Oleh: Lumngatul Khabibah*
Memilih jurusan kuliah sering dianggap sebagai salah satu keputusan besar yang akan menentukan masa depan. Tidak heran jika banyak calon mahasiswa merasa harus memilih jurusan dengan sangat hati-hati. Namun, bagaimana jika setelah menjalani beberapa semester justru muncul pertanyaan, “Sepertinya saya salah jurusan?”
Fenomena seperti ini sebenarnya cukup dekat dengan kehidupan mahasiswa. Ada yang memilih jurusan karena keinginan orang tua, mengikuti pilihan teman, mengejar prospek pekerjaan, atau sekadar mengikuti tren yang sedang dianggap menjanjikan. Ada pula yang memilih tanpa benar-benar mengenal minat dan kemampuan dirinya sendiri. Awalnya mungkin terasa biasa saja, tetapi setelah menjalani perkuliahan, barulah muncul rasa tidak cocok, kehilangan semangat, bahkan keinginan untuk berhenti.
Dalam perspektif Pendidikan Agama Islam (PAI), persoalan memilih jurusan sebenarnya tidak hanya berkaitan dengan kecocokan akademik atau prospek pekerjaan. Pendidikan memiliki tujuan yang lebih luas, yaitu membantu manusia mengembangkan ilmu, potensi, akhlak, dan tanggung jawabnya.
Karena itu, keberhasilan seorang mahasiswa tidak seharusnya hanya dilihat dari apakah jurusan yang dipilihnya sesuai dengan pekerjaan, tetapi juga dari proses bagaimana pendidikan tersebut membentuk dirinya.
Penelitian yang terbit dalam Jurnal Didactical Mathematics pada 2025 menunjukkan bahwa persoalan ini memang bukan sekadar perasaan sesaat. Penelitian terhadap mahasiswa Pendidikan Matematika UIN Raden Intan Lampung menemukan beberapa faktor yang menyebabkan mahasiswa merasa salah memilih jurusan, seperti prospek kerja, pengaruh keluarga atau guru, serta kurangnya pemahaman mengenai kurikulum. Dampaknya juga dapat dirasakan dalam proses perkuliahan, mulai dari rendahnya motivasi belajar, kesulitan memahami materi, hingga tekanan psikologis.
Lalu, apakah salah jurusan berarti salah masa depan? Menurut saya, tidak. Jurusan memang penting. Pilihan program studi dapat memberikan dasar pengetahuan dan membuka peluang tertentu setelah lulus. Namun, perjalanan seseorang setelah kuliah tidak selalu berjalan lurus sesuai dengan nama jurusan yang tertulis di ijazah.
Hal ini pernah disampaikan oleh Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Nadiem Makarim pada 2021. Saat itu, ia menyebut bahwa maksimal sekitar 20 persen lulusan perguruan tinggi bekerja sesuai dengan program studinya, sedangkan sekitar 80 persen bekerja di luar bidang yang mereka pelajari. Angka tersebut merupakan pernyataan pada 2021 dan bukan data terbaru, sehingga tidak tepat jika digunakan sebagai gambaran kondisi lulusan perguruan tinggi Indonesia saat ini. Namun, pernyataan tersebut tetap memberikan gambaran bahwa hubungan antara jurusan kuliah dan pekerjaan tidak selalu berjalan satu arah.
Artinya, kuliah seharusnya tidak hanya dipandang sebagai jalan untuk mendapatkan pekerjaan yang sama persis dengan jurusan. Selama berada di kampus, mahasiswa sebenarnya sedang mengumpulkan banyak bekal. Mereka belajar menyampaikan pendapat, bekerja sama dengan orang lain, menyelesaikan masalah, membangun relasi, mengatur waktu, beradaptasi dengan lingkungan, hingga berani mencoba hal-hal baru.
Dalam PAI, proses tersebut dapat dilihat lebih luas lagi. Pendidikan bukan hanya tentang seberapa banyak pengetahuan yang diperoleh, tetapi juga bagaimana ilmu tersebut memengaruhi sikap dan perilaku seseorang. Alquran memberikan kedudukan yang tinggi kepada orang-orang yang beriman dan berilmu. Dalam QS. Al-Mujadilah ayat 11, Allah menjelaskan bahwa orang-orang yang beriman dan berilmu akan diangkat derajatnya. Hal ini menunjukkan bahwa ilmu memiliki nilai penting dalam kehidupan seorang Muslim, sehingga pendidikan tidak semestinya hanya berorientasi pada gelar atau pekerjaan.
Bekal dari perkuliahan seperti kemampuan berkomunikasi, berpikir kritis, bekerja sama, dan bertanggung jawab sering kali justru baru terasa manfaatnya ketika mahasiswa mulai memasuki kehidupan setelah kampus. Dunia kerja memang membutuhkan pengetahuan sesuai bidang tertentu, tetapi kemampuan seseorang dalam menggunakan pengetahuan tersebut juga tidak kalah penting.
Contoh yang cukup dekat dengan masyarakat Indonesia adalah Raditya Dika. Ia merupakan alumni Departemen Ilmu Politik FISIP Universitas Indonesia. Namun, perjalanan kariernya berkembang di dunia kreatif sebagai penulis, komika, aktor, dan sutradara. Bahkan ketika berbicara kepada mahasiswa UI, Raditya Dika pernah mendorong mahasiswa untuk menemukan keunikan diri dan terus mengembangkan kemampuan selama menjalani masa kuliah.
