Search

Mendidik Anak bukan Berarti selalu Melindunginya

Penulis. (Dok. Penulis)

Oleh: Nur Emilia*

Setiap orang tua tentu menyayangi anaknya. Sejak kecil, anak dijaga, dibantu, dan dilindungi dari berbagai hal yang dianggap dapat membahayakan atau menyulitkannya. Sikap tersebut merupakan bentuk kasih sayang yang sangat wajar. Tidak ada orang tua yang ingin melihat anaknya terluka, mengalami kesulitan, atau menghadapi masalah sendirian. Namun, kasih sayang juga membutuhkan kebijaksanaan. Melindungi anak bukan berarti selalu membenarkan tindakannya, terlebih ketika anak memang melakukan kesalahan.

Dalam kehidupan sehari-hari, kita masih dapat menjumpai orang tua yang langsung membela anak ketika terjadi suatu masalah. Ketika anak mendapat teguran dari guru, misalnya, ada orang tua yang langsung menyalahkan pihak sekolah sebelum mengetahui persoalannya secara utuh.

Ketika anak berselisih dengan temannya, tidak sedikit pula orang tua yang langsung menganggap anaknya sebagai pihak yang benar. Sikap tersebut mungkin muncul karena rasa sayang, tetapi jika dilakukan terus-menerus, justru dapat menghambat proses pembentukan karakter anak.

Islam sendiri menempatkan pendidikan keluarga sebagai tanggung jawab yang sangat penting. Allah Swt berfirman dalam QS. At-Tahrim ayat 6 yang artinya, “Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.”

Ayat ini mengingatkan bahwa tanggung jawab orang tua bukan hanya menjaga anak secara fisik dan memenuhi kebutuhannya. Orang tua juga bertanggung jawab memberikan pendidikan, menanamkan nilai-nilai kebaikan, serta membimbing anak agar mampu membedakan antara yang benar dan yang salah.

Karena itu, membela anak ketika ia berada di pihak yang benar tentu merupakan hal yang seharusnya dilakukan. Namun, ketika anak terbukti melakukan kesalahan, kasih sayang seharusnya diwujudkan dengan membimbingnya untuk mengakui dan memperbaiki kesalahan tersebut. Membenarkan sesuatu yang salah hanya karena dilakukan oleh anak sendiri justru bertentangan dengan nilai keadilan yang diajarkan Islam.

Allah Swt berfirman dalam QS. An-Nisa ayat 135 yang pada intinya memerintahkan orang-orang beriman untuk menjadi penegak keadilan dan memberikan kesaksian karena Allah, sekalipun terhadap diri sendiri, ibu, bapak, maupun kerabat. Pesan tersebut sangat relevan dalam kehidupan keluarga. Kedekatan hubungan tidak seharusnya membuat seseorang kehilangan kemampuan untuk menilai sesuatu secara adil. Orang tua boleh berada di samping anaknya, tetapi bukan berarti semua tindakan anak harus dianggap benar.

Anak juga perlu memahami bahwa setiap tindakan memiliki konsekuensi. Allah Swt berfirman dalam QS. Al-Muddatsir ayat 38 yang artinya, “Setiap orang bertanggung jawab atas apa yang telah dilakukannya.” Nilai tanggung jawab inilah yang seharusnya mulai diperkenalkan sejak anak masih kecil.

Misalnya, ketika anak merusak barang milik temannya, orang tua mungkin dapat mengganti barang tersebut. Namun, persoalannya seharusnya tidak berhenti sampai di sana. Anak perlu diajak memahami kesalahannya, meminta maaf, dan ikut bertanggung jawab sesuai dengan usia serta kemampuannya.

Dengan demikian, anak belajar bahwa masalah bukan sekadar sesuatu yang dapat diselesaikan oleh orang tua, melainkan pengalaman yang harus dihadapi dengan kejujuran dan tanggung jawab.

Sebaliknya, jika setiap kesalahan selalu ditutupi, anak dapat memperoleh pemahaman yang keliru. Ia mungkin berpikir bahwa selama ada orang tua yang membela, kesalahan tidak akan membawa konsekuensi berarti. Jika pola seperti ini terus berlangsung, bukan tidak mungkin kebiasaan tersebut terbawa hingga dewasa. Ketika menghadapi masalah, ia dapat terbiasa mencari alasan, menyalahkan orang lain, atau menghindari tanggung jawab.

