BERITAALTERNATIF.COM – Program tanggung jawab sosial perusahaan atau Corporate Social Responsibility (CSR) PT Mahakam Gerbang Raja Migas (MGRM) menjangkau sejumlah bidang, mulai dari pendidikan, rumah ibadah, kesehatan, hingga penyediaan fasilitas yang menunjang kebutuhan masyarakat.
Salah satu wujudnya ialah pembangunan foodcourt di lingkungan Universitas Kutai Kartanegara (Unikarta) Tenggarong. Fasilitas yang diresmikan pada 13 April 2025 itu dibangun dengan dukungan CSR MGRM senilai hampir Rp 1 miliar.
Selain menjadi fasilitas penunjang aktivitas kampus, foodcourt tersebut berpotensi menjadi ruang kegiatan usaha di lingkungan Unikarta.
Dukungan terhadap fasilitas keagamaan juga dilakukan melalui program perusahaan dan anak usahanya.
Salah satunya pembangunan Masjid Al Hijrah Unikarta yang mendapat kontribusi dari PT Migas Mandiri Pratama Kutai Mahakam (MMPKM) sekitar Rp 899,89 juta pada 2023.
Bantuan pembangunan masjid tersebut dilaksanakan melalui MMPKM berdasarkan penugasan MGRM. Karena itu, program tersebut perlu dibedakan dari pembangunan foodcourt yang didukung langsung oleh CSR MGRM.
Direktur MGRM, Efri Novianto, menjelaskan bahwa program CSR perusahaan dibagi menjadi tiga dimensi, yakni sosial, ekonomi, dan lingkungan.
Pada bidang pendidikan, salah satu contoh dukungan dalam kelompok usaha MGRM terlihat di wilayah pesisir Kecamatan Anggana.
Pada 2020, MMPKM membangun menara penguat sinyal komunikasi dan server jaringan internet untuk SDN 14 Anggana di Desa Tani Baru. Sarana tersebut ditujukan untuk membantu mengatasi keterbatasan jaringan yang menghambat kegiatan belajar.
Pada tahun yang sama, MMPKM membantu renovasi dan peninggian lantai SDN 15 Anggana di Desa Muara Pantuan.
Perbaikan dilakukan karena posisi lantai sekolah lebih rendah daripada permukaan air pasang sehingga bangunan rawan terdampak banjir.
Dua program tersebut menunjukkan bahwa dukungan pendidikan tidak hanya berupa beasiswa atau perlengkapan sekolah, tetapi juga penyediaan infrastruktur yang membantu kegiatan belajar.
Di bidang keagamaan, MGRM menyalurkan bantuan untuk renovasi Masjid Nurul Hidayah di Kelurahan Melayu, Tenggarong, pada September 2025. Bantuan senilai Rp 10 juta itu diwujudkan dalam bentuk pengecatan, biaya tenaga kerja, dan perlengkapan renovasi.
Dalam pemberitaan Berita Alternatif pada September 2025, Efri menjelaskan bahwa tim CSR terlebih dahulu memeriksa kondisi bangunan sebelum bantuan diberikan.
“Kalau dinyatakan layak, barulah tim CSR memberikan rekomendasi kepada kami untuk menyalurkan bantuan,” ungkapnya kepada awak media Berita Alternatif pada Jumat (9/10/2026).
Selain pembangunan dan renovasi rumah ibadah, cakupan program sosial yang dijelaskan Efri meliputi dukungan pendidikan, kesehatan, seni, dan budaya.
Dalam bidang seni budaya, dia juga menyebut bantuan alat musik tingkilan sebagai bagian dari dukungan terhadap kesenian daerah.
Program sosial lainnya diwujudkan melalui kegiatan kesehatan. Pada 13 April 2025, MGRM menggelar sunatan massal gratis yang diikuti 96 peserta.
Secara lebih luas, program CSR di bidang sosial juga mencakup bantuan perlengkapan sekolah, beasiswa bagi siswa yang membutuhkan, dukungan fasilitas pendidikan, serta kegiatan kesehatan bagi masyarakat. Bentuk dan pelaksanaannya mengikuti program yang ditetapkan perusahaan.
Sementara itu, dimensi ekonomi diarahkan pada pemberdayaan masyarakat, khususnya pelaku UMKM.
Program yang disiapkan mencakup pelatihan kewirausahaan, bantuan modal atau peralatan usaha, fasilitasi akses pasar, serta penguatan kapasitas produksi.
Perusahaan juga memasukkan upaya membantu masyarakat memperoleh barang kebutuhan pokok dengan harga lebih terjangkau melalui subsidi biaya angkut.
Pelaksanaan masing-masing program bergantung pada kesesuaian usulan, kebutuhan penerima, dan hasil verifikasi.
Dengan demikian, program yang tercantum dalam cakupan CSR perlu dibedakan dari kegiatan yang telah direalisasikan.
Pada dimensi lingkungan, salah satu contoh kegiatan yang telah dijalankan ialah penyediaan air bersih bagi warga Desa Bendang Raya, Kecamatan Tenggarong.
Program yang diresmikan pada Oktober 2025 itu melibatkan MGRM, Yayasan Abu Dzar Al-Ghifari Kukar, dan pemerintah desa. MGRM memberikan dukungan sebesar Rp 35 juta untuk membantu penyediaan akses air bersih bagi warga.
Dalam pemberitaan Berita Alternatif pada Oktober 2025, Efri menjelaskan pentingnya kerja sama untuk membantu masyarakat yang belum terjangkau layanan dasar.
“Pemerintah memang belum bisa menjangkau sampai ke sini. Peran sektor swasta melalui kerja sama dengan BUMD ini bisa membantu salah satu kebutuhan masyarakat,” terangnya.
Selain penyediaan air bersih, ruang lingkup program lingkungan MGRM mencakup penghijauan, konservasi sumber daya air dan sungai, serta pengelolaan sampah.
Dia mengatakan, setiap usulan bantuan harus sesuai dengan program perusahaan dan melalui pemeriksaan sebelum direalisasikan.
Tim CSR melakukan pengecekan administrasi serta verifikasi langsung untuk memastikan kebutuhan yang diajukan benar-benar ditemukan di lapangan.
“Jadi, tidak serta-merta proposal yang masuk bisa kita eksekusi,” katanya. (*)
Penulis: Ulwan Murtadho
Editor: Devi Nila Sari