Kisah tersebut bukan berarti Raditya Dika adalah contoh mahasiswa yang “salah jurusan”. Kita tidak bisa menyimpulkan hal itu karena ia sendiri tidak menyatakan demikian. Namun, perjalanannya menunjukkan bahwa bidang pendidikan dan perjalanan karier seseorang tidak selalu harus berjalan dalam garis yang sama. Jurusan yang dipelajari tetap menjadi bagian dari proses pendidikan, tetapi seseorang masih memiliki ruang untuk mengembangkan kemampuan dan menemukan jalannya sendiri.
Hal yang sama dapat terjadi pada mahasiswa PAI. Lulusan PAI memang memiliki peluang untuk menjadi guru atau pendidik, tetapi perkembangan kemampuan mereka tidak harus berhenti pada satu bidang pekerjaan.
Selama kuliah, mahasiswa PAI juga dapat mengembangkan kemampuan dalam dakwah, kepenulisan, organisasi, pengelolaan kegiatan, komunikasi, media, maupun kegiatan sosial. Ilmu yang diperoleh dari pendidikan Islam dapat menjadi dasar untuk menjalankan berbagai aktivitas tersebut dengan tetap membawa nilai-nilai keislaman.
Karena itu, mahasiswa yang merasa salah jurusan tidak seharusnya langsung menganggap dirinya gagal. Perasaan tidak cocok memang perlu diperhatikan, tetapi bukan berarti semuanya sudah terlambat. Ada mahasiswa yang akhirnya bertahan dan menemukan cara untuk menikmati bidangnya. Ada pula yang mulai menemukan minat baru melalui organisasi, komunitas, pekerjaan, kegiatan sosial, atau pengalaman lain di luar kelas.
Yang penting adalah jangan berhenti mengenali diri sendiri. Jika merasa tidak cocok dengan jurusan, mahasiswa dapat mulai bertanya: bagian mana yang sebenarnya tidak saya sukai? Apakah saya benar-benar tidak cocok dengan bidang ini, atau hanya sedang merasa lelah dengan tugas dan tekanan perkuliahan? Apakah saya sudah mencoba mencari pengalaman lain di dalam bidang tersebut? Pertanyaan-pertanyaan seperti ini penting agar keputusan yang diambil tidak hanya berdasarkan emosi sesaat.
Dalam hal ini, mahasiswa juga perlu memahami bahwa setiap orang memiliki potensi yang berbeda. Pendidikan Islam tidak hanya mengarahkan manusia untuk memperoleh pengetahuan, tetapi juga mendorong seseorang untuk mengembangkan potensi yang dimilikinya dan menggunakan ilmu tersebut untuk kebaikan.
Ketika seorang mahasiswa menemukan bahwa dirinya memiliki kemampuan lain, hal tersebut tidak selalu berarti ia harus meninggalkan pendidikan yang sedang dijalaninya. Bisa jadi, kemampuan tersebut justru dapat dikembangkan sebagai bagian dari perjalanan pendidikannya.
Di sisi lain, persoalan salah jurusan juga tidak sepenuhnya menjadi tanggung jawab mahasiswa. Orang tua memiliki peran besar dalam membantu anak menentukan pendidikan. Memberikan arahan tentu merupakan bentuk perhatian, tetapi keputusan tersebut sebaiknya tetap mempertimbangkan minat, kemampuan, dan kesiapan anak. Sebab, yang akan menjalani proses perkuliahan selama bertahun-tahun bukan orang tua, melainkan mahasiswa itu sendiri.
Bagi mahasiswa PAI, hal ini juga menjadi pengingat bahwa pendidikan agama tidak seharusnya dipahami hanya sebagai jalan menuju profesi tertentu. Ilmu agama yang dipelajari di bangku kuliah memiliki fungsi yang lebih luas, yaitu menjadi bekal dalam menjalani kehidupan, membangun hubungan dengan sesama, dan memberikan manfaat bagi masyarakat. Dengan demikian, keberhasilan pendidikan tidak hanya terlihat dari gelar yang diperoleh, tetapi juga dari bagaimana ilmu tersebut diwujudkan dalam kehidupan nyata.
Pada akhirnya, memilih jurusan memang penting, tetapi jangan sampai membuat seseorang merasa bahwa masa depannya sudah ditentukan sejak hari pertama masuk kuliah. Masih ada banyak kemungkinan yang dapat terjadi setelahnya. Seseorang bisa menemukan kemampuan baru, mencoba bidang yang berbeda, membangun pengalaman, bahkan mengubah arah kariernya.
Pertanyaannya, apakah mahasiswa yang salah jurusan berarti salah masa depan? Belum tentu. Begitu pula, apakah kuliah hanya soal mendapatkan gelar? Rasanya juga tidak sesederhana itu.
Dalam pandangan PAI, pendidikan memiliki makna yang lebih dalam daripada sekadar memperoleh ijazah. Gelar mungkin menjadi salah satu hasil dari perjalanan kuliah, tetapi bukan satu-satunya hal yang dibawa pulang. Ada ilmu, pengalaman, akhlak, kemampuan, relasi, keberanian, dan proses mengenal diri sendiri yang juga menjadi bagian penting dari perjalanan tersebut.
Sebab, salah memilih jalan bukan berarti perjalanan harus berakhir. Kadang, justru dari jalan yang tidak sesuai rencana, seseorang menemukan arah yang sebenarnya. Dan selama ilmu yang diperoleh dapat membentuk diri menjadi pribadi yang lebih baik serta memberi manfaat bagi orang lain, perjalanan pendidikan itu tetap memiliki makna. (*Mahasiswa Fakultas Agama Islam Unikarta)











