BERITAALTERNATIF.COM – “Minta tolong carikan orang yang mau beli ginjal,” kata NI yang sudah lebih dari 10 tahun terbaring di rumahnya.
Kalimat tersebut muncul karena selama bertahun-tahun dia telah menghabiskan waktu dan biaya untuk berobat sehingga tak lagi memiliki uang untuk membiayai proses penyembuhannya.
Pada 6 Agustus 2014, dia tertimpa musibah kecelakaan motor di Desa Soki, Kecamatan Belo, Kabupaten Bima, Provinsi Nusa Tenggara Barat.
Musababnya, setelah magrib, ia hendak pergi ke rumah pacarnya di Desa Soki. Sesampai di desa tersebut, motor Beatnya yang tak memiliki lampu berpapasan dengan sebuah motor Vixion yang dikendarai dua orang. Motor itu juga tak disertai lampu depan. Di tengah gelapnya malam, kedua motor itu saling bertabrakan.
NI terlempar beberapa meter hingga masuk ke dalam parit. Para saksi mata yang melihatnya mengira ia telah meninggal dunia sehingga beberapa orang tergerak untuk mendatangi rumah orang tua NI untuk memberitahukan bahwa pemuda yang kala itu berusia 24 tahun tersebut telah berpulang kehadirat Allah SWT.
Namun, setelah beberapa orang mengangkat dan menggerakkan tubuhnya, ternyata ia masih hidup. Lalu, dia dibawa ke Puskesmas Ngali. Tak lama setelah itu, ia dirujuk ke RSUD Kota Bima. Keadaannya tak kunjung membaik. Keluarganya kemudian memutuskan untuk mengobatinya di RSUD Provinsi NTB di Kota Mataram.
Selama sebulan, ia melewati masa-masa kritis. Tak sadarkan diri. Setelah dirawat di Mataram, dia dibawa kembali di RSUD Kota Bima. Di rumah sakit itulah ia mulai siuman.
Dirawat di Rumah
Saat dirawat di rumahnya, ingatannya belum benar-benar pulih. Terkadang, NI belum dapat mengetahui dengan jelas tempat di mana ia dirawat. Dia juga tak mengenali dengan baik rumahnya.
Kecelakaan itu memang mengakibatkan bagian kiri tubuhnya tak berfungsi dengan baik. Kaki kirinya bisa digerakkan, namun tak dapat menopang tubuhnya untuk berjalan. Sementara tangan kirinya, tak berfungsi lagi. Jari-jarinya mengalami kekakuan. Tak dapat digerakkan. Selain itu, mata kanannya tak dapat dibuka.
Ia beserta keluarganya tidak menyerah. Selama di rumahnya, dia dirawat jalan. Pada Februari 2015, ia melakukan CT Scan di RSUP Sanglah Denpasar, Bali. “Berdasarkan analisa dokter di rumah sakit, keadaan aku sekarang ini gejala sisa dari kecelakaan itu. Istilah medisnya begitu,” katanya.
Merujuk CT Scan di RSUD Provinsi NTB, bagian otaknya tak terganggu. Hanya ada benjolan kecil di otak kirinya. Namun, tak perlu dioperasi. Benjolan itu bisa dihilangkan dengan obat.
Sementara kaki dan tangannya tak pernah diperiksa. Dokter bilang, kedua anggota tubuhnya itu hanya mengalami kekakuan. Tak diketahui pula apakah terdapat saraf yang putus atau tidak. Rontgen yang dilakukannya hanya untuk tulang. Tulang-tulangnya pun tak terganggu.
Matanya juga pernah diperiksa berkali-kali. Pihak rumah sakit menyarankan agar matanya dioperasi. Namun, tindakan itu tak pernah diambil.
Keluarganya memutuskan untuk menghentikan pengobatan modern karena terkendala biaya. Ia pun mengikuti pengobatan alternatif. Pria ini pernah dibawa ke sejumlah ahli pengobatan di Desa Sakuru, Kecamatan Monta; Desa Soki, Kecamatan Belo; hingga Kabupaten Dompu. Namun, tak ada perubahan yang berarti.
“Jadi, aku hentikan pengobatan alternatif. Sesekali ada sih yang nyuruh minum ini dan minum itu, tapi enggak pernah aku ikuti. Kalau pengobatan alternatif, aku hanya mau diobati langsung oleh orangnya. Itu pun orang yang dipilih. Istilahnya sudah terbukti kemampuannya,” jelasnya.
Perasaan yang Bercampur
Melewati hari-hari di rumah tanpa disertai gerakan yang berarti bukanlah hal yang mudah bagi NI. Ia yang dulu mampu bergerak, berjalan, hingga berlari tiba-tiba harus pasrah melewati hari-harinya di rumah.
“Rasanya itu berat. Perasaan aku bercampur aduk. Kadang ada perasaan sedih sih saat enggak ada orang yang menemani duduk di rumah. Apalagi kalau mati lampu. Televisi dan handphone jadul ini enggak bisa berfungsi. Di situlah kadang muncul perasaan sedih. Jadi, harus menyemangati diri sendiri,” ujarnya.
Pada tahun kedua hingga ketiga setelah kecelakaan itu, karena terdorong rasa kecewa dan frustrasi, kadang-kadang dia berteriak sendiri, melempar handphone dan piring sehingga kaca lemari rumahnya pecah.
“Tahun 2017 itu mulai hilang rasa kecewa dan frustrasi. Enggak lagi berontak gitu. Kondisi aku juga mengalami perubahan. Dulu, kalau mau ke WC itu harus diangkat orang lain. Sekarang bisa sendiri karena WC-nya ada di rumah,” jelasnya.
Seiring berjalannya waktu, NI mulai pasrah dengan mendekatkan diri kepada Yang Maha Kuasa. Selain salat lima waktu, ia membekali diri dengan zikir. Setiap bulan puasa ia juga mengkhatamkan Alquran.
Di balik itu, ia berdoa dan bermunajat kepada Allah agar diberikan kesembuhan. Di dalam benaknya masih tersimpan keyakinan bahwa suatu saat nanti dia akan sembuh.
Ia menyimpan keinginan untuk berobat. Namun, dia harus menunggu uluran tangan dari orang tua, saudara-saudara, dan orang-orang terdekatnya. Praktis, keluarganya hanya dapat menunaikan harapan tersebut setelah masa panen bawang tiba.
“Maklum, kita ini kan hanya petani bawang. Kadang ada hasilnya. Ya, lebih banyak gagalnya,” ucapnya.
Ia tak menyangkal, proses pengobatannya yang lamban karena terkendala biaya. NI tidak juga menafikan perlunya bantuan dari pemerintah pusat hingga pemerintah daerah.
“Harapannya dengan bantuan itu bisa sembuh. Mengingat umur juga kan masih muda. Bantuan seperti itu dibutuhkan karena kita ini masyarakat dengan ekonomi lemah,” katanya. (*)
Penulis: Ufqil Mubin












