Oleh: Nur Amanah*
Di zaman sekarang, HP mungkin menjadi salah satu “pengasuh” paling praktis bagi anak. Ketika anak menangis, HP diberikan. Ketika anak mulai bosan, HP kembali menjadi pilihan. Ketika orang tua sedang sibuk dan ingin menyelesaikan pekerjaan tanpa gangguan, anak diberikan tontonan dari layar.
Dalam beberapa menit, anak yang sebelumnya rewel bisa menjadi tenang. Rumah menjadi lebih sepi, pekerjaan orang tua dapat dilanjutkan, dan semuanya terlihat seperti baik-baik saja. Namun, jika kebiasaan tersebut terus dilakukan, mungkin kita perlu berhenti sejenak dan bertanya: sebenarnya apa yang sedang kita ajarkan kepada anak?
Saya melihat sendiri fenomena tersebut dari lingkungan terdekat saya. Ada seorang anak yang sejak usia sekitar tiga tahun sudah terbiasa bermain HP hingga sekarang mendekati usia enam tahun. Pada awalnya, mungkin tidak ada yang menganggapnya sebagai masalah besar. Justru ketika anak diam karena menonton YouTube, suasana rumah terasa lebih tenang.
Anak memang dapat belajar banyak hal dari internet. Ada video edukasi, lagu anak-anak, cerita, bahkan berbagai materi yang dapat membantu perkembangan pengetahuan. Masalahnya bukan semata-mata pada keberadaan HP, tetapi pada bagaimana HP digunakan dan sejauh mana anak didampingi. Ketika anak dibiarkan memilih sendiri apa yang ingin ditonton tanpa pendampingan, ia belum memiliki kemampuan yang cukup untuk memilah mana yang baik dan mana yang tidak. Anak dapat dengan mudah meniru apa yang dilihatnya karena pada usia tersebut mereka banyak belajar melalui pengamatan dan peniruan.
Hal yang membuat saya miris adalah ketika perilaku yang kurang baik dari video justru lebih cepat ditiru daripada nasihat orang di sekitarnya. Ketika dinasihati, anak mungkin hanya menurut sebentar. Setelah beberapa menit, perilaku yang sama kembali dilakukan.
Kemudian kita sering menyebutnya dengan satu kata: “nakal.”
Tentu tidak adil jika semua perilaku anak disebabkan oleh HP. Setiap anak memiliki karakter, lingkungan, pola asuh, dan kondisi perkembangan yang berbeda. HP juga tidak selalu membawa dampak buruk. Yang perlu diperhatikan adalah bagaimana HP diberikan dan digunakan.
Ketika anak diberikan HP hanya agar diam, tanpa pendampingan dan tanpa batasan yang jelas, lama-kelamaan anak dapat terbiasa menjadikan layar sebagai sumber hiburan utama. Ketika bosan, mencari HP. Ketika menangis, mencari HP. Ketika tidak tahu harus melakukan apa, kembali mencari HP.
Padahal, anak juga perlu belajar bahwa rasa bosan bukan sesuatu yang harus selalu dihilangkan dengan layar. Mereka perlu bermain, berbicara, membaca, bertanya, mencoba sesuatu, bahkan sesekali merasa bosan dan mencari kegiatan sendiri. Dari hal-hal sederhana itulah kemampuan anak untuk berpikir dan belajar dapat berkembang.
Namun, persoalan tentang kebiasaan mencari sesuatu yang instan ternyata tidak berhenti pada masa kanak-kanak. Ketika anak tumbuh menjadi siswa, bentuknya bisa berubah. Dahulu ia mencari HP ketika bosan, kemudian ia mencari internet ketika mendapatkan tugas. Ketika menjadi mahasiswa, kebiasaan tersebut dapat berkembang menjadi sesuatu yang lebih dekat dengan kehidupan kita sehari-hari: copy-paste.
Fenomena copy-paste bukan lagi sesuatu yang asing bagi mahasiswa. Hampir semua informasi dapat ditemukan dengan mudah melalui internet. Kita hanya perlu mengetik beberapa kata di mesin pencarian, lalu muncul berbagai artikel, jurnal, makalah, bahkan jawaban yang sudah jadi. Kemudahan ini sebenarnya sangat membantu, tetapi di sisi lain, kemudahan juga dapat membuat kita lupa bahwa tujuan utama pendidikan bukan sekadar menyelesaikan tugas.
