Internasional

Rusia Mampu Turunkan Inflasi di Tengah Sanksi Bertubi-tubi dari AS-Eropa

BERITAALTERNATIF.COM – Inflasi menjadi momok bagi Amerika Serikat (AS) dan negara Barat lainnya yang bisa membawa perekonomian ke jurang resesi. Bank sentral AS (The Fed) dan beberapa bank sentral Eropa sangat agresif dalam menaikkan suku bunga guna meredam inflasi, untuk saat ini hasilnya masih nihil.

Hal sebaliknya terjadi di Rusia, inflasi sukses dikendalikan dan bank sentralnya terus memangkas suku bunga. Bank sentral Rusia (Russia Central Bank/CBR) bermanuver dengan agresif di tahun ini akibat perang Rusia-Ukraina.

Amerika dan sekutu memberikan berbagai macam sanksi ke Rusia mulai dari sektor energi hingga finansial yang membuat nilai tukar rubel jeblok hingga menyentuh rekor terlemah dalam sejarah RUB 150/US$.

Jebloknya rubel membuat inflasi meroket, CBR pun mengerek suku bunga dari 9,5% menjadi 20%. Ditambah dengan kebijakan capital control dari pemerintah Moskow di bawah pimpinan Presiden Vladimir Putin, serta pendapatan yang tinggi dari komoditas energi membuat rubel berbalik menjadi mata uang terbaik di dunia, inflasi pun melandai.

CBR akhirnya memangkas suku bunga berkali-kali hingga kembali menjadi 9,5%. Gubernur CBR Elvira Nabiullina dan kolega akan mengumumkan kebijakan moneter Jumat pekan ini dan diperkirakan akan kembali memangkas suku bunganya.

Hasil survei yang dilakukan Reuters pada pertengahan Juli menunjukkan 15 dari 26 analis memperkirakan CBR akan memangkas suku bunga sebesar 50 basis poin menjadi 9%.

Inflasi yang terus menurun menjadi alasannya. Juni lalu Inflasi di Rusia tembus 15,9% year-on-year (yoy), turun dari bulan sebelum 17,1% (yoy). Memang inflasi tersebut masih jauh dari target CBR sebesar 4%, tetapi sudah turun dari rekor tertinggi 20 tahun 17,8% yang disentuh pada April lalu.

Sementara jika dilihat secara mingguan, pada pekan yang berakhir 8 Juli, inflasi tumbuh 15,62% (yoy) turun dari pekan sebelumnya 16,19% (yoy).

Andrei Duryagin, direktur investasi di MKB Investments, mengatakan bahwa data inflasi akan memperkuat keyakinan CBR untuk memangkas suku bunga lebih besar lagi.

“Dalam pandangan kami, CBR memiliki pilihan akan memangkas suku bunga 50 hingga 75 basis poin. Kami melihat CBR akan melakukannya dengan konservatif yakni 50 basis poin,” kata Duryagin, sebagaimana dilansir Reuters.

Duryagin menambahkan, di akhir tahun nanti, suku bunga CBR akan berada di bawah 8%.

Langkah CBR tersebut tentunya berbanding terbalik dengan bank sentral negara Barat. The Fed sudah 3 kali menaikkan suku bunga tetapi inflasi masih terus menanjak.

Pada bulan Juni, inflasi di AS tembus 9,1% (yoy), naik dari bulan sebelumnya 8,6% (yoy) yang merupakan level tertinggi dalam 41 tahun terakhir.

Sementara di zona euro, inflasinya menembus 8,6% (yoy) yang menjadi rekor tertinggi sepanjang masa. Begitu juga di Inggris, dengan inflasi yang mencapai US$ 9,4% (yoy), tertinggi sejak 1982.

Memang secara persentase inflasi di Rusia masih lebih tinggi, tetapi sudah sukses diturunkan dua bulan beruntun, sementara Amerika dan sekutu inflasinya masih terus menanjak. (*)

Sumber: Berita CNBC Indonesia berjudul Amerika & Sekutu Kalah Telak! Rusia Sukses Kendalikan Inflasi

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

To Top