Search

Tiga Kader HMI Tanjung Selor Disiram Bahan Bakar hingga Terbakar, Ellisa Wulan Oktavia Sampaikan Tiga Tuntutan

Fungsionaris Kohati Pengurus Besar HMI, Ellisa Wulan Oktavia. (Istimewa)

BERITAALTERNATIF.COM – Kekerasan terhadap kader Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) kembali mencederai wajah demokrasi Indonesia. Insiden memilukan yang terjadi di depan Mapolda Kalimantan Utara memantik reaksi keras dari kader HMI se-Indonesia, termasuk fungsionaris Kohati Pengurus Besar HMI, Ellisa Wulan Oktavia, yang menyuarakan kecaman keras dan seruan konsolidasi nasional atas tragedi tersebut.

Dalam rilisnya yang diterima media ini pada Kamis (17/7/2025), Ellisa menegaskan bahwa aksi demonstrasi yang dilakukan tiga kader HMI Cabang Tanjung Selor adalah aksi damai yang sah secara konstitusional. Namun, bukannya dilindungi, mereka justru menjadi korban kebrutalan. Ketiganya mengalami luka bakar serius akibat disiram bahan bakar oleh pihak yang belum diketahui secara resmi, dalam insiden yang diduga terjadi dalam konteks pengamanan aksi oleh aparat.

“Penyiraman bahan bakar yang mengakibatkan luka bakar serius pada saudara-saudara kami adalah tindakan biadab yang terjadi dalam situasi sangat tidak manusiawi. Aksi demonstrasi seharusnya dijaga, diberi ruang, bukan dibalas dengan kekerasan,” ujarnya.

Bagi Ellisa, kasus ini bukan hanya persoalan geografis atau lokalitas wilayah Badan Koordinasi Kalimantan Timur-Kalimantan Utara, tempat ia dan para korban berasal. Ini adalah soal nilai dan semangat perjuangan yang telah lama menjadi napas HMI. Dia menyebut bahwa kekerasan tersebut mencerminkan kegagalan negara dalam menegakkan prinsip-prinsip dasar demokrasi dan hak asasi manusia.

“Negara yang mengklaim dirinya demokratis semestinya memiliki aparat yang mampu membedakan antara kritik dan ancaman, antara oposisi moral dan kejahatan,” tegasnya.

Ia menyoroti bahwa ketegangan antara gerakan mahasiswa dan aparat keamanan bukanlah hal baru. Sudah lama relasi ini berada di titik rawan, namun negara terkesan abai dan tak pernah menyelesaikannya secara struktural. Menurutnya, aparat yang seharusnya menjaga ruang demokrasi justru seringkali berubah menjadi aktor represi terhadap aspirasi rakyat.

Ellisa menyatakan bahwa insiden di Tanjung Selor adalah alarm serius bagi seluruh kader HMI di Indonesia.

HMI, sambung dia, adalah organisasi struktural dan terintegrasi dari pusat hingga komisariat, sehingga luka yang dialami kader di Kalimantan Utara adalah luka bersama.

Dengan tegas, ia menyampaikan tiga tuntutan utama:

Pertama, kecaman keras terhadap tindakan represif aparat keamanan yang mengakibatkan luka bakar pada kader HMI Tanjung Selor.

Kedua, tuntutan terhadap pengusutan terbuka dan tuntas, dengan memastikan tidak ada impunitas terhadap pelaku.

Ketiga, dorongan untuk pemulihan medis dan psikologis secara penuh kepada para korban, yang harus ditanggung oleh negara sebagai bentuk tanggung jawab atas kegagalan sistemik keamanan publik.

Ia juga memberikan peringatan keras kepada pihak berwenang, bahwa jika tidak ada penyelesaian yang adil dan transparan, maka HMI akan mengonsolidasikan gerakan nasional di seluruh wilayah Indonesia.

Ellisa menegaskan bahwa HMI bukan organisasi reaktif, tetapi juga bukan entitas yang akan diam saat kekerasan dilegitimasi. Bagi HMI, perjuangan adalah tanggung jawab moral dan ideologis, bukan sekadar reaksi spontan.

“Ini adalah panggilan bagi setiap kader HMI untuk tidak tunduk pada ketidakadilan, untuk tidak diam ketika rakyat disakiti, dan untuk terus menyuarakan kebenaran—meski dengan risiko yang tidak ringan,” tegasnya.

Sebagai kader perempuan yang juga sering turun dalam aksi, dia menyampaikan keprihatinan mendalam atas kerentanan yang dihadapi kader perempuan dalam ruang demokrasi yang semakin menyempit.

Ia menyerukan agar ruang gerakan mahasiswa tidak menjadi ruang yang menakutkan, terutama bagi kader perempuan.

“Gerakan ini seharusnya menjadi ruang aman bukan hanya untuk laki-laki, tetapi juga bagi setiap kader perempuan yang berdiri setara dalam perjuangan,” tulisnya.

Ellisa menutup pernyataannya dengan seruan yang kuat kepada seluruh kader HMI: agar insiden ini tidak hanya menjadi berita duka, tetapi momentum konsolidasi nasional untuk memperkuat kembali nilai-nilai perjuangan yang diwarisi HMI sejak awal berdiri.

“Hari ini, mungkin kita masih menjadi saksi. Tapi besok, bisa jadi kita adalah korban. Ketika suara dibalas kekerasan, maka diam bukan lagi pilihan,” tutupnya. (*)

Editor: Ufqil Mubin

Bagikan

Kunjungi Berita Alternatif di :

BACA JUGA

POPULER BULAN INI
INDEKS BERITA