Internasional

Tujuh Tahun Serangan Militer Berdarah Arab Saudi-Uni Emirat ke Yaman

Jakarta, beritaalternatif.com – Konflik yang diikuti serangan berdarah ke Yaman telah dimulai sejak Kebangkitan Dunia Arab (Arab Spring) pada 2011 hingga 2012. Kala itu, rakyat di berbagai negara di Timur Tengah turun ke jalan. Mereka berdemonstrasi menuntut keadilan ekonomi dan politik.

Secara umum, penyebabnya karena banyak negara di Timur Tengah yang dipimpin presiden atau raja yang telah memimpin negaranya selama puluhan tahun, namun kepemimpinan mereka tak membawa kesejahteraan bagi masyarakat.

Sebaliknya, negara-negara di Timur Tengah justru mengalami kesenjangan ekonomi. Faktanya, terdapat sebagian elite yang kaya raya. Sementara sebagian masyarakat hidup dalam kemiskinan. Hal inilah yang terjadi di salah satu negara di Timur Tengah, Yaman.

Pengamat Timur Tengah, Dina Sulaeman mengungkapkan, Presiden Ali Abdullah Saleh yang telah berkuasa selama 33 tahun didemo secara besar-besaran oleh rakyatnya.

Penyebabnya, Yaman memiliki sumber minyak yang sangat melimpah, namun hasilnya tak banyak dirasakan sebagian rakyat. Pasalnya, rezim Abdullah acap melakukan korupsi dan kekerasan dalam membungkam perlawanan rakyatnya. “Akhirnya demo semakin masif,” ungkap Dina sebagaimana dikutip beritaalternatif.com di kanal YouTubnya, Jumat (4/2/2022).

Ia menjelaskan, para demonstran di Yaman kala itu berasal dari berbagai lapisan masyarakat. Tekanan rakyat inilah yang membuat Abdullah Saleh mundur dari kursi kekuasaannya pada tahun 2012.

Ia kemudian digantikan oleh Presiden Mansur Hadi. Namun, lagi-lagi Hadi tak mampu memenuhi tuntutan rakyat di bidang ekonomi. Demonstrasi pun kembali berlangsung di Yaman.

Mansur Hadi. (Middleeastonitor.com)

Dina menegaskan, para demonstran yang menuntut Hadi turun dari jabatannya tak hanya berasal dari kelompok Al Houthi. Namun, mereka berasal dari berbagai kalangan, termasuk para pendukung presiden sebelumnya, Abdullah Saleh.

Aksi demonstrasi itu memaksa Presiden Hadi mengundurkan diri dari jabatannya pada 22 Januari 2015. Perdana Menteri Yaman, Khaled Bahah, juga mengundurkan diri dari jabatannya. Pengunduran diri Hadi dan Khaled mengakibatkan kekosongan kekuasaan (vacum of power) di Yaman.

Hadi kemudian mencari pelindung ke Arab Saudi saat Kota Sana’a telah dikuasai Ansarullah, yang di dalamnya bergabung berbagai faksi. Ansarullah tak hanya Houthi, tetapi terdiri dari sejumlah kelompok. Hanya saja, kelompok Houthi menjadi pemimpin dalam faksi tersebut.

Setelah menguasai Sana’a, Houthi membentuk pemerintahan baru di Yaman. Namun, langkah ini ditentang keras Saudi. Karena itu, Saudi, Amerika Serikat (AS), dan Inggris menginginkan rezim baru di Yaman. Sebab, pemerintahan di bawah Houthi tak sejalan dengan kehendak tiga negara tersebut. Mereka pun berusaha keras mengembalikan Hadi ke tampuk pemerintahan Yaman.

Serangan ke Yaman

Pada 25 Maret 2015, Duta Besar Saudi untuk AS, Adel al-Jubeir, mengumumkan bahwa Saudi telah memulai serangan ke Yaman. Pengumuman di hadapan awak media itu disampaikan di Kedutaan Besar Saudi untuk AS di Washington.

