BERITAALTERNATIF.COM – Berita tidak hanya berfungsi menyampaikan informasi tentang suatu peristiwa. Pemberitaan juga dapat memengaruhi perhatian publik dan mendorong pemerintah mengambil kebijakan untuk menyelesaikan persoalan masyarakat.
Hal itu disampaikan Pemimpin Redaksi Berita Alternatif, Ufqil Mubin, saat memberikan materi dalam pelatihan dasar-dasar jurnalistik yang diadakan di Sekretariat Dewan Pimpinan Daerah Ahlulbait Indonesia Kukar pada Sabtu (10/10/2026).
Ufqil menjelaskan bahwa nilai sebuah berita tidak berhenti pada kejadian yang dilaporkan, tetapi juga berkaitan dengan dampak peristiwa tersebut terhadap kehidupan pembaca.
Dia mencontohkan kebakaran yang terjadi di Tenggarong. Peristiwa tersebut bukan hanya menjadi persoalan warga yang kehilangan rumah, melainkan juga menyangkut keselamatan masyarakat di kawasan sekitarnya.
Menurutnya, pemberitaan mengenai kebakaran dapat dikembangkan dengan mengulas langkah pemerintah dalam memperbaiki sistem penanggulangan kebakaran. Salah satu persoalan yang dapat diangkat ialah ketersediaan sumber air agar petugas pemadam tidak hanya bergantung pada Sungai Mahakam.
“Penulisan berita itu punya pengaruh dalam hal kebijakan-kebijakan pemerintah,” katanya dalam pemaparannya.
Ia menjelaskan, pemberitaan mengenai persoalan yang dialami masyarakat dapat membantu pembaca memahami penyebab masalah sekaligus mengetahui langkah yang perlu dilakukan untuk mencegah kejadian serupa.
Dalam kasus kebakaran, misalnya, wartawan dapat menelusuri kendala yang dihadapi petugas di lapangan, ketersediaan sumber air, akses kendaraan pemadam, hingga kebijakan pemerintah dalam memperkuat mitigasi.
Dengan begitu, berita tidak hanya berhenti pada informasi mengenai lokasi kebakaran, jumlah bangunan yang terdampak, atau kerugian material. Pemberitaan juga dapat menjelaskan persoalan yang perlu dibenahi agar dampak kebakaran pada masa mendatang dapat ditekan.
Ufqil juga menekankan bahwa suatu peristiwa harus memiliki nilai penting agar layak diberitakan. Tidak semua kejadian yang dilihat atau dialami seseorang otomatis menjadi berita.
Dia mencontohkan seseorang yang melihat kucing dengan peristiwa seseorang tertabrak sepeda motor. Peristiwa kedua memiliki kepentingan yang lebih besar karena menyangkut keselamatan manusia.
Hal serupa berlaku dalam pemberitaan tokoh publik. Aktivitas sehari-hari seorang tokoh belum tentu memiliki nilai berita. Namun, tindakan yang tidak biasa dan memiliki arti bagi masyarakat dapat menarik perhatian pembaca.
Ia berpendapat, berita juga perlu memiliki unsur kebaruan dan manfaat bagi manusia. Informasi yang disampaikan harus memberikan sesuatu yang berarti bagi pembaca, bukan sekadar menceritakan kejadian tanpa konteks.
Ufqil merangkum tiga unsur penting dalam pandangan yang dibahasnya, yakni kebaruan, kepentingan, dan manfaat berita bagi masyarakat.
“Berita itu terdiri dari unsur baru, kemudian penting, dan yang terakhir bermanfaat bagi manusia,” tutupnya. (*)
Penulis: Ulwan Murtadho
Editor: Devi Nila Sari












