Search

Pernyataan Lengkap Ustadz Mukhlisin Turkan saat Bersilaturahmi dengan DPW ABI Kaltim, DPD ABI Kukar, dan Muslimah ABI Kukar

Silaturahmi dan Diskusi Ketua Departemen Humas, Media, dan Penerangan DPD ABI, Ustadz Mukhlisin Turkan, dengan DPD ABI Kukar dan Pimcab Muslimah ABI Kukar di Yayasan Abu Dzar Al-Ghifari Kukar pada Rabu, 11 Februari 2026. (DPD ABI Kukar)

BERITAALTERNATIF.COM – Ketua Departemen Humas, Media, dan Penerangan (HMP) Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Ahlulbait Indonesia (ABI), Ustadz Mukhlisin Turkan, mengadakan kunjungan, silaturahmi, dan diskusi di Yayasan Abu Dzar Al-Ghifari Kukar pada Rabu (11/2/2026) sore.

Kegiatan tersebut dihadiri oleh Ketua Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) ABI Kaltim, Sayyid Thoriq Assegaff; Sekretaris ABI Kaltim, Ahmad Fauzi; Ketua Departemen Pengembangan Organisasi DPW ABI Kaltim, Tamrin, dan Wakil Departemen HMP DPW ABI Kaltim, Ustadz Muhammad Makhtum.

Pertemuan ini juga dihadiri oleh Ketua Dewan Pimpinan Daerah ABI Kukar, Mas’ud, beserta jajarannya; dan Ketua Pimcab Muslimah ABI Kukar, Elly Asry Achmad, dan pengurusnya.

Pada kesempatan tersebut, Ustadz Mukhlisin, menyampaikan landasan gerakan ABI dari tingkat pusat, wilayah, hingga daerah. Berikut pernyataan lengkapnya:

Ada satu hal yang ingin saya sampaikan kepada rekan-rekan sekalian. Mungkin kita semua pernah bertanya—atau setidaknya dalam hati kita pernah terlintas pertanyaan—mengapa kita tiba-tiba siap dan bersedia hadir menjadi pengurus ABI? Menjadi pengurus Muslimah, Pandu, atau ABI Responsive? Padahal kita tahu, tidak ada imbalan materi yang dijanjikan. Tidak ada pula imbalan berupa status sosial atau jenjang karier politik yang menanti di depan.

Kita semua sadar, menjadi pengurus di sini tidak menjanjikan kekayaan, tidak menjanjikan kedudukan sosial, bahkan tidak menjanjikan popularitas di tengah masyarakat maupun komunitas kita sendiri. Justru sering kali yang terjadi adalah sebaliknya: penguruslah yang lebih banyak berkorban.

Kalau dipikir secara logika duniawi, seharusnya sulit mencari pengurus dalam kondisi seperti ini. Karena hampir tidak ada “harapan” dalam pengertian materi atau karier yang bisa ditawarkan. Di banyak organisasi lain, orang bersedia menjadi pengurus karena berharap naik jabatan, memperoleh pengaruh, atau mendapatkan keuntungan tertentu. Tetapi di sini tidak demikian.

Ini sesuatu yang luar biasa. Bahkan sering disampaikan oleh Ketua Umum DPP ABI, Ustadz Zahir Yahya, bahwa fenomena seperti ini mungkin sulit ditemukan di tempat lain: pengurus yang berkorban secara finansial, waktu, tenaga, bahkan pikiran—tanpa mengharapkan timbal balik materi.

Menurut pandangan pribadi saya, ini tidak bisa dijelaskan semata-mata secara rasional. Ini karena cahaya Rasulullah saw dan cahaya Imam Zaman. Kerinduan dan kecintaan kita kepada kemunculan beliau-lah yang membuat kita hadir dan berkhidmat. Bukan sekadar dengan pikiran, tetapi dengan seluruh jiwa. Bahkan, jika diperlukan, nyawa pun mungkin akan kita korbankan untuk itu.

Kecintaan dan harapan kita terhadap kemunculan Imam Zaman begitu besar, sehingga setiap peristiwa besar sering kita tafsirkan sebagai tanda kedekatan kemunculan beliau: peperangan, bencana besar, gugurnya tokoh-tokoh perlawanan, syahidnya para pejuang Islam. Para ulama pun ada yang mengatakan bahwa berbagai peristiwa ini bisa menjadi isyarat kedekatan kemunculan Imam Zaman.

Namun, dari sekian banyak peristiwa yang terjadi bertahun-tahun lamanya, Imam tetap dalam keadaan gaib. Ini memberi kita pelajaran penting: peristiwa-peristiwa itu bisa jadi merupakan isyarat, tetapi bukan syarat utama.

Isyarat bisa datang dan pergi. Tetapi kemunculan Imam terkait dengan terpenuhinya syarat-syarat tertentu. Artinya, sekalipun berbagai peristiwa besar terjadi, jika syarat itu belum terpenuhi, maka kemunculan belum terjadi. Sebaliknya, meskipun peristiwa-peristiwa besar tidak tampak, ketika syarat itu terpenuhi, maka kemunculan akan terjadi.

