Oleh: Nurul Adha*
“Aku kenyang dianggap tak peka, perjuangan ibu pekerja….” Kutipan kalimat pembuka ini bukan sekedar kalimat biasa, melainkan lirik lagu yang berjudul “Ibu Pekerja” yang dinyanyikan oleh Tantri Syalindri. Lagu ini sangat terkenal dikalangan para ibu pekerja. Karena seolah merefleksikan diri mereka dan menjadi representasi dari perasaan yang mereka rasakan.
Di balik seragam tenaga kesehatan, ada seorang ibu yang tidak hanya berjuang memberikan pelayanan terbaik kepada pasien, tetapi juga berusaha hadir untuk keluarganya. Di tengah tanggung jawab yang berlapis, K3 perlu hadir bukan sekadar untuk melindungi pekerja dari bahaya, melainkan juga untuk menjaga kesehatan, keselamatan, dan kesejahteraan mereka.
Pagi hari bagi seorang ibu yang bekerja di Puskesmas sering kali dimulai sebelum jam kerja tiba. Ada anak yang perlu dipersiapkan, kebutuhan rumah tangga yang harus diselesaikan, dan keluarga yang perlu dipastikan keadaannya sebelum berangkat bekerja. Setelah mengenakan seragam, ia menjalankan perannya sebagai tenaga kesehatan dengan tanggung jawab yang tidak ringan.
Di Puskesmas, setiap hari membawa cerita dan tantangan tersendiri. Ada pasien yang membutuhkan pertolongan, orang tua yang mencemaskan kondisi anaknya, lansia yang memerlukan perhatian, serta masyarakat yang berharap mendapatkan pelayanan kesehatan yang baik.
Di tengah berbagai kebutuhan tersebut, petugas Puskesmas dituntut untuk tetap ramah, teliti, profesional, dan sigap. Mereka harus mampu mengendalikan emosi, menjaga konsentrasi, serta memberikan pelayanan dengan penuh empati.
Namun, ketika jam kerja berakhir, bagi seorang ibu, tanggung jawab tidak serta-merta selesai. Masih ada keluarga yang menunggu, anak yang ingin ditemani, pekerjaan rumah tangga, dan berbagai kebutuhan keluarga yang perlu diperhatikan.
Situasi ini menggambarkan peran ganda ibu pekerja, yaitu ketika tanggung jawab profesional berjalan beriringan dengan tanggung jawab domestik dan pengasuhan. Dalam literatur kesehatan kerja, kondisi ini juga dikenal sebagai work–family conflict atau konflik pekerjaan dan keluarga.
Persoalannya bukan semata-mata tentang kemampuan seorang ibu membagi waktu. Ada faktor lain yang turut menentukan, seperti beban kerja, panjangnya jam kerja, pembagian tanggung jawab di rumah, dukungan dari pasangan, serta kebijakan dan budaya di tempat kerja.
Kesehatan Diri Sendiri Sering Terlupakan
Menjadi tenaga kesehatan berarti bekerja dengan tuntutan fisik, mental, dan emosional. Petugas dapat menghadapi risiko paparan penyakit infeksi, cedera akibat benda tajam, kelelahan karena aktivitas berulang, posisi kerja yang tidak ergonomis, hingga tekanan psikologis akibat beban pelayanan.
Pada saat yang sama, ibu pekerja mungkin masih memikirkan kebutuhan keluarga, kondisi anak, atau urusan rumah yang belum terselesaikan. Beban pikiran tersebut dapat membuat waktu istirahat terasa kurang cukup, bahkan setelah pekerjaan di Puskesmas selesai.
Tantangan ini bukan sekadar persoalan individu. Sebuah scoping review yang dilakukan oleh Alobaid et al. (2020) mengidentifikasi tiga kelompok tantangan yang dihadapi tenaga kesehatan perempuan, yaitu tanggung jawab keluarga, lingkungan kerja, dan stereotip gender. Temuan tersebut menunjukkan bahwa pengalaman perempuan di dunia kerja dipengaruhi oleh hubungan antara tuntutan pekerjaan, kehidupan pribadi, dan lingkungan sosial.
Kajian sistematis yang lebih baru oleh García-Rodríguez et al. (2026), yang mencakup 21 penelitian, juga menemukan keterkaitan antara konflik pekerjaan-keluarga dan risiko masalah kesehatan fisik maupun mental pada perempuan pekerja. Risiko dapat menjadi lebih besar ketika beban keluarga bertemu dengan kondisi kerja yang tidak mendukung.
Sementara itu, penelitian Putri, Hijrianti, dan Syafitri (2024) terhadap 143 ibu yang bekerja sebagai perawat di Indonesia menemukan bahwa dukungan sosial dan self-compassion secara bersama-sama berhubungan dengan prediksi konflik pekerjaan-keluarga. Kedua faktor tersebut menjelaskan 13% variasi konflik pekerjaan-keluarga dalam penelitian itu. Hasil ini mengingatkan kita bahwa dukungan dari keluarga, atasan, dan rekan kerja memiliki arti penting, meskipun masih terdapat banyak faktor lain yang perlu diperhatikan.