Saya mengatakan hal ini bukan karena merasa sudah menjadi mahasiswa yang paling rajin atau paling benar. Justru sebaliknya, saya sendiri masih menjadi bagian dari masalah tersebut. Ada kalanya ketika mendapatkan tugas membuat makalah atau jurnal, yang ada di pikiran kita hanya satu: bagaimana agar tugas ini cepat selesai?
Kita mencari beberapa referensi, mengambil bagian yang dianggap sesuai, menyusunnya, kemudian mengumpulkannya. Bahkan terkadang kita tidak benar-benar membaca keseluruhan tulisan yang kita buat. Yang penting tugas selesai. Kalau jurnal berhasil terbit, kita senang. Kalau mendapatkan nilai bagus, kita lebih senang lagi. Setelah itu, semuanya selesai.
Tetapi pernahkah kita bertanya: setelah semua itu selesai, sebenarnya apa yang tersisa di kepala kita?
Kita bisa membuat tulisan belasan halaman, referensi bisa berjumlah banyak, jurnal bisa berhasil diterbitkan, dan nilai pun bisa memuaskan. Namun ketika seseorang bertanya, “Sebenarnya apa yang kamu tulis di dalam jurnal itu?”, kita justru kesulitan menjelaskannya.
Kita mendapatkan nilai, tetapi tidak mendapatkan pemahaman. Kita memiliki tulisan, tetapi tidak memiliki pengetahuan yang benar-benar melekat. Ironisnya, terkadang kita terlalu sibuk mencari bukti bahwa kita sudah belajar, sampai lupa memastikan apakah kita benar-benar belajar.
Di sinilah saya merasa bahwa persoalannya bukan hanya tentang HP, internet, atau copy-paste. Persoalan yang lebih dalam adalah kebiasaan kita dalam menghadapi sesuatu: kita terbiasa mencari cara tercepat. Anak mencari cara tercepat untuk menghilangkan rasa bosan, orang tua mencari cara tercepat untuk menenangkan anak, dan mahasiswa mencari cara tercepat untuk menyelesaikan tugas.
Pada akhirnya, tanpa sadar kita membentuk kebiasaan bahwa sesuatu yang baik harus selalu didapatkan dengan cepat dan mudah. Padahal, belajar tidak selalu seperti itu.
Dalam Islam sendiri, proses memperoleh ilmu memiliki kedudukan yang sangat penting. Wahyu pertama yang diturunkan kepada Rasulullah SAW diawali dengan perintah:
“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan.” (QS. Al-‘Alaq: 1)
Perintah membaca tersebut menjadi pengingat bahwa pengetahuan tidak seharusnya diperoleh dengan melewati proses begitu saja. Membaca bukan hanya melihat tulisan, tetapi juga memahami, memperhatikan, dan memikirkan apa yang sedang dibaca.
Karena itu, ketika seorang mahasiswa hanya mengambil tulisan dari internet lalu memasukkannya ke dalam tugas tanpa benar-benar membaca dan memahami isinya, mungkin yang hilang bukan sekadar proses mengerjakan tugas. Yang hilang adalah bagian penting dari proses menuntut ilmu itu sendiri. Internet seharusnya membantu kita belajar, bukan menggantikan keinginan kita untuk belajar. Jurnal seharusnya menjadi bahan untuk memperluas pemahaman, bukan sekadar sumber kalimat yang bisa disalin. Teknologi seharusnya menjadi alat, bukan membuat kita kehilangan kemampuan untuk berpikir sendiri.
Hal yang sama juga berlaku dalam penggunaan HP pada anak. Memberikan HP kepada anak tidak selalu berarti orang tua tidak peduli; bisa jadi orang tua sedang lelah, sibuk, atau memang tidak tahu bagaimana dampak kebiasaan tersebut jika dilakukan terus-menerus. Karena itu, persoalan ini tidak cukup diselesaikan dengan menyalahkan orang tua. Yang lebih penting adalah membangun kesadaran.
Orang tua perlu hadir dalam kehidupan digital anak. Bukan berarti anak harus dijauhkan sepenuhnya dari teknologi, tetapi justru perlu diperkenalkan secara bijak: apa yang boleh ditonton, kapan waktunya menggunakan HP, dan apa yang bisa dilakukan ketika tidak sedang menggunakan HP. Anak juga perlu mendapatkan pengalaman di luar layar, diajak berbicara, bermain, membaca buku, membantu pekerjaan sederhana, belajar mengenal lingkungan, dan berinteraksi langsung dengan orang lain.
