BERITAALTERNATIF.COM – Berita yang baik tidak cukup hanya menyampaikan peristiwa terbaru. Informasi yang disajikan juga harus memiliki alur yang jelas, menggunakan bahasa yang mudah dipahami, bersumber dari pihak yang dapat dipercaya, serta didukung data yang sesuai fakta.
Hal tersebut disampaikan Pemimpin Redaksi Berita Alternatif, Ufqil Mubin, saat memberikan materi dalam pelatihan dasar-dasar jurnalistik yang diadakan di Sekretariat Dewan Pimpinan Daerah Ahlulbait Indonesia Kukar pada Sabtu (10/10/2026).
Dalam pemaparannya, Ufqil menguraikan delapan ciri berita yang menjadi dasar bagi wartawan dalam menyusun pemberitaan, mulai dari aktualitas hingga kelengkapan informasi.
Di menjelaskan, berita harus aktual atau berkaitan dengan peristiwa yang baru terjadi maupun perkembangan terbaru. Unsur kebaruan itu perlu disertai keterangan waktu dan tempat yang jelas agar pembaca memahami konteks kejadian.
Selain itu, berita harus memiliki alur yang runtut sehingga pembaca dapat mengikuti jalannya peristiwa tanpa kebingungan.
Dia juga menekankan pentingnya penggunaan bahasa yang menarik, singkat, padat, dan jelas.
Ia berpendapat, berita berbeda dari percakapan sehari-hari atau pesan singkat di media sosial karena memiliki kaidah penulisan tersendiri.
Kalimat yang bertele-tele dan pengulangan informasi dapat membuat pembaca kesulitan menemukan inti persoalan. Karena itu, setiap paragraf sebaiknya memberikan informasi baru yang mendukung keseluruhan berita.
“Dalam pemberitaan, kepadatan, singkat, dan jelas itu sangat diperlukan,” jelasnya.
Ciri berikutnya adalah penggunaan sumber yang valid dan dapat dipertanggungjawabkan.
Wartawan juga harus memeriksa informasi sebelum menerbitkannya agar tidak menyebarkan kabar yang keliru atau merugikan orang lain.
Ufqil menyebut berita juga harus sesuai dengan peristiwa sebenarnya dan bersifat objektif. Informasi yang disajikan tidak boleh mengada-ada atau dibangun berdasarkan dugaan pribadi penulis.
Dia menegaskan, jika informasi belum terkonfirmasi, wartawan perlu memverifikasinya, bukan menyajikannya seolah-olah sudah menjadi fakta.
Ciri lainnya ialah kelengkapan data penting. Dalam berita mengenai kebakaran, misalnya, pembaca perlu mengetahui lokasi dan waktu kejadian, jumlah bangunan yang terdampak, jumlah warga yang terkena dampak, serta informasi relevan lainnya yang telah terverifikasi.
Kelengkapan tersebut berkaitan dengan unsur 5W+1H, yakni what (apa), who (siapa), when (kapan), where (di mana), why (mengapa), dan how (bagaimana).
Menurutnya, unsur-unsur tersebut membantu wartawan memastikan informasi utama dalam sebuah berita tersampaikan secara lengkap. “Umumnya dalam hard news, data penting itu dia memuat 5W+1H,” katanya.
Ia menjelaskan, jika unsur penting seperti waktu, lokasi, atau pihak yang terlibat tidak disampaikan, pembaca bisa kehilangan konteks untuk memahami peristiwa secara utuh.
Ufqil menegaskan bahwa delapan ciri tersebut menjadi dasar bagi wartawan untuk menghasilkan berita yang informatif dan dapat dipertanggungjawabkan.
Kecepatan menyampaikan informasi perlu diimbangi dengan ketepatan fakta, kejelasan bahasa, dan kelengkapan data. “Berita itu menjadi tidak lengkap kalau memuat hal-hal tersebut,” pungkasnya. (*)
Penulis: Ulwan Murtadho
Editor: Devi Nila Sari












