Oleh: Ekawati Andini*
Bagi sebagian mahasiswa, skripsi sering kali menjadi salah satu tahap perkuliahan yang terasa cukup berat. Kesulitan tersebut bahkan tidak selalu muncul ketika proses penulisan dimulai, tetapi justru sejak mahasiswa harus menentukan apa yang ingin diteliti. Memilih topik, menemukan masalah, mencari referensi, menentukan variabel, hingga memilih metode penelitian merupakan beberapa hal yang perlu dipikirkan dengan baik.
Karena itu, penyusunan proposal skripsi seharusnya tidak dipandang hanya sebagai persyaratan sebelum melakukan penelitian, tetapi sebagai tahap penting untuk menentukan arah penelitian sejak awal.
Pada kenyataannya, banyak mahasiswa memiliki keinginan untuk segera menyelesaikan skripsi, namun masih bingung harus memulai dari mana. Ada mahasiswa yang sudah mempunyai topik, tetapi belum menemukan permasalahan yang sesuai. Ada juga yang sudah menemukan masalah, tetapi kesulitan mencari penelitian terdahulu atau menentukan metode yang tepat.
Bahkan, tidak jarang mahasiswa terlalu lama mencari topik karena merasa harus menemukan penelitian yang benar-benar berbeda dari penelitian sebelumnya. Padahal, penelitian tidak selalu harus dimulai dari sesuatu yang sepenuhnya baru. Mengembangkan penelitian terdahulu, melihat perbedaan objek, periode, variabel, atau kondisi tertentu juga dapat menjadi bagian dari proses menemukan ide penelitian.
Hal tersebut menjadi semakin relevan dengan adanya kegiatan Pelatihan Proposal Skripsi (PPS) dan Bincang Asik Penelitian Riset (BAPeR) 2026 yang diselenggarakan oleh Himpunan Mahasiswa S1 Akuntansi Universitas Pamulang bersama Program Studi Sarjana Akuntansi.
Kegiatan yang mengangkat tema “Smart Research: Langkah Cerdas Menyusun Proposal Skripsi yang Berkualitas dan Tepat Waktu” ini memberikan gambaran bahwa menyusun proposal bukan hanya mengenai kemampuan menulis, tetapi juga bagaimana mahasiswa mampu berpikir secara sistematis dalam merancang sebuah penelitian.
Tema “Smart Research” cukup relevan dengan kondisi mahasiswa yang sedang mempersiapkan tugas akhir. Cerdas dalam melakukan penelitian bukan berarti mencari cara agar proposal dapat selesai dengan cepat tanpa memahami isinya. Justru, penelitian yang cerdas adalah penelitian yang dilakukan dengan arah yang jelas. Mahasiswa perlu memahami apa yang ingin diteliti, alasan masalah tersebut penting, teori apa yang dapat digunakan, penelitian terdahulu yang relevan, serta metode yang sesuai untuk menjawab permasalahan penelitian.
Salah satu tantangan terbesar dalam menyusun proposal skripsi adalah mengubah ide sederhana menjadi sebuah penelitian yang memiliki arah. Terkadang mahasiswa mempunyai banyak ide, tetapi justru semakin bingung karena terlalu banyak pilihan. Sebagai contoh, mahasiswa mungkin tertarik pada isu perpajakan, audit, laporan keuangan, atau perilaku organisasi. Namun, ketertarikan terhadap suatu bidang belum tentu langsung menjadi sebuah judul penelitian. Masih diperlukan proses untuk menentukan masalah yang lebih spesifik, mencari data yang memungkinkan untuk diperoleh, dan mempertimbangkan apakah penelitian tersebut dapat dilakukan dalam waktu serta kemampuan yang dimiliki.
