Oleh: M. Tegar Ramadhan*
Kita semua tahu bahwa korupsi itu salah. Hukum melarangnya, agama mengecamnya, dan masyarakat hampir selalu menganggapnya sebagai sesuatu yang buruk. Tapi kalau semua orang sudah tahu bahwa korupsi itu salah, kenapa masih ada orang yang tetap melakukannya?
Pertanyaan ini menurut saya menarik, karena mungkin masalahnya tidak sesederhana “karena serakah”. Kalau seseorang sudah tahu bahwa tindakannya salah, mengapa ia tetap memilih untuk melakukannya?
Pertanyaan tersebut kembali terasa relevan ketika kita melihat kasus dugaan korupsi dalam pengelolaan kuota haji yang saat ini sedang diproses secara hukum. Kasus ini menarik bukan hanya karena menyangkut dugaan penyalahgunaan jabatan, tetapi juga karena berkaitan dengan sesuatu yang sangat dekat dengan kepercayaan dan ibadah masyarakat.
Namun, tulisan ini bukan untuk menentukan siapa yang salah atau benar dalam kasus tersebut. Proses hukumnya masih berjalan. Kasus ini saya gunakan sebagai contoh untuk melihat persoalan yang lebih luas, mengapa manusia bisa menyalahgunakan sesuatu yang dipercayakan kepadanya, bahkan ketika ia tahu bahwa hal tersebut salah?
Mengetahui bahwa sesuatu itu salah ternyata tidak selalu cukup untuk membuat seseorang berhenti melakukannya. Dalam kehidupan sehari-hari saja, kita sering mengalami hal yang sama. Kita tahu begadang tidak baik, tetapi tetap melakukannya. Kita tahu terlalu banyak menghabiskan waktu di media sosial tidak selalu bermanfaat, tetapi tetap membuka dan menggulir layar. Kita tahu marah berlebihan bisa menyakiti orang lain, tetapi kadang tetap sulit menahannya.
Kalau dalam hal-hal kecil saja manusia bisa bertindak berlawanan dengan apa yang sebenarnya ia tahu, bagaimana jika yang dihadapi adalah jabatan, kekuasaan, uang, dan kesempatan yang besar?
Di sinilah persoalan korupsi menjadi lebih menarik. Mungkin korupsi bukan hanya tentang seseorang yang tidak tahu mana yang benar dan salah. Bisa jadi, ia juga tahu tentang bagaimana seseorang menghadapi keinginan ketika memiliki kesempatan untuk mendapatkannya, bagaimana ia mempertimbangkan risiko, dan bagaimana ia meyakinkan dirinya bahwa apa yang dilakukan masih bisa diterima.
Manusia bukan hanya makhluk yang bisa berpikir, tetapi juga makhluk yang memiliki keinginan. Kita bisa mengetahui sesuatu itu buruk, tetapi tetap menginginkannya. Kita bisa mengetahui ada konsekuensi, tetapi tetap mengambil risiko. Dan terkadang, kita bahkan bisa menemukan alasan untuk membuat kesalahan yang kita lakukan terasa masuk akal.
Salah satu alasan mengapa manusia bisa bertindak seperti itu adalah karena kita tidak selalu mengambil keputusan hanya dengan pertimbangan yang rasional. Di dalam diri kita ada berbagai dorongan yang membuat sesuatu terasa menarik, terutama ketika ada keuntungan yang bisa diperoleh dengan cepat.
Otak manusia memiliki sistem yang berkaitan dengan penghargaan dan motivasi. Ketika kita melihat sesuatu yang dianggap menguntungkan, sistem ini dapat membuat kita terdorong untuk mengejarnya. Dopamin juga berperan dalam proses tersebut, terutama dalam motivasi dan proses belajar dari penghargaan. Karena itu, sesuatu yang memberikan keuntungan besar dan terasa dekat bisa menjadi sangat menarik, meskipun sebenarnya memiliki risiko di kemudian hari.
