Oleh: Ufqil Mubin*
Matahari pagi belum muncul dari balik bukit saat kami berdua, saya dan Abu, telah berada di sawah yang terletak di So Salongga, Desa Ncera, Kecamatan Belo, Kabupaten Bima, Provinsi Nusa Tenggara Barat.
Pagi itu, saya baru berusia sekitar 10 tahun. Di sawah yang luasnya sekira 700 meter persegi itu Abu menanam kacang tanah, yang telah mencapai 30 hari setelah tanam.
Di sela-sela kacang tersebut telah ditumbuhi bermacam-macam rumput, yang mesti dibersihkan sebelum ditaburi pupuk.
Saat bekerja di sawah, beliau biasanya menceritakan berbagai macam kisah kepada saya, umumnya kisah-kisah seputar kehidupannya di masa lalu, perang antardesa di Bima, sejarah Indonesia, politik Islam, dan perang dunia.
“Dulu, di sini pernah terjadi perang antara warga Desa Ncera dan Desa Sambori,” ucapnya sambil membersihkan rumput.
“Satu orang warga Sambori dipotong kupingnya oleh warga Ncera,” ungkapnya.
Saya mendengarnya dengan takjub.
“Warga Sambori akhirnya diusir. Mereka melarikan diri ke Sambori,” bebernya.
Saya kemudian menimpali, “Kenapa bisa berperang sesama Bima dan sesama Islam?”
Beliau terdiam sejenak lalu berkata, “Perang tidak mengenal sesama suku ataupun agama.”
Abu lalu memperluas jawabannya atas pertanyaan saya dengan mengisahkan perang antarnegara Islam di Asia Barat.
“Dulu juga ada perang antara Iran dan Irak. Mereka sesama negara Islam,” jelasnya.
Itulah pertama kali saya mendengar dua negara berpenduduk mayoritas Islam di Asia Barat. Kata Iran dan Irak melekat sangat kuat dalam ingatan saya bertahun-tahun kemudian.
Barangkali karena itu pula, pelajaran sejarah adalah pelajaran yang kerap saya ikuti dengan sangat serius di kelas saat duduk di sekolah dasar hingga perguruan tinggi.
***
Dua puluh empat tahun setelah kisah itu, saat Abu berada dalam kondisi sakit, beliau mengikuti dengan sangat intens perang Palestina dan Israel, yang mencapai puncaknya pada 7 Oktober 2023, yang ditandai dengan Badai Al-Aqsa.
“Sekarang perang di Timur Tengah semakin meluas,” kata saya membuka percakapan.
Abu terlihat mendengar dengan seksama.
“Iran sudah terlibat dalam perang,” saya menyambung pembicaraan.
“Iran itu negara yang sering membantu Palestina,” ucap Abu.
Satu kebiasaannya yang kerap saya perhatikan sejak kecil, barangkali karena pengaruh buku-buku yang kerap dibacanya saban hari, atau mungkin karena kedekatannya dengan Alquran yang sangat intens, beliau memiliki pemikiran yang terbuka terhadap berbagai persoalan sosial politik dan keagamaan.
Dua nama negara yang diperkenalkannya kepada saya sekitar 26 tahun lalu, Iran dan Irak, ternyata membawa pengaruh besar terhadap pilihan dan perjalanan hidup saya dalam pemahaman keagamaan dan sosial politik di masa kini.
Selain itu, gaung Revolusi Islam Iran dan perang delapan tahun yang menyertainya, tersiar jauh ke Pulau Sumbawa yang jaraknya 8.570 kilometer—jarak antara Teheran dan Bima.
Di balik itu, Palestina masih tertindas, dan perang antarsesama negara mayoritas berpenduduk Muslim masih berkecamuk di Asia Barat—salah satunya Ansarullah Yaman dan koalisi Arab Saudi.
Dan “Jalur Gaza” di Belo Selatan masih kerap terisolasi karena masalah-masalah sepele–pernah satu kali terjadi penutupan jalan karena seseorang kehilangan telepon genggam. (*Pemimpin Redaksi Berita Alternatif)











