Search

Founder Tiga Jaya Partner: Tugas CEO bukan Menunggu Modal, tetapi Menciptakan Modal

Founder PT Tiga Jaya Partner, Muhammad Yusuf. (Dok. Narasumber)

BERITAALTERNATIF.COM – Founder PT Tiga Jaya Partner, Muhammad Yusuf, menekankan bahwa seorang Chief Executive Officer (CEO) memiliki tanggung jawab yang berbeda dengan seorang manajer dalam menjalankan perusahaan.

Menurutnya, manajer lebih berfokus pada pengelolaan sumber daya yang telah tersedia. Sementara itu, CEO dituntut mampu menciptakan sesuatu yang sebelumnya belum ada, termasuk menghadirkan sumber daya dan pendanaan untuk mengembangkan perusahaan.

“CEO tugasnya cuma satu, menciptakan yang enggak ada menjadi ada,” tegas Yusuf kepada awak media Berita Alternatif baru-baru ini.

Yusuf menegaskan, tugas CEO bukan sekadar mengelola uang yang sudah dimiliki perusahaan.

“CEO bukan mengelola uang perusahaan. Tapi membuat uang perusahaan yang enggak ada menjadi ada,” katanya.

Dia menegaskan, apabila seseorang hanya berfokus mengelola sumber daya dan uang yang sudah tersedia, fungsi tersebut lebih dekat dengan tugas seorang manajer.

“Kalau semua menjadi pengelola perusahaan, itu namanya manajer. Tugasnya mengelola uang perusahaan,” jelasnya.

Sebaliknya, seorang CEO harus mampu melihat peluang dan menciptakan sumber daya baru yang dapat digunakan untuk mengembangkan perusahaan.

Ia menyebut kemampuan mendatangkan sumber daya dan modal dari luar perusahaan sebagai salah satu tanggung jawab penting seorang CEO.

Yusuf mengatakan, perusahaan tidak semestinya hanya mengandalkan modal yang berasal dari pemegang saham atau equity.

“Bukan hanya dari equity, dari modal pemegang saham. Tapi bagaimana mendatangkan modal di luar pemegang saham,” ujarnya.

Dia menilai kemampuan tersebut menjadi salah satu alasan CEO memiliki peran penting dalam sebuah perusahaan.

“Kenapa CEO punya power? Karena dia bisa mendatangkan uang di luar pemegang saham,” katanya.

Dengan demikian, seorang CEO tidak seharusnya hanya menunggu tambahan modal dari pemegang saham sebelum menjalankan program atau mengembangkan bisnis.

“Tugas CEO itu bukan hanya mengelola uangnya para pemegang saham, tapi mendatangkan uang di luar pemegang saham,” tegasnya.

Ia kemudian membagikan pengalaman dalam mengembangkan bisnis yang pada awalnya menghadapi keterbatasan modal.

Yusuf mencontohkan pengembangan bisnis pendidikan yang membutuhkan berbagai pengeluaran sejak awal, mulai dari menyewa tempat, membeli perlengkapan, membayar gaji guru, hingga melakukan pemasaran.

“Omsetnya besar, tapi uang pemegang saham enggak ada. Kenapa? Karena jasa. Tapi membangun sekolah di awal kan enggak ada duit,” jelasnya.

Dia mengurai, bisnis pendidikan membutuhkan modal awal karena berbagai kebutuhan harus dipenuhi sebelum kegiatan sekolah dapat berjalan secara optimal.

“Karena membangun sekolah kan sewa tempat, beli perlengkapan, bayar gaji guru dulu, marketing, biaya dan sebagainya,” katanya.

Namun, keterbatasan modal tersebut tidak boleh menjadi alasan bagi seorang CEO untuk berhenti menjalankan bisnis. CEO justru dituntut mencari mekanisme agar kegiatan usaha tetap dapat berjalan.

Dalam pengalaman tersebut, salah satu cara yang dilakukan adalah memanfaatkan uang muka atau Down Payment (DP) dari calon peserta didik.

“Yang di awal dilakukan adalah pakai DP. Karena sekolah itu pakai DP. Jadi DP-nya selalu besar,” ujarnya.

Ia menerangkan, uang muka yang diterima kemudian dapat digunakan untuk memenuhi berbagai kebutuhan awal operasional dan pengembangan bisnis.

Pengalaman tersebut, kata Yusuf, menunjukkan bahwa pengembangan bisnis tidak selalu harus menunggu tersedianya modal besar dari pemegang saham.

Seorang CEO harus mampu memahami model bisnis yang dijalankan dan menemukan sumber pendanaan yang memungkinkan perusahaan tetap tumbuh.

Dia juga mengingatkan para CEO agar tidak memiliki pola pikir menunggu uang tersedia baru kemudian menjalankan pekerjaan.

“Masa tunggu uang datang baru kerja? Berarti sama dengan manajer dong,” katanya.

Ia mengungkapkan, seorang manajer memang memiliki tugas mengelola sumber daya yang telah tersedia. Sementara CEO memiliki tanggung jawab lebih besar untuk menciptakan peluang dan sumber daya baru.

“Kalau manajer memang dia mengelola. Manage. Tapi kalau CEO itu jabatan yang tidak hanya menunggu uang,” ujarnya.

Karena itu, Yusuf mendorong para pemimpin perusahaan untuk memiliki keberanian dalam mengambil keputusan, menyusun perencanaan, membangun komunikasi dengan tim, serta mencari sumber daya yang dapat mendukung pertumbuhan perusahaan.

Dia mengatakan, keterbatasan modal tidak seharusnya secara otomatis menjadi alasan bagi perusahaan untuk berhenti berkembang. Justru dalam situasi tersebut, kemampuan seorang CEO diuji untuk menemukan jalan keluar.

“Jadi tugas CEO itu menciptakan yang tidak ada menjadi ada,” tegasnya.

Ia menilai, seorang CEO harus mampu mengubah keterbatasan menjadi peluang dan menjadikan setiap persoalan sebagai sesuatu yang harus diselesaikan.

Dengan pola pikir tersebut, CEO tidak hanya bertugas mempertahankan perusahaan agar tetap berjalan, tetapi juga menciptakan pertumbuhan baru melalui kemampuan membaca peluang, membangun tim, menetapkan target, serta menghadirkan sumber daya yang sebelumnya belum tersedia. (*)

Penulis: Ulwan Murtadho
Editor: Ufqil Mubin

Bagikan

Kunjungi Berita Alternatif di :

BACA JUGA

This error message is only visible to WordPress admins

Error 400: API key not valid. Please pass a valid API key..

Domain code: global
Reason code: badRequest

Error: No videos found.

Make sure this is a valid channel ID and that the channel has videos available on youtube.com.

This error message is only visible to WordPress admins

Error 400: API key not valid. Please pass a valid API key..

Domain code: global
Reason code: badRequest

Error: No videos found.

Make sure this is a valid channel ID and that the channel has videos available on youtube.com.

POPULER BULAN INI
INDEKS BERITA