Namun, manusia juga memiliki kemampuan untuk menahan dorongan tersebut dan mempertimbangkan akibat dari tindakannya. Kita bisa berhenti sejenak, berpikir, lalu bertanya: “Kalau saya melakukan ini, apa akibatnya nanti?” Kemampuan seperti inilah yang membuat manusia tidak hanya mengikuti apa yang diinginkan saat itu.
Masalahnya, kemampuan untuk berpikir panjang tidak selalu menang. Ketika keuntungan terasa besar, kesempatan terbuka, dan risiko terasa jauh, dorongan untuk mengambil keuntungan sekarang bisa menjadi sangat kuat.
Mungkin di sinilah salah satu bagian dari persoalan korupsi, bukan karena seseorang tidak memiliki kemampuan untuk mengetahui mana yang benar, tetapi karena pada suatu titik, keinginan untuk mendapatkan sesuatu bisa terasa lebih kuat daripada keinginan untuk mempertahankan prinsip.
Tapi persoalannya tidak berhenti pada keinginan. Manusia juga punya kemampuan untuk mencari alasan agar sesuatu yang sebenarnya salah terasa lebih bisa diterima.
Seseorang mungkin awalnya merasa tidak enak ketika mengambil sesuatu yang bukan haknya. Namun, perasaan itu bisa berubah ketika ia mulai berkata kepada dirinya sendiri, “Saya cuma mengambil sedikit”, “Orang lain juga melakukan hal yang sama” atau “Kalau bukan saya, orang lain juga akan mengambilnya.”
Kesalahan yang awalnya terasa jelas perlahan bisa terlihat lebih kecil ketika kita terus mencari alasan untuk membenarkannya. Dalam psikologi, hal seperti ini berkaitan dengan moral disengagement, yaitu ketika seseorang membuat jarak antara tindakan yang dilakukan dengan nilai moral yang sebenarnya ia yakini.
Hal ini menunjukkan bahwa manusia tidak selalu perlu menganggap dirinya sebagai orang jahat untuk melakukan sesuatu yang salah. Terkadang, ia hanya perlu meyakinkan dirinya bahwa apa yang dilakukan tidak terlalu buruk.
Dan mungkin justru di sinilah korupsi menjadi semakin rumit. Karena seseorang tidak hanya berhadapan dengan godaan untuk mengambil keuntungan, tetapi juga dengan kemampuan dirinya sendiri untuk membuat kesalahan tersebut terasa masuk akal.
Tapi apakah semua ini hanya tentang orang yang melakukan korupsi? Menurut saya, tidak sesederhana itu. Lingkungan tempat seseorang berada juga bisa memengaruhi bagaimana ia melihat sebuah kesalahan.
Bayangkan seseorang berada di lingkungan yang menganggap pemberian uang, mengambil sedikit dari anggaran, atau menggunakan jabatan untuk kepentingan pribadi sebagai sesuatu yang “sudah biasa”. Lama-kelamaan, sesuatu yang awalnya terasa salah bisa terlihat semakin normal. Apalagi jika pengawasan lemah dan kemungkinan untuk ketahuan terasa kecil.
Di sinilah kesempatan juga punya peran. Seseorang mungkin memiliki keinginan untuk mendapatkan keuntungan, tetapi tanpa kesempatan dan kekuasaan untuk melakukannya, keinginan tersebut belum tentu berubah menjadi tindakan. Sebaliknya, ketika kekuasaan besar bertemu dengan pengawasan yang lemah, ruang untuk menyalahgunakan amanah menjadi semakin terbuka.
Karena itu, mencegah korupsi tidak cukup hanya dengan meminta setiap orang menjadi baik. Kita juga perlu membangun lingkungan yang membuat tindakan korupsi sulit dilakukan, mudah terdeteksi, dan tidak dianggap sebagai sesuatu yang wajar.
Namun, lingkungan tetap bukan alasan untuk menghilangkan tanggung jawab seseorang. Pada akhirnya, kesempatan bisa membuka pintu, tetapi keputusan untuk masuk tetap berada pada manusia itu sendiri.
