BERITAALTERNATIF.COM – Pada hari itu, Jumat Hitam menjadi momen penting yang mempercepat runtuhnya kekuasaan Shah Mohammad Reza Pahlavi. Berbulan-bulan protes akibat masalah ekonomi seperti inflasi tinggi dan represi politik telah membuat Iran berada di titik lumpuh.
Pemerintah kemudian menetapkan darurat militer pada 7 September, melarang segala bentuk pertemuan publik. Namun, rakyat tetap turun ke jalan, berkumpul di Lapangan Jaleh (sekarang Lapangan Shohada) di timur Teheran pada 8 September.
Unit Tentara Kekaisaran Iran menghadang massa. Setelah peringatan untuk bubar diabaikan, tentara menembaki kerumunan tak bersenjata. Kesaksian menyebutkan suasana mencekam, dengan rentetan tembakan senjata otomatis dan tank yang meninggalkan lapangan penuh dengan jasad.
Laporan resmi pemerintah mengklaim hanya 87 orang tewas dan menyalahkan “teroris bersenjata”. Namun oposisi dan komunitas internasional memperkirakan korban mencapai ratusan bahkan ribuan.
Pemerintah berusaha mengendalikan informasi dengan mengusir jurnalis asing, tetapi justru menimbulkan kecurigaan dan kemarahan. Kecaman global pun muncul, merusak citra Shah dan memperburuk hubungannya dengan sekutu Barat. Dari pengasingan, Imam Khomeini ra menyerukan agar rakyat terus melanjutkan protes, seruan yang mendapat sambutan luas dari masyarakat yang tengah berduka.
Jumat Hitam benar-benar mengguncang legitimasi rezim Pahlavi. Dia menyatukan oposisi religius dan sekuler, sekaligus membuat rakyat semakin radikal. Peristiwa ini menunjukkan bahwa rezim siap menggunakan kekerasan brutal untuk bertahan, dan sejak itu tujuan Revolusi berubah: bukan sekadar reformasi, tetapi menggulingkan monarki sepenuhnya.
Hingga kini, 8 September diperingati di Iran sebagai hari kesyahidan dan perlawanan. Jumat Hitam dikenang sebagai pengingat kekerasan negara terhadap rakyatnya, menandai hari ketika rezim Shah menandatangani kehancurannya sendiri dan membuka jalan bagi kemenangan Revolusi Islam.
Jumlah korban sesungguhnya masih diperdebatkan hingga kini, menjadi bukti sulitnya mencatat peristiwa di tengah gejolak politik. Namun, yang jelas, dampaknya terhadap kesadaran kolektif bangsa Iran sangatlah dalam. Rasa dikhianati, hilangnya rasa aman, dan keterkejutan melihat kekerasan negara secara langsung, mengubah jalannya Revolusi untuk selamanya.
Jumat Hitam menghancurkan ilusi tentang monarki yang welas asih, menyingkap wajah asli rezim yang rela menumpahkan darah rakyat demi mempertahankan kekuasaan. Kekejaman itu justru membakar semangat oposisi, mendorong mereka untuk benar-benar menghancurkan tatanan lama. Protes yang awalnya sekadar ungkapan ketidakpuasan berubah menjadi gerakan revolusioner besar yang bertujuan menumbangkan Shah.
Dampaknya juga meluas ke dunia internasional. Kecaman keras dari lembaga HAM dan pemerintah negara lain semakin mengisolasi Shah, meruntuhkan legitimasi yang tersisa. Peristiwa ini juga memberi Imam Khomeini simbol nyata tirani rezim, memperkuat posisinya sebagai pemimpin spiritual revolusi, dan meneguhkan dukungan baik di dalam maupun di luar negeri.
Setelah Jumat Hitam, momentum revolusi semakin tak terbendung. Aksi mogok, demonstrasi, dan perlawanan sipil menyebar ke seluruh Iran. Usaha Shah untuk melakukan reformasi dan rekonsiliasi terbukti sia-sia, tak mampu meredam gelombang penentangan. Kenangan tentang Jumat Hitam terus hidup, mengingatkan rakyat pada kekejaman rezim, mengobarkan semangat perlawanan, dan mempercepat lahirnya Republik Islam Iran.
Gema tembakan di Lapangan Jaleh masih bergema dalam ingatan sejarah bangsa Iran, sebagai bukti hari ketika revolusi bergerak tanpa jalan kembali. Warisan Jumat Hitam melampaui sekadar revolusi, ia membentuk wajah politik dan sosial Iran hingga puluhan tahun setelahnya.
Trauma yang ditinggalkan hari itu terus memengaruhi memori kolektif bangsa, membentuk sikap mereka terhadap kekuasaan, pandangan tentang keadilan, dan cara berhubungan dengan dunia luar. Kesadaran ini tetap hadir dalam berbagai gerakan sosial sepanjang sejarah Republik Islam.
Selain itu, Jumat Hitam menjadi simbol kuat perlawanan terhadap penindasan, bukan hanya di Iran tetapi juga bagi gerakan lain di dunia. Gambaran demonstran tak bersenjata yang menghadapi tentara bersenjata lengkap menjadi dakwaan keras terhadap rezim otoriter, sekaligus sumber inspirasi bagi mereka yang berjuang melawan ketidakadilan.
Meski ada perbedaan pandangan, Jumat Hitam tetap diingat sebagai titik balik tak terbantahkan dalam sejarah Iran: momen tragedi sekaligus transformasi, hari ketika benih revolusi ditanam dengan darah rakyat yang gugur. Hingga kini, kenangan itu terus membentuk identitas bangsa, wacana politik, dan hubungannya dengan dunia. (*)
Sumber: Mehr News
Penerjemah: Ali Hadi Assegaf
Editor: Ufqil Mubin












