Internasional

Abdel Bari Atwan Bahas Delapan Poin Penting Pidato Sekjen Hizbullah

BERITAALTERNATIF.COM – Abdel Bari Atwan menilai bahwa pidato Sekjen Hizbullah Sayid Hasan Nasrallah pada Sabtu lalu sangat berbeda dengan pidato-pidato sebelumnya.

Bukan hanya dari sisi ketegasan atau pesan yang disampaikannya kepada pihak Lebanon, regional, dan internasional, tapi juga karena Sayid Nasrallah merefleksikan amarah yang berusaha dipendamnya. Ia bisa mengendalikan diri dengan sangat baik, namun di saat bersamaan, menunjukkan bahwa kesabarannya sudah habis.

“Sayid Nasrallah menggeretakkan giginya dalam pidato, sampai saya merasa ia akan mengumumkan perang, operasi pembebasan ladang gas dan minyak Lebanon, serta menyalakan api perang regional, yang tanda-tandanya sudah kita saksikan lebih dari satu front, baik di Lebanon, Palestina, Yaman, Irak, Suriah, dan Iran; tanda-tanda yang semakin menguat,” tulis Redaktur Rai al-Youm ini, diberitakan Fars.

Menurut Atwan, pidato terbaru disampaikan di pagi hari, berbeda dengan lazimnya yang disiarkan di malam hari. Pidato ini mengandung sejumlah poin penting.

Pertama, eksplorasi gas di Karish oleh Israel adalah garis merah, yang tak akan dilakukan selama Lebanon belum mendapatkan haknya. Pernyataan “mata dan rudal kami mengarah ke Karish” adalah satu penanda utama kondisi darurat dan persiapan untuk sebuah peristiwa penting.

Kedua, ucapan Sayid Nasrallah soal peluang yang diberikannya kepada Pemerintah Lebanon untuk melanjutkan perundingan adalah jawaban terhadap tudingan bahwa Sekjen Hizbullah tidak sabar untuk segera berperang.

Ketiga, penegasan bahwa Hizbullah berlepas diri dari pihak yang berkompromi dengan AS dan Israel, yaitu ketika Sayid Nasrallah berkata, “Lebanon kami berbeda dengan Lebanon kalian. Puji Tuhan karena kami tidak sama dengan kalian. Pembunuhan yang kalian lakukan menunjukkan identitas berdarah kalian. Dengan apa yang kalian lakukan di Sabra dan Shatila, kalian tunjukkan bahwa kalian bukan kami, yang meyakini budaya kematian. Kami mengimani budaya kehidupan. Kami membebaskan selatan Lebanon tanpa mengorbankan seekor ayam pun.”

Keempat, pembantaian Sabra dan Shatila bukan hanya menelan korban Palestina saja, tapi juga Lebanon. Sebanyak 3.500 orang Palestina dan 1.900 orang Lebanon gugur dalam pembantaian tersebut, sementara hampir 500 orang Lebanon juga hilang.

Kelima, Sayid Nasrallah mengecam keras Arab dan media-medianya, yang mungkin ini adalah pertama kali dilakukan Sekjen Hizbullah. Penyebabnya adalah meski sebanyak 20 juta peziarah Arbain hadir di Najaf dan Karbala, serta rakyat Irak begitu bermurah hati menjamu mereka, namun tak ada media Arab yang meliputnya, seolah peristiwa besar ini terjadi di galaksi lain.

Keenam, Sayid Nasrallah mengapresiasi pernyataan Hamas soal rekonsiliasi dengan Suriah. Ia menyebutnya sebagai sarana untuk melawan konspirasi yang ingin merusak persatuan nasional.

Ketujuh, Sekjen Hizbullah memperingatkan Pemerintah Lebanon agar tidak memercayai jaminan dari AS, sebab Washington tidak pernah menghormati janjinya serta tidak mendukung rakyat Palestina dan Lebanon dalam peristiwa Sabra dan Shatila. Peringatan ini disampaikan setelah terbetiknya berita bahwa AS siap memberikan jaminan kesepakatan penentuan perbatasan bahari.

Kedelapan, Sayid Nasrallah menyebut adanya kesempatan bersejarah bagi Arab untuk merebut kembali aset minyak dan penggunaannya untuk keluar dari krisis-krisis yang dihadapi; sebuah kesempatan yang mungkin tak akan terulang lagi.

Menurut Atwan, mungkin yang dimaksud adalah kondisi terjepit Barat dalam perang Ukraina serta perselisihan antara mereka dan AS dalam kejadian ini. (*)

Sumber: Poros Perlawanan

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

To Top