Dalam kondisi seperti itu, mahasiswa perlu belajar untuk tidak hanya bertanya, “Apa yang ingin diteliti?”, tetapi juga “Masalah apa yang sebenarnya ingin dijawab melalui penelitian ini?”. Pertanyaan tersebut dapat membantu mahasiswa membedakan antara sekadar memilih topik dengan menentukan permasalahan penelitian. Ketika masalah sudah lebih jelas, proses mencari teori, penelitian terdahulu, hingga menentukan metode biasanya akan menjadi lebih terarah.
PPS dan BAPeR 2026 dapat menjadi salah satu ruang untuk membantu mahasiswa menghadapi persoalan tersebut. Rangkaian kegiatan dilaksanakan pada 17 September dan 26 September 2026. Pada pertemuan pertama, mahasiswa mendapatkan pembekalan dan kesempatan untuk berdiskusi secara langsung mengenai penyusunan proposal penelitian. Kegiatan tersebut menghadirkan Dr. Hj. Holiawati dan Dr. Nofryanti sebagai pemateri.
Kehadiran pemateri dan adanya sesi diskusi menjadi bagian yang penting dalam kegiatan seperti ini. Materi mengenai proposal penelitian memang dapat ditemukan melalui buku, jurnal, maupun berbagai sumber di internet. Namun, membaca teori secara mandiri terkadang belum cukup untuk menjawab persoalan yang benar-benar dihadapi mahasiswa. Melalui diskusi, mahasiswa dapat menyampaikan pertanyaan berdasarkan kondisi yang mereka alami dan memperoleh penjelasan yang lebih sesuai dengan kebutuhan mereka.
Sesi tanya jawab juga dapat menjadi kesempatan bagi mahasiswa untuk menyadari bahwa kebingungan dalam menyusun penelitian merupakan hal yang wajar. Mahasiswa mungkin merasa hanya dirinya yang belum menemukan topik atau belum memahami metode penelitian tertentu. Padahal, mahasiswa lain juga dapat mengalami persoalan yang serupa. Dengan adanya ruang diskusi, mahasiswa dapat saling bertukar pemikiran dan memperoleh sudut pandang baru.
Hal lain yang penting adalah pemahaman bahwa proposal yang baik tidak selalu berarti proposal dengan topik yang rumit. Penelitian sederhana sekalipun dapat menjadi penelitian yang baik apabila memiliki permasalahan yang jelas, didukung teori dan referensi yang sesuai, serta menggunakan metode yang tepat. Sebaliknya, topik yang terlihat menarik dan kompleks belum tentu menghasilkan penelitian yang baik apabila ruang lingkupnya terlalu luas atau tidak didukung data yang memadai.
Karena itu, mahasiswa juga perlu realistis ketika menentukan penelitian. Keinginan untuk membuat penelitian yang terlihat menarik memang merupakan hal yang baik, tetapi harus disesuaikan dengan kemampuan, waktu, sumber daya, dan akses terhadap data. Jangan sampai mahasiswa memilih topik hanya karena terlihat bagus, tetapi pada akhirnya mengalami kesulitan ketika harus mencari data atau menjelaskan alasan pemilihan variabel.
Dari sini, “Smart Research” dapat dimaknai sebagai kemampuan untuk melakukan penelitian secara lebih terarah dan realistis. Mahasiswa perlu menyusun langkah penelitian secara bertahap, bukan mencoba menyelesaikan semuanya dalam satu waktu. Misalnya, menentukan bidang yang diminati terlebih dahulu, kemudian mencari permasalahan, membaca penelitian terdahulu, menentukan celah penelitian, menyusun rumusan masalah, dan selanjutnya menentukan metode yang sesuai. Dengan langkah yang lebih teratur, proses penyusunan proposal dapat terasa lebih ringan.