Begitu pula di sekolah dan perguruan tinggi. Tugas seharusnya tidak hanya menjadi sesuatu yang harus dikumpulkan, melainkan kesempatan untuk melatih kemampuan membaca, berpikir, menulis, dan menyampaikan pendapat. Guru dan dosen dapat mendorong siswa maupun mahasiswa untuk tidak hanya mengumpulkan tulisan, tetapi juga menjelaskan kembali apa yang mereka tulis. Dengan begitu, seseorang tidak cukup hanya memiliki tugas yang terlihat bagus, tetapi juga harus memahami isi tugas tersebut.
Namun, perubahan itu tidak bisa hanya dibebankan kepada orang tua, guru, atau dosen. Kita sebagai pelajar dan mahasiswa juga perlu bercermin.
Akan terasa aneh jika kita mengkritik anak yang terlalu sering bermain HP, tetapi kita sendiri hampir tidak bisa belajar tanpa HP. Kita mengeluhkan anak yang sulit fokus, tetapi kita sendiri membaca jurnal hanya dari judul dan abstraknya. Kita meminta siswa berpikir kritis, tetapi ketika mendapatkan tugas, kita mencari jawaban yang sudah jadi. Kita berbicara tentang kejujuran dalam pendidikan, tetapi terkadang kita sendiri mengumpulkan tulisan yang bahkan belum benar-benar kita pahami.
Mungkin inilah bagian yang paling sulit untuk diakui: kita tidak selalu menjadi korban dari kemudahan teknologi, tetapi kadang-kadang kita juga menjadi orang yang sengaja memilih kemudahan tersebut. Teknologi memang membuat banyak hal menjadi lebih mudah, tetapi kemudahan tidak selalu membuat kita menjadi lebih pintar. Kita bisa memiliki akses terhadap ribuan jurnal tetapi tidak memahami satu pun secara mendalam, membaca banyak artikel tetapi tidak mampu menjelaskan kembali, atau menghasilkan tulisan yang terlihat ilmiah tetapi sebenarnya hanya menyusun kembali pemikiran orang lain.
Karena itu, mungkin yang perlu kita ubah bukan hanya cara menggunakan teknologi, tetapi juga cara kita memandang proses belajar. Tidak semua hal harus dilakukan dengan cepat. Ada hal-hal yang memang membutuhkan waktu: anak membutuhkan waktu untuk belajar mengendalikan diri tanpa HP, mahasiswa membutuhkan waktu untuk membaca dan memahami jurnal, dan kita membutuhkan waktu untuk salah, berpikir, mencoba lagi, dan akhirnya benar-benar mengerti.
Sebab pendidikan bukan perlombaan untuk melihat siapa yang paling cepat selesai. Pada akhirnya, persoalannya bukan sekadar HP yang berada di tangan anak atau tombol copy yang ditekan mahasiswa, melainkan kebiasaan apa yang sedang kita bentuk melalui keduanya.
Apakah kita sedang mendidik anak untuk berpikir, atau hanya mengajarkan mereka cara tercepat agar tidak menangis? Apakah kita sebagai mahasiswa benar-benar sedang menuntut ilmu, atau hanya sedang belajar bagaimana cara terlihat seperti orang yang sudah belajar?
Mungkin tidak ada salahnya jika sesekali kita berhenti mengejar kata “selesai”, “terbit”, dan “nilai A”, lalu bertanya kepada diri sendiri: setelah semua tugas ini selesai, apakah ilmu itu benar-benar tinggal di kepala kita?
Sebab pada akhirnya, pendidikan seharusnya tidak hanya menghasilkan anak yang tenang, siswa yang patuh, atau mahasiswa yang memiliki nilai tinggi. Pendidikan seharusnya membantu manusia menjadi pribadi yang mampu berpikir, memahami, bersikap jujur, dan bertanggung jawab atas ilmu yang dimilikinya. Karena yang paling penting dari sebuah proses belajar bukanlah seberapa cepat kita mendapatkan jawaban, tetapi seberapa dalam kita memahami apa yang telah kita pelajari. (Mahasiswi Fakultas Agama Islam Unikarta)