Al-Jubeir menegaskan, pihaknya melakukan serangan bersama pasukan koalisi dari sepuluh negara. Tujuannya, melindungi “pemerintahan yang sah”, yaitu Presiden Hadi yang “telah digulingkan milisi Houthi”.

Sejak awal, kata Dina, Saudi beserta sekutunya berusaha memosisikan perseteruan itu terjadi antara milisi Houthi vs Hadi. Padahal, Ansarullah terdiri dari berbagai kalangan di Yaman. Fakta ini diabaikan oleh negara-negara yang bertolak-belakang dengan Ansarullah.

Dia mengungkapkan, Saudi melakukan serangan ke Yaman atas dasar surat dari Hadi sehari sebelumnya. “Apa isi suratnya? Suratnya meminta agar Saudi memberikan dukungan dengan berbagai cara, termasuk intervensi militer,” jelasnya.

AS di bawah kepemimpinan Donald Trump, ungkap Dina, mendukung penuh operasi militer yang didukung negara-negara yang tergabung dalam Dewan Kerja Sama Teluk tersebut. Hal ini dinyatakan sendiri oleh pejabat Amerika kala itu.

Meskipun pasukan AS tidak terjun dalam operasi militer secara langsung, para pejabat Negeri Paman Sam mendukung rencana Saudi untuk mengoordinasikan dukungan militer dan intelijen dalam serangan terhadap Yaman.

Ia menyimpulkan, serangan yang dilakukan pasukan koalisi yang dipimpin Saudi tak bisa dilepaskan dari kepentingan AS. Karenanya, bila ingin menganalisis kasus Yaman secara obyektif, maka tak bisa hanya melibatkan aktor internal semata. Misalnya pertarungan antara Houthi vs Hadi.

Korban serangan militer koalisi Saudi-Uni Emirat. (Reuters)

“Atau banyak sekali yang mem-framing bahwa ini Saudi vs Iran. Tidak. Karena sejak awal sudah jelas dinyatakan bahwa ada dukungan dari Amerika Serikat,” jelas Dina.

Di awal serangan ke Yaman, ungkap dia, Saudi hanya akan melakukan serangan terbatas. Hal ini berangkat dari prediksi Saudi bahwa milisi Ansarullah dapat dikalahkan dalam waktu singkat.

“Sekarang sudah tujuh tahun berlalu. Sekarang Januari. Nanti bulan Maret itu tujuh tahun. Tapi mereka tidak juga bisa dikalahkan oleh koalisi Saudi,” katanya.

Bahkan, Pasukan Yaman berhasil melakukan serangan balasan ke wilayah Saudi. Baru-baru ini, dunia juga dihebohkan dengan keberhasilan pasukan Yaman mengirim rudal-rudal ke wilayah Uni Emirat Arab.

Berbagai negara, termasuk Indonesia, beramai-ramai menyatakan kecaman atas serangan itu. “Seolah fakta bahwa selama tujuh tahun terakhir Yaman Utara dibombardir oleh Saudi dan Uni Emirat Arab dengan dukungan senjata-senjata yang dikirim Amerika Serikat dan Inggris itu dilupakan begitu saja,” sesal Dina.

Serangan mengerikan terhadap Yaman menimbulkan berbagai kerusakan yang sangat parah. Namun, dunia seolah buta terhadap kondisi Yaman. Masyarakat dunia menyuarakan keprihatinan terhadap Palestina yang dijajah Israel, namun melupakan masyarakat Yaman yang juga merasakan penderitaan yang sama.

“Tapi Palestina mendapatkan dukungan yang sangat banyak dari warga dunia. Sementara Yaman itu seolah diabaikan oleh dunia. Tidak banyak orang yang bersuara membela Yaman,” ucapnya.

