Internasional

Penghancuran Sistematis dan Terencana terhadap Yaman dan Suriah

Samarinda, beritaalternatif.com – Kajian atas situasi lapangan di Yaman dan Suriah menunjukkan, para penyulut perang di kedua negara ini mengincar tujuan-tujuan yang sama.

Baru-baru ini, al-Mayadeen dalam laporannya menyebut sejumlah titik persamaan antara perang di Suriah dan Yaman, baik dalam hal para penyulut dan pendukung perang, atau dampak-dampak dari perang.

Penghancuran Terencana

Ketua Asosiasi Ruang Industri Suriah, Faris al-Shahabi sebelum ini dalam artikelnya menyinggung kerugian yang menimpa industri Suriah akibat perang.

Ia menyatakan, 133 ribu fasilitas industri Suriah, termasuk 66 ribu fasilitas di Aleppo, telah mengalami kerugian. Kawasan-kawasan industri benar-benar hancur setelah dijarah. Hal yang sama terjadi di dua kawasan al-Lyrmoun dan al-Shaqif. Setelah dua kawasan ini dijarah, sebagian besar produk-produknya diselundupkan ke wilayah Turki.

Sama seperti di Suriah, penghancuran ekonomi terencana juga dilakukan di Yaman. Dubes Yaman untuk Suriah, Abdullah Shabri pernah mengatakan, agresi ke negaranya adalah salah satu perang terkotor di dunia. Sebab, para agresor Saudi dan AS secara sengaja menghancurkan ekonomi Yaman secara sistematis dan menyeluruh.

Salah satu buktinya adalah serangan-serangan udara koalisi Saudi menghancurkan infrastruktur di berbagai kawasan Yaman, seperti stasiun pembangkit listrik, pabrik, jalan, sekolah, rumah sakit, dan pusat-pusat komunikasi.

Berbarengan dengan ini, koalisi Saudi juga memberlakukan blokade laut, darat, dan udara, dengan tujuan membuat rakyat Yaman kelaparan agar mereka tunduk. Hal ini memicu krisis ekonomi dan kemanusiaan di Yaman, sehingga PBB menyebutnya sebagai bencana kemanusiaan terburuk di dunia.

“Empat tahun lalu, koalisi memindahkan Bank Pusat Yaman dari Sana’a ke Aden. Tindakan ini mencegah perputaran devisa-devisa vital, sehingga membuat Pemerintah Yaman tidak mampu membayar gaji para pegawai hingga hari ini. Akibatnya, sebagian besar rakyat Yaman hidup dalam kelaparan dan di bawah garis kemiskinan,” tulis al-Mayadeen.

Serangan Terorganisasi

Penulis dan pakar urusan militer Yaman, Abdulghani Ali al-Zubaidi mengatakan, Suriah adalah jantung Arab dan memainkan peran penting dalam sebagian besar isu terkait negara-negara Arab, terutama isu Palestina.

Oleh sebab itu, serangan ke Suriah bukanlah sebuah tindakan serampangan, namun sebuah tindakan yang telah direncanakan dan diperhitungkan oleh beberapa negara asing: negara-negara yang memanfaatkan puluhan ribu teroris takfiri dan melabeli mereka sebagai “revolusioner.”

Al-Zubaidi lalu menyinggung lawatan mantan Menlu AS Colin Powell ke Damaskus dan pertemuannya dengan Bashar Assad. Powell mengancam Assad, bahwa jika Damaskus tidak mengusir faksi-faksi Palestina dari tanahnya, menghentikan aliansi dengan Iran, mencabut dukungan untuk Hizbullah dan faksi-faksi resistansi Palestina, Irak, dan Lebanon, maka Suriah akan selalu dianggap musuh oleh Washington.

Menurut al-Zubaidi, Powell mendapatkan jawaban yang membuatnya tidak senang. Peringatan serupa juga disampaikan seorang pejabat salah satu negara Arab yang mengunjungi Damaskus di tahun 2012. Namun dia pun mendapatkan jawaban yang sama dari Assad.

Al-Mayadeen menulis, para penggagas perubahan Timur Tengah meyakini, faksi-faksi Palestina akan tercerai berai dan melemah jika Suriah dihancurkan dengan perang proksi dan teroris takfiri, tanpa harus ada keterlibatan AS secara langsung dalam perang.

Situs Lebanon ini menyatakan, substansi proyek di Yaman juga tidak berbeda dengan yang di Suriah. Apalagi rakyat Yaman bangkit melakukan revolusi atas rezim yang tunduk kepada Riyadh.

Dari sinilah, Saudi, kemudian disusul AS dan Israel, menyadari bahwa terbentuknya sebuah pemerintahan yang peduli terhadap masalah-masalah Arab di Yaman akan sangat membahayakan mereka.

Pencurian Minyak

AS melalui kaki tangannya di Suriah, yaitu milisi Kurdi (SDF), berusaha menjarah minyak Suriah. Untuk itu, AS menduduki ladang-ladang minyak di timur Suriah melalui kerja sama dengan para anteknya ini.

Sebanyak 90 persen minyak yang dijarah dari Suriah berasal dari kawasan-kawasan yang diduduki AS. Minyak ini juga digunakan ISIS untuk mendanai kegiatannya.

Shabri juga menyatakan, salah satu tujuan agresor dari serangan ke Yaman adalah menjarah minyak. Koalisi Saudi sejak hari pertama perang menduduki kawasan-kawasan yang memproduksi, menyuling, dan mengekspor minyak ke negara-negara lain, mulai dari Ma’rib hingga Shabwah, Hadhramaut, dan Aden. Upaya keras koalisi agresor untuk mempertahankan Ma’rib agar tidak dibebaskan Ansharullah juga membuktikan hal ini.

Negara-Negara Arab Kembali

Dalam lanjutan laporannya, al-Mayadeen menulis bahwa baru-baru ini, permintaan sejumlah negara Arab agar Suriah kembali ke Liga Arab telah disetujui mayoritas negara Arab, kecuali Qatar.

Al-Mayadeen juga menyinggung pembukaan kembali kedubes sebagian negara Arab di Damaskus. Sejumlah negara Arab lain juga akan memulangkan kembali dubes mereka ke Suriah dalam waktu dekat.

Terkait dengan Yaman, Shabri menyatakan bahwa Sana’a menyambut baik negara-negara Arab yang kembali ke Yaman, yang disebutnya sebagai kemenangan kubu resistansi.

Meski demikian, ia berkata bahwa terlalu dini untuk membicarakan pemulihan hubungan Yaman dengan negara-negara anggota koalisi Saudi. Sebab saat ini agresi ke Yaman masih berlanjut dan sebentar lagi akan memasuki tahun kedelapan. (liputanislam)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

To Top