Selain itu, mahasiswa juga perlu membiasakan diri membaca referensi seperti jurnal dan artikel terkait sejak awal. Referensi tidak hanya berfungsi untuk memenuhi jumlah sumber dalam proposal, tetapi juga membantu mahasiswa memahami bagaimana penelitian sebelumnya dilakukan. Dari membaca jurnal, mahasiswa dapat mengetahui variabel yang pernah digunakan, teori yang relevan, metode yang diterapkan, serta hasil penelitian yang telah ditemukan dari sana, ide penelitian baru dapat muncul dan dikembangkan.
Penyusunan proposal juga seharusnya tidak selalu dipandang sebagai proses yang harus dilakukan sendirian. Berdiskusi dengan dosen, teman, maupun mengikuti kegiatan akademik seperti PPS dan BAPeR dapat membantu mahasiswa melihat permasalahan penelitian dari sudut pandang yang berbeda.
Terkadang sebuah ide yang awalnya terlihat kurang jelas dapat berkembang setelah mendapatkan masukan dari orang lain. Hal ini menunjukkan bahwa proses penelitian juga membutuhkan keterbukaan terhadap kritik dan saran. Setelah mendapatkan pembekalan, mahasiswa tetap perlu menerapkan dan mempraktekan secara mandiri apa saja tools yang perlu diperhatikan untuk proposal skripsi. Kegiatan pelatihan ini dapat menjadi titik awal, tetapi perkembangan penelitian tetap bergantung pada usaha mahasiswa dalam melanjutkan proses tersebut.
Hal ini juga berkaitan dengan target mahasiswa untuk menyelesaikan skripsi tepat pada waktunya. Menyelesaikan skripsi tepat waktu bukan hanya persoalan seberapa cepat mahasiswa menulis, tetapi juga seberapa baik mahasiswa mempersiapkan penelitiannya. Jika arah penelitian sudah jelas sejak awal, mahasiswa akan lebih mudah menentukan langkah berikutnya. Sebaliknya, jika topik dan permasalahan terus berubah tanpa arah yang jelas, proses penelitian dapat menjadi lebih panjang.
Pada akhirnya, proposal skripsi bukan sekadar dokumen yang harus diselesaikan agar mahasiswa dapat melanjutkan ke tahap penelitian. Proposal merupakan gambaran awal mengenai bagaimana sebuah penelitian akan dilakukan. Di dalamnya terdapat proses berpikir mahasiswa dalam menentukan masalah, mencari dasar teori, melihat penelitian sebelumnya, hingga memilih cara untuk menjawab permasalahan tersebut. Oleh karena itu, proposal seharusnya dipahami dan dikerjakan dengan serius, bukan hanya diselesaikan sebagai formalitas akademik.
Melalui PPS dan BAPeR 2026, mahasiswa tidak hanya mendapatkan pembekalan mengenai cara menyusun proposal, tetapi juga mendapatkan ruang untuk memahami bahwa penelitian membutuhkan kesiapan, ketelitian, dan kemauan untuk terus belajar. Tema “Smart Research” pada akhirnya dapat menjadi pengingat bahwa penelitian yang baik tidak selalu dimulai dari ide yang besar, melainkan dari kemampuan melihat sebuah masalah dengan jelas dan mengembangkannya secara terarah.
Menyelesaikan skripsi tepat waktu tentu menjadi harapan banyak mahasiswa. Namun, ketepatan waktu sebaiknya tidak membuat mahasiswa mengabaikan kualitas proses penelitian. Proposal yang disusun dengan pemahaman yang baik akan menjadi dasar yang lebih kuat untuk melanjutkan penelitian.
Oleh karena itu, langkah pertama yang dapat dilakukan mahasiswa bukanlah terburu-buru menyelesaikan proposal, tetapi mulai memahami apa yang ingin diteliti, mengapa hal tersebut penting, dan bagaimana penelitian tersebut dapat dilakukan. Dari langkah sederhana tersebut, perjalanan menyusun skripsi dapat menjadi lebih terarah dan bukan lagi sekadar kewajiban yang harus diselesaikan. (*Mahasiswa Universitas Pamulang)











