murid-murid kecil,” tulisnya di platform media sosial X pada Sabtu malam, sambil mengunggah foto sekolah yang hancur.

Ia menutup pernyataannya dengan mengatakan, “Puluhan anak tak berdosa telah dibunuh hanya di lokasi ini saja.” Diplomat tertinggi Iran itu menegaskan bahwa kejahatan ini tidak akan dibiarkan tanpa hukuman.

Strategi Agresi yang Sistematis

Serangan terhadap Minab bukanlah insiden terpisah, melainkan bagian dari pola pelanggaran hukum humaniter internasional yang lebih luas oleh Amerika Serikat dan Israel.

Berdasarkan Konvensi Jenewa, serangan terhadap warga sipil secara tegas dilarang, dan Statuta Roma mengklasifikasikan tindakan yang disengaja seperti itu sebagai kejahatan perang.

Namun, Israel dengan dukungan Amerika secara terang-terangan melanggar hukum-hukum tersebut, memperluas agresi militernya yang tanpa henti di kawasan Asia Barat, mulai dari rakyat Iran, Palestina, hingga pihak-pihak lainnya.

Perserikatan Bangsa-Bangsa menempatkan Israel dalam “daftar hitam” negara-negara yang melakukan pelanggaran terhadap anak-anak dalam konflik bersenjata untuk tahun 2024 dan 2025.

Agresi sistematis Israel ini juga terlihat selama genosida dua tahun di Gaza, di mana menurut PBB, rata-rata satu kelas penuh anak-anak tewas setiap hari.

Agresi Israel juga tampak pada Juni tahun lalu, ketika rezim tersebut menargetkan rumah sakit, taman kanak-kanak, ambulans, dan rumah-rumah warga di Iran dalam perang 12 hari melawan Republik Islam.

Peristiwa di Minab kini menjadi simbol luka mendalam yang dirasakan masyarakat Iran. Bagi keluarga para korban, tragedi ini bukan sekadar angka statistik, melainkan kehilangan nyata yang akan membekas sepanjang hidup. Pemerintah Iran menegaskan bahwa tindakan tersebut akan dicatat sebagai bagian dari sejarah panjang agresi yang, menurut mereka, tidak akan pernah dilupakan. (*)

Sumber: Presstv
Penerjemah dan Editor: Ali Hadi Assegaf

 

 

 

Bagikan

Kunjungi Berita Alternatif di :

BACA JUGA

POPULER BULAN INI
INDEKS BERITA