Maka pertanyaannya bukan hanya: “Apakah tanda-tanda sudah muncul?” Tetapi yang lebih penting: “Apakah kita sudah menjadi bagian dari syarat itu?”

Bisa jadi, kesediaan kita menjadi pengurus tanpa pamrih, berkhidmat tanpa imbalan, berkorban tanpa perhitungan duniawi—itulah bagian dari proses memenuhi syarat tersebut. Mempersiapkan diri, membangun komunitas yang sadar, memperkuat barisan, membersihkan niat, dan meluruskan orientasi perjuangan.

Karena penantian sejati bukan sekadar menunggu tanda, tetapi menyiapkan diri agar layak menyambut.

Dan itulah yang harus dimiliki oleh kita semua: kesiapan kolektif. Kesiapan untuk menerima rida Allah, kesiapan menjawab kerinduan masyarakat, dan kesiapan mempersiapkan diri menyambut kehadiran Imam Zaman. Karena itu kita membaca Doa Al-Faraj—di malam Jumat dan setiap waktu—memohon agar Allah menghadirkan Al-Mahdi bukan hanya dengan izin-Nya, tetapi juga dengan kerelaan dan kesiapan umat-Nya.

Imam Zaman tidak akan hadir dengan mukjizat instan untuk menghancurkan kezaliman. Beliau hadir untuk memperbaiki dunia melalui proses, perjuangan, dan kesiapan umat yang berjalan bersamanya. Seandainya perubahan cukup dengan mukjizat, maka tragedi para Imam—terutama Imam Ali, Imam Hasan, dan Imam Husain—tidak akan pernah terjadi. Namun faktanya, mereka dibiarkan sendirian oleh umatnya.

Imam Ali as yang seharusnya memimpin umat justru menggali sumur dan bekerja di kebun karena umat tidak siap berdiri bersamanya. Imam Hasan as dikhianati dan ditinggalkan. Pola ini terus berulang hingga Imam ke-12. Karena itulah Allah tidak mengizinkan tragedi yang sama terulang. Hujjatullah terakhir disembunyikan, bukan karena beliau tidak penting, tetapi karena umat belum siap menjaganya.

Maka pertanyaan kita hari ini bukan lagi soal tanda-tanda kemunculan, tetapi: apakah kita sudah siap secara iman, sosial, finansial, dan struktural? Apa peran kita sebelum tirai itu dibuka? Apa tanggung jawab kita di zaman ini agar Imam tidak kembali dibiarkan sendirian?

Justru orang yang paling sibuk memikirkan umat hari ini adalah Al-Mahdi. Imam Mahdi tidak pasif. Beliau mempersiapkan dirinya untuk diterima oleh umatnya. Beliau juga mempersiapkan kondisi ketika kelak hadir, agar kerelaan dan kesiapan kolektif umat itu benar-benar telah tersedia.

Sebagaimana para kakeknya membimbing umat melalui orang-orang pilihan, Imam pun membimbing melalui orang-orang yang memiliki kriteria tertentu. Ketika masa para wakil khusus berakhir, Imam telah memberikan pedoman: jika kalian tidak menemukanku secara langsung, maka rujuklah kepada orang-orang yang memiliki sifat, nilai, dan kriteria tertentu. Itu adalah sistem bimbingan. Itu adalah mekanisme penjagaan umat.

Artinya, sebelum kemunculan pun, Imam sudah menyiapkan syarat-syaratnya. Melalui orang-orang pilihan itu, umat diberi penjelasan, diberi informasi, diberi arah—agar umat siap. Agar “tawaan” itu siap. Agar kerelaan kolektif itu matang.

Namun di sini ada pelajaran penting: kealiman personal saja tidak cukup. Kedekatan individual kepada Allah, bahkan mencapai derajat makrifat sekalipun, tidak otomatis menghadirkan Imam. Sejarah menunjukkan, setelah syahidnya para Imam, banyak ulama besar, banyak karya lahir, banyak pemikiran tercipta—tetapi Imam tetap belum muncul.

Mengapa? Karena yang dituntut bukan hanya kesalehan individual, melainkan kesiapan komunal. Takwa kolektif. Kematangan sosial. Kekuatan bersama.

Contoh manusia yang mampu mempersiapkan itu dalam skala sejarah adalah Imam Khomeini dengan revolusinya. Revolusi itu bukan semata peristiwa politik, tetapi proyek mempersiapkan umat. Mempersiapkan dari sisi ekonomi, militer, keamanan, teknologi, dan kemandirian. Sehingga ketika Republik Islam berdiri, ia bukan sekadar milik bangsa Iran, tetapi simbol kesiapan para pengikut Ali bin Abi Thalib dalam menyambut kemunculan Imam Zaman.

Karena kemunculan Imam tidak bisa berdiri di ruang kosong. Ia membutuhkan kekuatan pendukung. Jangan sampai ketika Imam muncul, kita kembali mengulang sejarah: Imam hadir, tetapi kekuatan tidak siap; Imam bangkit, tetapi umat tidak mampu membela.

