Nasional

Asal Usul Kata Nusantara yang Dijadikan Nama Ibu Kota Baru

Jakarta, beritaalternatif.com – Nusantara terpilih sebagai nama Ibu Kota Negara (IKN) sesuai dengan yang disetujui oleh Presiden Joko Widodo pada Jumat (14/1/2022) lalu.

Istilah Nusantara mungkin sudah tidak asing lagi bagi sebagian masyarakat Indonesia karena memiliki kaitan erat dengan sejarah.

Pasalnya, istilah ini sudah ada sejak abad ke-13, tepatnya digunakan pada masa kejayaan Kerajaan Majapahit. Sejarah mencatat, kata ini pertama kali tertulis dalam literatur berbahasa Jawa Pertengahan (abad ke-12 hingga abad ke-16) untuk menggambarkan konsep kenegaraan yang dianut Majapahit.

Istilah Nusantara pada Masa Majapahit

Disadur dari Menggenggam Nusantara Raya karya Abdurrahman Misno dan Sabri Mohamad Sharif, konsep kenegaraan yang dianut oleh Kerjaaan Majapahit adalah keyakinan tentang Raja-Dewa atau raja yang memerintah merupakan jelmaan dewa.

Sebab itulah, daerah kekuasaannya diambil dari konsep kekuasaan seorang dewa yang terbagi menjadi tiga wilayah. Ketiganya adalah:

Pertama, Negara Agung, merupakan daerah sekeliling ibu kota kerajaan tempat raja memerintah. Kedua, Mancanegara, mencakup daerah-daerah di Pulau Jawa dan sekitarnya yang masih memiliki budaya mirip dengan Negara Agung tetapi sudah berada di daerah perbatasan.

Ketiga, Nusantara, bermakna pulau lain di luar pulau Jawa. Cakupannya adalah daerah di luar pengaruh budaya Jawa. Namun, masih diklaim sebagai daerah taklukan dan penguasanya harus membayar upeti.

Bukti lain dari penggunaan Nusantara telah ada sejak zaman Majapahit dapat terlihat dari naskah Sumpah Palapa. Isi Sumpah Palapa yang diucapkan oleh Mahapatih Gajahmada pada 1336 adalah sebagai berikut,

Lamun huwus kalah Nusantara ingsun amukti palapa, lamun kalah ring Gurun, ring Seram, Tanjungpura, ring Haru, ring Pahang, Dompo, ring Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, samana ingsun amukti palapa (Jika telah mengalahkan Nusantara, saya (baru akan) melepaskan puasa. Jika mengalahkan Gurun, Seram, Tanjung Pura, Haru, Pahang, Dompo, Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, demikianlah saya (baru akan) melepaskan puasa).

Jadi, pada masa Majapahit, istilah Nusantara masih dipahami sebagai pulau-pulau yang berada di luar pulau Jawa. Sebab itulah, istilah Nusantara secara bahasa tersusun dari dua kata yakni nusa dan antara.

Nusa bermakna pulau, sementara antara bermakna luar atau seberang. Ada pendapat lain yang menafsirkan antara sebagai di antara. Hingga membentuk makna yang selaras dengan makna penggunaan istilah Nusantara pada zaman Majapahit.

Istilah Nusantara Pernah Mencakup Negara Tetangga

Melanjutkan konsep Majapahit, istilah Nusantara kemudian disebutkan dalam Kitab Negarakertagama. Dalam kitab tersebut, wilayah yang termasuk dalam Nusantara mencakup sebagian besar wilayah Indonesia pada zaman sekarang dan juga negara-negara tetangga.

Negara tetangga yang dimaksud adalah Malaysia, Singapura, Brunei, dan sebagian kecil bagian selatan. Hingga perkembangan politik pada abad selanjutnya, istilah Nusantara kemudian digunakan dalam cakupan yang lebih luas lagi.

Istilah Nusantara digunakan untuk menggambarkan kesatuan geografi-antropologi kepulauan yang terletak di antara benua Asia dan Australia. Termasuk Semenanjung Malaya yang biasanya tidak mencakup Filipina.

Dalam perkembangan terakhir, Nusantara juga pernah digunakan sebagai padanan untuk Kepulauan Melayu (Malay Archipelago). Sebuah istilah populer pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20 dalam literatur berbahasa Inggris.

Istilah Nusantara sempat tenggelam usai keruntuhan Majapahit. Namun, pada awal abad ke-20, istilah Nusantara kembali digaungkan oleh tokoh pendidikan nasional Ki Hajar Dewantara. Saat itulah mulai digunakan sebagai salah satu nama alternatif untuk negara yang merdeka setelah kekuasaan Hindia-Belanda.

Meskipun nama Indonesia yang bermakna Kepulauan Hindia telah disetujui untuk digunakan sebagai nama resmi, kata Nusantara tetap dipakai sebagai sinonim untuk menjelaskan makna kepulauan Indonesia hingga sekarang. (*)

Sumber: Sejarah Istilah Nusantara, Nama Calon Ibu Kota Negara

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

To Top