Sophie
di ruang aksara,
sophie melangkah
hatinya penuh tanya tanpa henti
“siapa aku?” bisik angin di telinga,
pertanyaan pertama yang menyala
di balik tirai waktu
Ia temukan jejak para leluhur
heraklitos berkata, “segalanya mengalir,”
parmenides berseru, “keabadian takkan luntur.”
plato dan guanya penuh bayangan,
mencari kebenaran di kegelapan
aristoteles hadir dengan logika,
semesta dalam tata yang nyata
sophie berjalan,
membawa hidup dengan rangkaian pertanyaan
apa arti keberadaan?
apa arti kebebasan?
apa arti cinta?
namun di balik itu, ia tersadar
dunia ini, mungkin hanya lembaran gambar
membisikkan rahasia
kita, hanyalah bagian dari cerita
sophie tersenyum dan melangkah
membawa pertanyaan
Oh Kastela
:maskur tomagola
di ujung timur
benteng Kastela, berdiri diam
di tanah penuh rempah dan darah
kisah perjuangan menguar dari setiap celah
dibangun dengan batu dan dendam penjajah
menjadi saksi sejarah yang begitu megah
namun di dindingnya tersimpan luka
teriakan rakyat yang tak pernah sirna
angin membawa harum cengkih dan pala
aroma perjuangan dan air mata
benteng kastela, kokoh berdiri
abadi, meski banyak terjadi tragedi
oh kastela
Pasar Tomohon
langkah terhenti, hiruk menyeruak
aroma tajam amis berlapis
mata menatap,
tak paham arah
di tengah pesar
aku seperti daging tergantung
:diam
Di Tepi Tondano
di tepi Tondano aku berdiri
sepi mengalir, angin menyapu wajah
airnya danau memantulkan langit yang biru
gunung-gunung tak bersuara
“keindahan ini perangkap sementara?”
mata menatap riak yang tenang
aku hilang arah,
berjalan tanpa peta,
melintas di tepi dan langit tondano
namun tanpa balas,
hatiku peluk alam yang dingin
terus memanggil-manggil
namun jawabannya tak pernah ada
antara langkah dan tatapan yang tertahan
tondano, penuh cerita
meninggalkan kekalutan yang indah
Melangkah ke Pulau Rote Ndao
di ujung selatan, tempat matahari bersinar lembut
pulau rote ndao menunggu
menantang jiwa yang rindu
kaki menapaki pasir yang hangat,
laut menyapa, membawa cerita orang-orang desa
segelas sopi, tradisi penuh kenangan
tersimpan sejarah, berpadu dengan senyum mistik
perempuan bermata laut
sambil melihat matahari tenggelam pelan,
kami berbicara cinta, anak-anak sekolah tanpa gedung
tanpa sepatu dan topi di kepalanya
tapi mereka punya warna dan cita-cita
:mencari bahagia
di pulau rote ndao, di ujung selatan, tempat matahari bersinar lembut
aku belajar bagaimana cinta tumbuh bersama senyum anak-anak
*) Heri Maja Kelana, menulis berupa puisi, esei, resensi film dipublikasikan di media lokal maupun nasional di antaranya, Pikiran Rakyat, Bali Post, Lampung Post, Republika, Media Indonesia, Kompas, Seputar Indonesia, Radar Banten, Priangan, Majalah Esastra Malaysia, Majalah Bahana Brunei, Majalah Sastra Pawon, Jurnal Deras, Rurnal Rakata, Majalah Sastra Horison, basabasi.co, dll. Serta tergabung dalam Antologi Puisi seperti Kutaraja Banda Aceh, Tanah Pilih (Temu Sastrawan 1), Pedas Lada Pasir Kuarsa (Temu Sastrawan 2), Tangga Menuju Langit (MPU 3), Antologi Puisi Pertemuan Penyair Nusantara 3 Malaysia, Wajah Deportan, Antologi puisi Menulis Puisi Kembali MSB, Antologi puisi di Kamar Mandi (penulis muda Jawa Barat) Antologi Disbudpar Jawa Barat, Akulah Musi (Pertemuan Penyair Nusantara 5) dll.
Sekarang tinggal dan mengelola Rumah Baca Taman Sekar Bandung, Jalan Sukarajin 2 Gg. Muslimin Bandung. Antologi Puisi Pertamanya “Lambung Padi” terbit tahun 2013, “Postingan Instagram” terbit tahun 2019, Journey to Bandung Purba (Catatan Reading Group Bandung Purba) terbit tahun 2017.