Rasulullah Saw juga menegaskan pentingnya tanggung jawab dalam keluarga. Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim, Rasulullah menjelaskan bahwa setiap orang adalah pemimpin dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang dipimpinnya. Orang tua memiliki tanggung jawab terhadap keluarganya. Hadis tersebut menunjukkan bahwa menjadi orang tua bukan hanya tentang memenuhi kebutuhan anak, tetapi juga mendidik dan membentuk karakternya.

Hal tersebut semakin penting ketika anak mulai beranjak dewasa dan memasuki dunia perkuliahan. Seorang mahasiswa tidak mungkin selamanya bergantung kepada orang tua. Ia harus belajar mengatur waktu, menyelesaikan tugas, mengelola keuangan, menentukan pilihan, membangun hubungan sosial, serta menyelesaikan berbagai persoalan secara mandiri. Jika sejak kecil anak selalu dibantu dalam setiap persoalan, ia dapat mengalami kesulitan ketika suatu saat harus menghadapi masalah tanpa kehadiran orang tua.

Memberikan kesempatan kepada anak untuk menghadapi masalah bukan berarti orang tua tidak peduli. Justru di sinilah terdapat perbedaan antara mendampingi dan mengambil alih. Orang tua tetap dapat mendengarkan cerita anak, memberikan nasihat, mengingatkan ketika ia salah, dan membantu mencari jalan keluar. Namun, anak juga harus diberikan ruang untuk mengambil keputusan serta belajar menerima konsekuensi dari pilihannya.

Tentu terdapat keadaan ketika orang tua harus memberikan perlindungan penuh, misalnya ketika anak mengalami kekerasan, perundungan, ancaman, atau diperlakukan secara tidak adil. Dalam keadaan seperti itu, perlindungan orang tua sangat diperlukan. Namun, melindungi anak yang menjadi korban berbeda dengan membenarkan anak ketika ia sendiri melakukan kesalahan. Karena itu, orang tua perlu mendengarkan persoalan secara utuh sebelum menentukan sikap.

Mendidik anak memang tidak mudah. Terkadang orang tua harus memilih antara membuat anak merasa nyaman untuk sementara atau memberikan pelajaran yang mungkin terasa tidak menyenangkan, tetapi bermanfaat bagi masa depannya. Teguran yang baik, konsekuensi yang wajar, dan kesempatan untuk memperbaiki kesalahan dapat menjadi bentuk kasih sayang yang jauh lebih bermakna daripada selalu membela anak.

Pada akhirnya, kasih sayang tidak seharusnya membuat anak merasa bahwa dirinya selalu benar. Kasih sayang seharusnya membuat anak merasa aman untuk berkata, “Saya salah,” kemudian memiliki keberanian untuk meminta maaf dan memperbaikinya. Anak perlu mengetahui bahwa melakukan kesalahan bukanlah akhir dari segalanya, tetapi kesalahan juga tidak boleh terus dibenarkan.

Orang tua tidak akan selamanya dapat berjalan di depan anak untuk menyingkirkan setiap masalah yang menghadang. Akan tiba waktunya ketika anak harus menentukan jalan hidupnya sendiri. Karena itu, tugas orang tua bukan sekadar melindungi anak dari kesulitan, tetapi juga mempersiapkannya agar mampu menghadapi kesulitan dengan nilai-nilai yang benar.

Mendidik anak bukan berarti selalu melindunginya dari akibat kesalahan. Mendidik berarti tetap berada di sampingnya ketika ia salah, menunjukkan mana yang benar, memberinya kesempatan untuk memperbaiki diri, dan mengajarkannya untuk bertanggung jawab. Sebab, salah satu bentuk kasih sayang terbesar orang tua adalah mempersiapkan anak agar suatu hari mampu berdiri sendiri tanpa kehilangan kejujuran, keberanian, dan nilai-nilai yang telah diajarkan kepadanya. (*Mahasiswa Fakultas Agama Islam Unikarta)

Bagikan

Kunjungi Berita Alternatif di :

BACA JUGA

This error message is only visible to WordPress admins

Error 400: API key not valid. Please pass a valid API key..

Domain code: global
Reason code: badRequest

Error: No videos found.

Make sure this is a valid channel ID and that the channel has videos available on youtube.com.

This error message is only visible to WordPress admins

Error 400: API key not valid. Please pass a valid API key..

Domain code: global
Reason code: badRequest

Error: No videos found.

Make sure this is a valid channel ID and that the channel has videos available on youtube.com.

POPULER BULAN INI
INDEKS BERITA