Internasional

Penyebaran Hoaks dari Media Massa terkait Perang Suriah

BERITAALTERNATIF.COM – Narasi perang Suriah yang satu nada (Assad diktator, pelaku pembunuh massal, harus digulingkan) dan berbagai ‘bukti’ yang disodorkannya, umumnya bersumber dari media-media papan atas alias media mainstream (arus utama). Mulai dari CNN, BBC, Al Jazeera, Fox News, Reuters, AFP, The Independent, The Telegraph, dan sebut saja nama media terkemuka dunia dan nasional (Indonesia), mereka satu nada, satu narasi.

Jurnalis independen, netizen, dan para penulis yang bersuara berbeda dari media mainstream menjadi orang-orang yang berjuang dalam sunyi. Suara mereka sayup-sayup di tengah gempuran media mainstream yang didukung oleh jaringan raksasa dan modal yang amat sangat besar. Penulis yang menentang narasi mainstream, dengan bukti sekuat apa pun, sering dirisak, diejek, dan dihina dengan berbagai sebutan. Argumen yang digunakan, “Semua media besar sudah memberitakan demikian, kok kamu masih menolak percaya?”

Dalam ilmu logika, argumen seperti itu masuk kategori kesalahan (fallacy) jenis argumentum ad populum (menganggap sesuatu itu benar hanya karena banyak orang mempercayainya). Atau bisa juga masuk ke argumentum ad verecundiam (menganggap sesuatu itu benar karena ada pakar atau institusi yang dianggap ‘hebat’ yang mengatakannnya).

Apakah hanya karena semua media mainstream memberitakan, sebuah berita dipastikan benar? Bukankah ada sangat banyak bukti yang bisa disodorkan bahwa media mainstream berkali-kali kedapatan berbohong? Dalam artikel ini, saya ungkap sebagian di antaranya.

Belum luput dari ingatan, betapa seluruh media mainstream memberitakan bahwa Irak menyimpan senjata pembunuh massal. Atas alasan itu, AS dan sekutunya menggempur Irak pada 2003, menggulingkan Saddam Husein, mendudukinya sampai sekarang. Data 2013, sedikitnya ada setengah juta orang Irak tewas akibat pendudukan AS sejak 2003. Pada 2011, dari mulut para pemimpin AS sendiri, muncul pengakuan bahwa sebenarnya: tidak ada senjata pembunuh massal di Irak.

Di era digital ini, kebohongan akan terus terekam, tak terhapus. Awalnya, mereka berulang-ulang menyatakan bahwa ada senjata pembunuh massal di Irak dan karena itu, AS harus segera mengirim pasukan untuk menggulingkan Saddam. Lalu, setelah Irak hancur lebur, bertahun-tahun sesudahnya (tepatnya di tahun 2011), orang-orang yang sama mengatakan, “Tidak, saya tidak pernah bilang begitu”.

Inilah yang saya maksud dalam kalimat di tulisan sebelumnya, bahwa di era digital dan media sosial, kata-kata menjadi abadi. Jejak digital tidak bisa dihapus. Cepat atau lambat, waktu akan membuka tabir dari setiap kata-kata, apakah dusta atau kebenaran. (Sumber: Dina Sulaeman dalam buku Salju di Aleppo)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

To Top