Search

PUISI-PUISI HERI MAJA KELANA

Heri Maja Kelana (Istimewa)

Sophie

 

di ruang aksara,

sophie melangkah

hatinya penuh tanya tanpa henti

“siapa aku?” bisik angin di telinga,

pertanyaan pertama yang menyala

 

di balik tirai waktu

Ia temukan jejak para leluhur

heraklitos berkata, “segalanya mengalir,”

parmenides berseru, “keabadian takkan luntur.”

 

plato dan guanya penuh bayangan,

mencari kebenaran di kegelapan

aristoteles hadir dengan logika,

semesta dalam tata yang nyata

 

sophie berjalan,

membawa hidup dengan rangkaian pertanyaan

apa arti keberadaan?

apa arti kebebasan?

apa arti cinta?

 

namun di balik itu, ia tersadar

dunia ini, mungkin hanya lembaran gambar

membisikkan rahasia

kita, hanyalah bagian dari cerita

 

sophie tersenyum dan melangkah

membawa pertanyaan

 

Oh Kastela

:maskur tomagola

 

di ujung timur

benteng Kastela, berdiri diam

di tanah penuh rempah dan darah

kisah perjuangan menguar dari setiap celah

 

dibangun dengan batu dan dendam penjajah

menjadi saksi sejarah yang begitu megah

namun di dindingnya tersimpan luka

teriakan rakyat yang tak pernah sirna

 

angin membawa harum cengkih dan pala

aroma perjuangan dan air mata

benteng kastela, kokoh berdiri

abadi, meski banyak terjadi tragedi

oh kastela

Pasar Tomohon

 

langkah terhenti, hiruk menyeruak

aroma tajam amis berlapis

mata menatap,

tak paham arah

 

di tengah pesar

aku seperti daging tergantung

:diam

 

Di Tepi Tondano

 

di tepi Tondano aku berdiri

sepi mengalir, angin menyapu wajah

 

airnya danau memantulkan langit yang biru

gunung-gunung tak bersuara

“keindahan ini perangkap sementara?”

mata menatap riak yang tenang

 

aku hilang arah,

berjalan tanpa peta,

melintas di tepi dan langit tondano

namun tanpa balas,

hatiku peluk alam yang dingin

terus memanggil-manggil

namun jawabannya tak pernah ada

 

antara langkah dan tatapan yang tertahan

tondano, penuh cerita

meninggalkan kekalutan yang indah

 

Melangkah ke Pulau Rote Ndao

 

di ujung selatan, tempat matahari bersinar lembut

pulau rote ndao menunggu

menantang jiwa yang rindu

 

kaki menapaki pasir yang hangat,

laut menyapa, membawa cerita orang-orang desa

 

segelas sopi, tradisi penuh kenangan

tersimpan sejarah, berpadu dengan senyum mistik

perempuan bermata laut

 

sambil melihat matahari tenggelam pelan,

kami berbicara cinta, anak-anak sekolah tanpa gedung

tanpa sepatu dan topi di kepalanya

tapi mereka punya warna dan cita-cita

:mencari bahagia

 

di pulau rote ndao, di ujung selatan, tempat matahari bersinar lembut

aku belajar bagaimana cinta tumbuh bersama senyum anak-anak

 

*) Heri Maja Kelana, menulis berupa puisi, esei, resensi film dipublikasikan di media lokal maupun nasional di antaranya, Pikiran Rakyat, Bali Post, Lampung Post, Republika, Media Indonesia, Kompas, Seputar Indonesia, Radar Banten, Priangan, Majalah Esastra Malaysia, Majalah Bahana Brunei, Majalah Sastra Pawon, Jurnal Deras, Rurnal Rakata, Majalah Sastra Horison, basabasi.co, dll. Serta tergabung dalam Antologi Puisi seperti Kutaraja Banda Aceh, Tanah Pilih (Temu Sastrawan 1), Pedas Lada Pasir Kuarsa (Temu Sastrawan 2), Tangga Menuju Langit (MPU 3), Antologi Puisi Pertemuan Penyair Nusantara 3 Malaysia, Wajah Deportan, Antologi puisi Menulis Puisi Kembali MSB, Antologi puisi di Kamar Mandi (penulis muda Jawa Barat) Antologi Disbudpar Jawa Barat, Akulah Musi (Pertemuan Penyair Nusantara 5) dll.

Sekarang tinggal dan mengelola Rumah Baca Taman Sekar Bandung, Jalan Sukarajin 2 Gg. Muslimin  Bandung. Antologi Puisi Pertamanya “Lambung Padi” terbit tahun 2013, “Postingan Instagram” terbit tahun 2019, Journey to Bandung Purba (Catatan Reading Group Bandung Purba) terbit tahun 2017.

Bagikan

Kunjungi Berita Alternatif di :

BACA JUGA

POPULER BULAN INI
INDEKS BERITA