BERITAALTERNATIF.COM – Pada suatu hari, banyak orang berkumpul di sekeliling-Nya, dan mereka kembali kelaparan. Yesus memanggil para murid-Nya dan berkata, “Aku merasa iba kepada orang banyak ini, sebab mereka telah bersamaku selama tiga hari dan tidak memiliki makanan. Jika Aku menyuruh mereka pulang dengan perut kosong, mereka akan pingsan di jalan, karena sebagian dari mereka datang dari tempat yang jauh.”
Para murid terkejut dan berkata, “Di tempat yang sepi seperti ini, di mana kita bisa mendapatkan cukup roti untuk memberi makan semua orang ini?”
Yesus bertanya, “Berapa roti yang kalian punya?” Mereka menjawab, “Tujuh.” Lalu Yesus menyuruh orang banyak duduk di tanah. Ia mengambil tujuh roti itu, mengucap syukur, memecahnya, dan memberikannya kepada murid-murid-Nya untuk dibagikan kepada orang-orang. Mereka juga menemukan beberapa ikan kecil. Ia memberkati ikan itu dan meminta agar juga dibagikan kepada orang banyak.
Semua orang makan sampai kenyang. Murid-murid mengumpulkan tujuh bakul berisi potongan-potongan roti yang tersisa. Jumlah mereka sekitar empat ribu orang. Setelah itu, Yesus menyuruh orang banyak itu pulang, lalu segera naik perahu bersama murid-murid-Nya menuju daerah Dalmanutha.
Orang Farisi Mencari Tanda
Ketika orang Farisi mendengar bahwa Yesus datang, mereka berkumpul untuk berdebat dengannya. Mereka mencobai-Nya dan meminta tanda dari langit untuk membuktikan otoritas-Nya.
Yesus menghela napas panjang dan berkata, “Mengapa generasi ini selalu meminta tanda? Sungguh, Aku katakan kepadamu, tidak akan ada tanda yang diberikan.”
Lalu Ia meninggalkan mereka, naik ke perahu, dan menyeberangi danau.
Ragi Orang Farisi dan Herodes
Namun para murid lupa membawa cukup roti; mereka hanya memiliki satu roti di perahu. Ketika mereka sedang berjalan di tepi danau, Yesus memperingatkan, “Waspadalah terhadap ragi orang Farisi dan ragi Herodes.”
Para murid pun mulai memperdebatkan soal itu karena mereka tidak membawa cukup roti. Mengetahui apa yang mereka bicarakan, Yesus berkata, “Mengapa kalian membicarakan soal tidak ada roti? Belum juga kalian mengerti? Apakah hati kalian begitu keras hingga tidak memahami? Kalian memiliki mata, tetapi tidak melihat; memiliki telinga, tetapi tidak mendengar. Tidakkah kalian ingat ketika Aku memberi makan lima ribu orang dengan lima roti? Berapa bakul sisa yang kalian kumpulkan?” Mereka menjawab, “Dua belas.”
Yesus berkata lagi, “Dan ketika Aku memberi makan empat ribu orang dengan tujuh roti, berapa bakul sisa yang kalian kumpulkan?” Mereka menjawab, “Tujuh.” Ia berkata, “Masihkah kalian belum mengerti?”
Sebuah Renungan Seorang Penulis Muslim
Aku seorang profesor universitas, seorang penulis Muslim dan direktur, tetapi sebagaimana aku menghormati Nabiku Muhammad, aku juga mencintai para nabi dan pemimpin agama lainnya, terutama Musa dan Yesus. Aku membaca kitab Taurat dan Injil, dan sering mengutipnya dalam kelas kepada para mahasiswa.
Sudah lama sejak aku menyaksikan upacara besar pelantikan penerusmu sebagai Paus di Roma. Meja-meja besar, pakaian mewah, dan ketenangan yang dimulai dari biara-biara sepi hingga berakhir di Roma.
Dalam Perjanjian Baru, aku mengenalmu, wahai Kristus, sebagai seorang yang tidak hanya merasa iba terhadap kelaparan dan kehausan manusia, tetapi juga bergerak dari kota ke kota untuk menyelamatkan mereka dari kelaparan.
Dan kini, pertanyaan ini tumbuh di benakku: jika engkau hadir hari ini di Vatikan, menggantikan Paus yang dihormati dan institusinya yang megah itu, apakah engkau—seperti penerusmu—hanya akan menulis pesan singkat yang tak berpengaruh di situs Vatikan pada pukul sembilan malam melalui para penasihatmu, lalu berdoa untuk rakyat Gaza yang disalib oleh para iblis di bawah patungmu, kemudian tidur nyenyak di tempat tidur mewah hingga pagi? Ataukah, sesuai dengan kisah Injil yang sama, engkau kini akan berlayar menuju Gaza untuk memberkati anak-anak yang kelaparan di sana?
Katakanlah padaku, mana yang benar—tulisan dalam Injilmu, atau tindakan penerusmu?
Jika penerusmu sungguh percaya pada Injilmu, ia seharusnya berada di tengah laut bersama kapal-kapal rombongan kemanusiaan itu.
Dengan berani aku katakan, bagiku, pria dan wanita pemberani di Armada Sumud Global inilah para penerus sejati Kristus—sama seperti aku tidak menganggap sebagian besar pemimpin negara-negara Islam sebagai pengikut sejati Nabi Muhammad dan Islam yang sebenarnya.
Sama seperti tindakan Netanyahu tidak dapat dikaitkan dengan Musa dan agama Yahudi, dan seperti Trump serta para pemimpin Barat lainnya tidak mencerminkan demokrasi dan kemanusiaan sejati.
Maka, wahai Kristus—kembalilah dan naiklah ke kapal bersama para pengikut kebenaran. (*)
Sumber: Mehr News
Penerjemah: Ali Hadi Assegaf
Editor: Ufqil Mubin