Dengan demikian, kelelahan yang dialami ibu pekerja tidak semestinya langsung dianggap sebagai ketidakmampuan mengatur waktu. Bisa jadi, yang dibutuhkan bukan tuntutan untuk menjadi lebih kuat, melainkan lingkungan yang lebih memahami dan mendukung.
Kepedulian terhadap Manusia
Ketika mendengar istilah Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3), sebagian orang mungkin langsung membayangkan alat pelindung diri, sarung tangan, masker, tempat pembuangan limbah medis, atau prosedur pencegahan infeksi. Semua itu memang penting. Namun, K3 memiliki cakupan yang lebih luas. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengidentifikasi berbagai risiko yang dapat dihadapi tenaga kesehatan, meliputi bahaya biologis, kimia, fisik, ergonomi, dan psikososial. Karena itu, perlindungan terhadap tenaga kesehatan harus mencakup kondisi kerja secara menyeluruh, bukan hanya pencegahan kecelakaan yang terlihat.
Panduan bersama WHO dan International Labour Organization (ILO) tahun 2022 juga menekankan pentingnya program K3 yang menyeluruh dan responsif gender untuk melindungi tenaga kesehatan, mencegah penyakit serta cedera akibat kerja, dan mendukung kualitas pelayanan.
Dalam konteks ibu pekerja di Puskesmas, pendekatan K3 yang responsif gender berarti memahami bahwa setiap pekerja memiliki kebutuhan dan situasi yang dapat berbeda. Faktor kehamilan, menyusui, pengasuhan anak, kelelahan, dan tekanan psikososial perlu dipertimbangkan dalam pengelolaan risiko kerja sesuai kondisi serta kebutuhan pekerja.
K3 yang baik tidak hanya bertanya, “Apakah petugas sudah menggunakan APD?” tetapi juga, “Apakah petugas bekerja dalam kondisi yang aman, sehat, dan manusiawi?”
Langkah-langkah yang dapat dikembangkan agar K3 benar-benar dirasakan manfaatnya oleh ibu pekerja di Puskesmas: mengenali risiko kerja secara menyeluruh, membangun pengaturan kerja yang lebih manusiawi, menyediakan dukungan yang ramah bagi ibu, memperkuat dukungan psikososial, melibatkan keluarga sebagai bagian dari dukungan dan menjadikan K3 sebagai budaya bersama.
Pelayanan yang Lebih Baik
Petugas yang memperoleh perlindungan memadai, kesempatan beristirahat, dukungan dari pimpinan, dan lingkungan kerja yang sehat memiliki kondisi yang lebih mendukung untuk menjalankan tugasnya. Sebaliknya, mengabaikan kelelahan dan risiko kerja dapat merugikan petugas sekaligus berpotensi memengaruhi keselamatan dan mutu pelayanan.
Karena itu, memperhatikan ibu pekerja bukanlah bentuk perlakuan istimewa yang mengurangi profesionalisme. Justru, hal tersebut merupakan bagian dari upaya menciptakan lingkungan kerja yang adil, aman, dan berkelanjutan.
Penghargaan terhadap perjuangan ibu pekerja tidak cukup diwujudkan melalui ucapan terima kasih pada Hari Ibu atau peringatan K3. Penghargaan itu perlu hadir dalam kebijakan, pembagian kerja yang adil, fasilitas yang memadai, pencegahan kekerasan, serta kepemimpinan yang mendengarkan kebutuhan petugas.
K3 yang merangkul ibu pekerja adalah K3 yang melihat manusia di balik seragamnya. Mari membangun Puskesmas yang tidak hanya menjadi tempat masyarakat mendapatkan pelayanan kesehatan, tetapi juga tempat para petugas bekerja dengan aman, sehat, dihargai, dan didukung untuk menjalani perannya sebagai tenaga profesional sekaligus bagian dari keluarga. (*Mahasiswi Magister Kesehatan Masyarakat Universitas Mulawarman Samarinda)
Referensi
Alobaid, A. M., Gosling, C. M. R., Khasawneh, E., McKenna, L., & Williams, B. (2020). Challenges faced by female healthcare professionals in the workforce: A scoping review. Journal of Multidisciplinary Healthcare, 13, 681–691. https://doi.org/10.2147/JMDH.S254922
García-Rodríguez, I., Gómez-Salgado, J., Prieto-Callejero, B., Fagundo-Rivera, J., El Khoury-Moreno, L., & García-Iglesias, J. J. (2026). Work-family conflict and its impact on working women’s health: A systematic review. Atención Primaria, 58(2), Article 103391. https://doi.org/10.1016/j.aprim.2025.103391
Putri, D. T. M., Hijrianti, U. R., & Syafitri, D. U. (2024). Social support and self-compassion: Their influence on work-family conflict among mothers employed as nurses. Jurnal Ilmiah Psikologi Terapan, 12(2), 127–132. https://doi.org/10.22219/jipt.v12i2.28660
World Health Organization & International Labour Organization. (2022). Caring for those who care: Guide for the development and implementation of occupational health and safety programmes for health workers. https://www.ilo.org/publications/caring-those-who-care-guide-development-and-implementation-occupational











