Oleh: Asaranum Sila Safitri
Satu pesan muncul di beranda media sosial. Isinya terdengar mendesak: Lampung disebut telah berada dalam status Siaga III, air laut dikabarkan naik hingga 20 sentimeter, dan masyarakat diminta bersiap menghadapi ancaman tsunami. Dalam situasi ketika Gunung Anak Krakatau memang sedang menunjukkan aktivitas erupsi, informasi semacam itu tentu mudah memancing kekhawatiran.
Apa yang biasanya kita lakukan ketika menerima pesan seperti itu? Mencari sumbernya atau langsung membagikannya kepada keluarga dan teman karena merasa sedang memperingatkan mereka?
Pertanyaan tersebut terlihat sederhana, tetapi menjadi semakin penting di tengah kehidupan digital. Hari ini, seseorang hanya membutuhkan beberapa detik untuk menyebarkan informasi kepada ratusan bahkan ribuan orang. Sayangnya, kecepatan menyebarkan informasi tidak selalu diikuti dengan kecepatan memeriksa kebenarannya. Kita sering ingin menjadi yang pertama tahu, pertama berkomentar, bahkan pertama membagikan, sementara kebenaran justru datang belakangan.
Di sinilah ajaran Islam tentang tabayyun menemukan relevansinya. Allah Swt berfirman dalam QS. Al-Hujurat ayat 6: “Wahai orang-orang yang beriman! Jika seseorang yang fasik datang kepadamu membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya, agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena kebodohan (kecerobohan), yang akhirnya kamu menyesali perbuatanmu itu.”
Ayat tersebut hadir jauh sebelum manusia mengenal media sosial. Namun, pesan yang dibawanya terasa sangat dekat dengan kehidupan kita hari ini. Ketika sebuah informasi datang, Islam tidak mengajarkan kita untuk langsung mempercayainya. Ada proses yang seharusnya dilakukan sebelum percaya, menilai, dan menyebarkan: memastikan kebenarannya.
Pentingnya tabayyun dapat kita lihat dari peristiwa yang baru terjadi di Lampung. Pada September 2026, beredar unggahan di Facebook yang mengatasnamakan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) serta Gubernur Lampung. Narasi tersebut menyebut Lampung berada pada status Siaga III akibat kenaikan air laut hingga 20 sentimeter, disertai ancaman erupsi, gempa bumi, dan potensi tsunami.
Informasi itu sekilas terlihat masuk akal karena Gunung Anak Krakatau memang sedang mengalami aktivitas erupsi dan berstatus Level III atau Siaga. Namun, setelah diperiksa, BPBD Provinsi Lampung menegaskan bahwa informasi mengenai status Siaga III akibat kenaikan air laut, potensi tsunami, dan instruksi evakuasi yang mengatasnamakan BMKG serta Gubernur Lampung tersebut tidak benar.
Di sinilah persoalannya menjadi menarik. Sebuah informasi palsu tidak selalu tersusun sepenuhnya dari kebohongan. Terkadang ia mencampurkan fakta dengan informasi yang keliru sehingga terlihat meyakinkan. Gunung Anak Krakatau memang berstatus Siaga, tetapi bukan berarti seluruh narasi tentang kenaikan air laut dan ancaman tsunami yang beredar otomatis menjadi benar.
Tanpa tabayyun, batas antara fakta dan hoaks menjadi mudah kabur. Dalam situasi bencana, kesalahan informasi bahkan dapat menimbulkan dampak yang lebih serius. Masyarakat dapat panik, mengambil tindakan berdasarkan informasi yang salah, atau ikut menyebarkan kekhawatiran kepada orang lain. Pemerintah Provinsi Lampung sendiri saat itu meminta masyarakat tetap tenang, meningkatkan kewaspadaan, dan mengikuti informasi resmi. Berdasarkan keterangan Kepala Pos Pantau Gunung Anak Krakatau yang disampaikan pemerintah daerah pada 6 September 2026, saat itu tidak terdapat potensi tsunami.
Peristiwa tersebut menunjukkan bahwa tabayyun bukan sekadar konsep yang kita hafalkan dalam pelajaran agama. Ia merupakan sikap yang sangat dibutuhkan dalam kehidupan nyata.