Media-media arus utama (mainstream) juga membingkai peristiwa (framing) di Yaman dengan perang terhadap pasukan pemberontak Houthi yang didukung Iran. Dukungan dari Iran dibingkai sebagai embel-embel untuk menutupi fakta sebenarnya.

Serangan militer terhadap Yaman itu, lanjut Dina, dibingkai sebagai usaha Saudi dan sekutunya mendukung “pemerintahan yang sah”. Orang-orang yang bersimpati terhadap Yaman serta mengkritik Saudi dan Uni Emirat Arab dianggap sebagai orang-orang yang “mengidap kesalahan berpikir”.

“Karena ini kan pemberontakan. Nah, itu tujuan framing-nya. Akhirnya ke arah sana,” katanya.

Pengungsian dan Kelaparan

Untuk memberikan gambaran yang utuh terhadap Yaman, Dina pun menjelaskan Yaman secara demografis. Negara tersebut memiliki ibu kota yang diberi nama Sana’a. Penduduknya berjumlah sekitar 3 juta jiwa.

Pendudukan Yaman Utara berjumlah 21 juta jiwa atau 80 persen dari total populasi negara tersebut. Kawasan yang dibombardir Saudi-Uni Emirat adalah bagian utara Yaman itu.

Dina mengungkapkan, pada tahun 1990-an, kawasan Yaman dibagi menjadi dua negara: Yaman Utara atau Republik Arab Yaman dan Yaman Selatan atau People’s Democratic Republic of Yemen.

“Yaman Selatan ini tidak diserang oleh koalisi Saudi, khususnya kawasan Hadramaut. Kawasannya itu sangat luas, tapi penduduknya hanya 1,4 juta orang,” ungkapnya.

Karenanya, keadaan Yaman Selatan relatif aman dibandingkan Yaman Utara. Pasalnya, Saudi tak menyerang dan mengebom kawasan tersebut, sehingga perekonomian, layanan pendidikan dan rumah sakit tetap berjalan normal.

Anak-anak di Yaman mengalami kelaparan di tengah pengungsian akibat serangan militer Saudi. (Istimewa)

Pelajar-pelajar dari Indonesia pun bisa keluar-masuk Yaman Selatan. Beberapa kali juga ulama dari kawasan tersebut berkunjung ke Indonesia. “Mereka itu berasal dari Hadramaut,” bebernya.

Dia mengurai, warga Yaman Utara yang mengalami kelaparan karena tak mendapatkan suplai makanan dari dunia internasional berasal dari Hajjah Al Job dan Hudaida. Daerah tersebut mengalami darurat pangan. Sementara di Provinsi Sana’a serta ibu kota Sana’a masih dalam taraf krisis pangan.

Sedangkan Hadramaut yang tak dibombardir Saudi dan sekutunya tercatat mengalami kondisi beragam: tekanan, krisis, dan darurat pangan.

Meski kondisi pangannya beragam, populasi Hadramaut hanya 1,4 juta jiwa. Jumlahnya jauh di bawah Yaman Utara yang berjumlah 21 juta orang.

Dengan jumlah populasi yang besar, penduduk Yaman Utara pun melakukan pengungsian di kawasan yang sama. Hal ini dilakukan warga Yaman setelah rumah-rumah mereka dibombardir Saudi dan Uni Emirat Arab.

Dina mengungkapkan, warga Yaman Utara yang mengungsi terdiri dari Saada sebanyak 103 ribu orang, Al Jawf 125 ribu orang, Hajjah 563 ribu orang, Sana’a 96 ribu, Ma’arif 800 ribu, dan Hudaida 425 ribu pengungsi.

Hudaida merupakan kota pelabuhan yang dibom koalisi Saudi pada 2018 lalu. Padahal, Hudaida merupakan akses masuk 90 persen bantuan pangan dan obat-obatan ke Yaman Utara.

“Akibatnya, rakyat Yaman Utara semakin kelaparan dan kekurangan obat-obatan karena tidak bisa lagi masuk ke kawasan mereka,” tutup Dina. (ln)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

To Top