Internasional

Solusi Satu Negara di Tanah Palestina Punya Dasar Rasional

BERITAALTERNATIF.COM – Pengamat Timur Tengah dari Universitas Airlangga Surabaya Airlangga Pribadi mengatakan bahwa dukungan terhadap Palestina tak perlu didasarkan ideologi ataupun agama.

Kata dia, masalah Palestina harus dilihat secara adil tanpa harus membawa klaim agama. Sebab, orang-orang Yahudi pun mendukung Palestina, yang mayoritas penduduknya beragama Islam.

Masyarakat sipil Israel pun semakin banyak yang mendukung kebebasan dan kemerdekaan Palestina. Mereka menyadari bahwa mekanisme kekuasaan Zionis tidak sejalan dengan demokrasi.

Sebagian warga Israel juga melihat kekuasaan di Israel berjalan dengan cara yang tidak setara. Mitologisasi juga menghancurkan semangat dan keyakinan agama mereka, serta tatanan demokrasi dan kesetaraan yang diyakini kalangan muda Israel.

Di antara 10 perintah Yahudi adalah berbuat baik kepada tetangga, menghormati hak milik orang lain, dan tidak membunuh orang lain.

Sementara setiap saat anak-anak muda Yahudi melihat para pendahulu mereka menggunakan legitimasi agama untuk kepentingan Israel, yang bertentangan dengan perintah Tuhan.

Para pemuda Yahudi yang meyakini nilai-nilai demokrasi dan kesetaraan pun melihat berbagai kejadian di Israel bertentangan dengan keyakinan mereka. Karena itu, muncullah berbagai penolakan terhadap langkah-langkah Rezim Zionis.

Angga mengatakan, selama ini banyak negara di dunia menawarkan solusi dua negara di tanah Palestina. Sebab, tawaran satu negara dianggap tidak rasional.

Rezim Zionis, lanjut dia, sejatinya tidak memiliki legitimasi untuk berkuasa di tanah Palestina. Pasalnya, Israel dibentuk dan dibangun melalui mitos-mitos.

“Landasan-landasan berdirinya Zionis dibangun melalui tendensi settler colonialism di era modern,” kata Angga sebagaimana dikutip beritaalternatif.com dari kanal YouTube Dina Sulaeman, Sabtu (11/6/2022) sore.

Pembentukan satu negara, sambung dia, merupakan solusi yang sejalan dengan demokrasi dan kesetaraan, sehingga semua etnis di tanah Palestina bisa hidup berdampingan.

Angga menegaskan, rezim Zionis Israel selama ini dibangun di atas landasan diskriminasi dan penindasan. Karena itu, ke depan harus dibangun rezim yang lebih demokratis dan adil di tanah Palestina.

Menurut dia, tanah warga Palestina yang diambil melalui proses transaksi jual beli dengan warga Israel tidak lebih 7% dari teritorial Palestina yang dirampas Rezim Zionis.

“Teritorial Israel itu bisa seperti itu karena dilakukan melalui intimidasi, teror, dan pengusiran,” tegasnya.

Selama bertahun-tahun Israel melakukan pembersihan etnis dan pengusiran paksa warga Palestina. Hal inilah yang membuat pasukan Arab menyerang Israel pada tahun 1948.

Para sejarawan Israel, salah satunya Ilan Pappe, menemukan fakta yang tidak sejalan dengan propaganda dan mitos yang mereka dapatkan dari Rezim Zionis.

“Kemudian, (mereka) menunjukkan berbagai fakta-fakta yang selama ini ditutup-tutupi oleh otoritas Israel itu sendiri dan dibangun dengan persekongkolan antara otoritas kekuasaan Israel dan otoritas pengetahuan yang ada di sana,” jelasnya. (*)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top