Rasulullah saw juga pernah mengingatkan: “Cukuplah seseorang dianggap berdusta apabila ia menceritakan setiap apa yang ia dengar.” (HR. Muslim).
Hadis ini seolah menemukan konteks barunya di era media sosial. Hari ini, kita mungkin tidak menceritakan sebuah kabar dengan lisan, tetapi cukup menekan tombol share, forward, atau repost. Kita mungkin merasa tidak bertanggung jawab karena hanya meneruskan informasi dari orang lain. Kalimat seperti, “Saya cuma meneruskan,” atau “Saya dapat dari grup sebelah,” sering dianggap cukup untuk melepaskan tanggung jawab.
Padahal, ketika informasi itu berpindah melalui akun atau telepon kita, kita telah menjadi bagian dari rantai penyebarannya.
Inilah alasan tabayyun harus dipahami lebih luas. Tabayyun bukan hanya mencari tahu apakah sebuah berita benar atau salah. Tabayyun juga melatih manusia agar tidak terburu-buru menilai sesuatu.
Dalam kehidupan sehari-hari pun masalah yang sama sering terjadi. Kita mendengar cerita tentang seseorang dari orang lain, kemudian langsung mempercayainya. Kita melihat potongan video lalu merasa sudah memahami seluruh peristiwa. Kita membaca judul berita tanpa membaca isinya, kemudian ikut memberikan komentar. Bahkan terkadang kita lebih percaya kepada pesan yang berulang kali diteruskan daripada mencari keterangan dari sumber resmi. Padahal, kebenaran tidak ditentukan oleh seberapa sering sebuah informasi dibagikan.
Tantangan ini semakin besar karena teknologi terus berkembang. Foto dapat dimanipulasi, video dapat dipotong sehingga kehilangan konteks, dan kecerdasan buatan dapat menghasilkan gambar, suara, maupun video yang tampak meyakinkan. Pada kondisi seperti ini, melihat dan mendengar saja tidak selalu cukup. Kita membutuhkan kebiasaan untuk bertanya: siapa sumbernya, kapan informasi ini dibuat, apakah konteksnya benar, dan adakah sumber resmi yang dapat mengonfirmasinya?
Kadang-kadang, bentuk tabayyun yang paling sederhana adalah keberanian untuk berkata, “Saya belum tahu apakah ini benar.”
Sayangnya, kalimat sederhana itu semakin sulit diucapkan di ruang digital yang membuat semua orang seolah harus memiliki pendapat tentang segala sesuatu.
Allah Swt juga mengingatkan dalam QS. Qaf ayat 18: “Tidak ada suatu kata yang diucapkannya melainkan ada di sisinya malaikat pengawas yang selalu siap mencatat.”
Pada era digital, menjaga perkataan tidak lagi hanya berarti menjaga apa yang keluar dari lisan. Kita juga perlu menjaga apa yang diketik, dikomentari, diunggah, dan dibagikan. Jika dahulu sebuah kabar berjalan dari mulut ke mulut, kini ia dapat berpindah dari layar ke layar dalam hitungan detik. Karena itu, menjaga lisan hari ini juga berarti menjaga jempol.
Kita tentu tidak dapat menghentikan derasnya arus informasi. Namun, kita selalu dapat menentukan bagaimana bersikap terhadap informasi yang sampai kepada kita.
Maka, sebelum menekan tombol share, jangan hanya bertanya, “Apakah informasi ini penting untuk dibagikan?” Tanyakan pula, “Apakah informasi ini benar, apakah sumbernya jelas, dan apakah saya siap mempertanggungjawabkan apa yang saya sebarkan?”
Sebab satu sentuhan jari mungkin hanya membutuhkan satu detik, tetapi informasi yang salah dapat menimbulkan keresahan jauh lebih lama.
Di tengah dunia yang berlomba menyampaikan informasi secepat mungkin, tabayyun mengajarkan kita sesuatu yang justru sederhana: berhenti sejenak sebelum percaya, memeriksa sebelum menilai, dan memastikan sebelum menyebarkan.
Karena bagi seorang Muslim, menjaga kebenaran bukan hanya persoalan kecerdasan dalam menerima informasi. Ia juga merupakan bagian dari menjaga kehormatan, ketenangan, dan keselamatan sesama manusia. (*Mahasiswa Fakultas Agama Islam Unikarta)