Kalau begitu, bagaimana Islam melihat persoalan ini? Salah satu hal yang menarik dalam Islam adalah bahwa manusia tidak dianggap sebagai makhluk yang bebas dari keinginan. Manusia punya hawa nafsu, punya keinginan terhadap harta, kedudukan, dan berbagai hal yang menyenangkan. Tetapi memiliki keinginan bukan berarti manusia boleh mengikuti semuanya.
Justru di situlah pengendalian diri menjadi penting. Alquran menggambarkan orang yang mampu menahan dirinya dari hawa nafsu sebagai orang yang memiliki tempat yang baik di sisi Allah. Artinya, perjuangan manusia bukan hanya melawan sesuatu yang datang dari luar, tetapi juga mengendalikan sesuatu yang ada di dalam dirinya sendiri.
Dalam persoalan korupsi, hal ini menjadi semakin penting karena jabatan pada dasarnya adalah amanah. Ketika seseorang diberi kepercayaan untuk mengurus sesuatu yang menyangkut kepentingan banyak orang, apa yang berada di tangannya bukan berarti menjadi miliknya. Ada hak orang lain di dalamnya dan ada tanggung jawab yang harus dijaga.
Karena itu, mengambil harta yang bukan haknya bukan hanya persoalan melanggar aturan negara. Dalam Islam, mengambil atau memakan harta orang lain dengan cara yang batil juga dilarang. Pada akhirnya, seseorang mungkin bisa menyembunyikan tindakannya dari manusia, tetapi tidak dari Allah Swt.
Di sinilah konsep amanah menjadi penting. Pengawasan dari manusia mungkin bisa membuat seseorang takut melakukan kesalahan, tetapi ketika pengawasan itu tidak ada, yang tersisa adalah kesadaran bahwa dirinya tetap bertanggung jawab atas apa yang dilakukan.
Mungkin karena itu, melawan korupsi tidak hanya membutuhkan hukum yang kuat dan sistem pengawasan yang baik. Kita juga membutuhkan manusia yang memiliki kemampuan untuk berkata “tidak” ketika memiliki kesempatan untuk mengambil sesuatu yang sebenarnya bukan haknya.
Pada akhirnya, mungkin tidak ada satu jawaban sederhana untuk menjelaskan mengapa seseorang melakukan korupsi. Ada keinginan untuk mendapatkan sesuatu, ada kemampuan untuk membenarkan diri sendiri, ada lingkungan yang mungkin memberi kesempatan, dan ada pilihan yang akhirnya diambil oleh orang tersebut.
Namun, memahami semua hal itu bukan berarti membenarkan korupsi. Justru dengan memahami mengapa manusia bisa melakukan kesalahan, kita bisa melihat bahwa memberantas korupsi tidak cukup hanya dengan menghukum orang yang sudah melakukannya. Kita juga perlu membangun sistem yang lebih baik, lingkungan yang tidak membiasakan penyimpangan, dan yang tidak kalah penting, manusia yang mampu mengendalikan dirinya ketika berada dalam posisi yang penuh dengan godaan.
Persoalan korupsi pada akhirnya bukan hanya tentang uang yang diambil atau aturan yang dilanggar. Ada persoalan yang lebih dalam tentang bagaimana seseorang menggunakan kepercayaan ketika ia diberi kekuasaan.
Mungkin ukuran seseorang dalam memegang amanah bukan ketika tidak ada kesempatan untuk berbuat salah, tetapi ketika kesempatan itu ada dan ia tetap memilih untuk tidak melakukannya.
Sebab pada akhirnya, manusia mungkin bisa menyembunyikan apa yang dilakukannya dari orang lain. Tetapi ia tetap harus hidup dengan pilihannya sendiri dan, bagi orang yang percaya kepada Tuhan, mereka harus mempertanggung jawabkannya di hadapan Allah Swt. (*Mahasiswa Fakultas Agama Islam Unikarta)