Ancaman terhadap para pemimpin perlawanan hari ini menunjukkan satu hal: jika ancaman itu berani diarahkan kepada mereka sekarang, apakah kita mengira ketika Imam muncul ancaman itu tidak akan ada? Ancaman pasti ada. Karena itu, kesiapan bukan hanya mempertahankan, tetapi juga memiliki daya tangkal.

Maka takwa itu bukan hanya soal spiritualitas personal. Bukan hanya memperbanyak doa, bukan hanya memutar tasbih di sudut masjid. Spiritualitas itu penting, tetapi harus melahirkan gerakan sosial, ekonomi, dan kekuatan struktural.

Persiapan menyambut Imam adalah persiapan seluruh dimensi kehidupan. Dan di sinilah relevansinya ketika kita ditunjuk menjadi pengurus di organisasi ini.

Ketika kita menerima amanah dan bahkan berkorban tanpa imbalan materi, niatkan dalam diri kita: ini bagian dari proyek mempersiapkan solidaritas umat, membangun kekuatan ekonomi, ketahanan sosial, jaringan, dan kesadaran.

Gerakan organisasi ini bukan sekadar struktur administratif. Ia adalah bagian dari ikhtiar mempersiapkan umat agar tidak lagi membiarkan Imam sendirian.

Karena penantian sejati bukan hanya menunggu, tetapi membangun kesiapan. Program-program yang direncanakan dalam RKAT, baik di tingkat pusat, wilayah, maupun otonom, semuanya berada dalam satu kerangka besar: mempersiapkan diri secara kolektif.

Memang sering muncul pertanyaan: “Program ini tidak cocok dengan wilayah kami.” “Program itu kurang relevan dengan kondisi daerah tertentu.”

Itu wajar. Karena sistem yang kita bangun adalah sistem persiapan yang bersifat universal. RKAT tidak mungkin menampung seluruh kebutuhan 149 DPD, 29 DPW, dan ratusan kondisi sosial yang berbeda. Jika semua kebutuhan lokal harus dituangkan secara detail dalam RKAT pusat, mungkin dokumennya bukan lagi puluhan lembar, tetapi ratusan bahkan ribuan halaman.

Karena itu, apa yang tertulis di RKAT adalah kerangka besar. Sementara kebutuhan-kebutuhan lokal yang sifatnya mendesak dan strategis, silakan dikembangkan di wilayah masing-masing. Selama itu memperkuat ketahanan umat, memperkuat solidaritas, dan memperkuat kesiapan kolektif—maka itu bagian dari tujuan besar kita.

Kita dipanggil bukan sekadar untuk menjalankan program administratif, tetapi untuk membangun masyarakat.

Lihatlah bagaimana Rasulullah saw membangun umat. Apakah beliau mendirikan yayasan formal? Apakah beliau membuat universitas seperti yang kita pahami hari ini? Tidak. Rasulullah membangun jaringan dan sistem. Dari beliau mengalir ke Ali bin Abi Thalib, ke Salman Al-Farisi, ke Abu Dzar, ke para sahabat yang menjadi poros di berbagai wilayah. Itu jaringan. Itu sistem. Itu gerakan komunal.

Ustadz Mukhlisin Turkan berfoto bersama DPW ABI Kaltim, DPD ABI Kukar, dan Pimcab Muslimah ABI Kukar. (DPD ABI Kukar)

Bukan sekadar mendirikan bangunan fisik di sana-sini, tetapi membangun manusia dan membangun keterhubungan antar-manusia. Dari pusat ke wilayah, dari wilayah ke daerah—satu poros, satu arah, satu visi.

Begitu pula organisasi ini. Dari pusat ke DPW, dari DPW ke DPD, dan seterusnya—ini satu gerak sosial yang komunal.

Banyak jalan menuju Allah swt, tetapi Islam sangat menekankan kebersamaan. Shalat berjamaah lebih utama daripada shalat sendirian. Doa yang diamini 40 orang lebih besar peluang dikabulkannya. Mengapa? Karena Allah menyukai kekuatan kolektif.

Ahlulbait mengajarkan jalan menuju Allah bukan hanya secara individual, tetapi juga secara sosial. Kita mempersiapkan kemunculan Imam Zaman bukan hanya dengan tasbih personal, tetapi dengan sistem, struktur, dan solidaritas yang nyata.

Karena itu, ketika antum semua meluangkan waktu—datang siang hari, menghadiri rapat, bertemu DPW, berdiskusi, menyusun program—jangan anggap itu kecil. Duduknya antum di ruangan ini bukan sesuatu yang sederhana. Ini bagian dari sistem persiapan.

Termasuk divisi-divisi yang mungkin terlihat teknis dan administratif—itu semua adalah bagian dari gerbang persiapan. Kita ingin menjadi umat yang berkata: “Kami siap.” “Kami rela.” “Kami bersatu.”

Dan ketika Imam melihat umatnya mampu bekerja secara komunal, membangun kekuatan bersama, membangun ketahanan ekonomi, sosial, dan organisasi—itulah makna kesiapan yang sesungguhnya. (*)

Penulis & Editor: Ufqil Mubin

Bagikan

Kunjungi Berita Alternatif di :

BACA JUGA

POPULER BULAN INI
INDEKS BERITA