Internasional

Kisah Bocah di Kursi Oranye

BERITAALTERNATIF.COM – Bocah di Kursi Oranye” adalah salah satu video karya tim White Helmets yang paling terkenal dan paling membuat heboh dunia. Pada 17 Agustus 2016, Sophie McNeill, koresponden Timur Tengah dari Australian Broadcasting Corporation menerima sebuah video yang bersumber dari grup WhatsApp yang beranggotakan dokter di kawasan ‘pemberontak’ dan awak media internasional.

Video itu memperlihatkan bocah lima tahun bernama Omran Daqneesh, yang dikabarkan baru ‘diangkat dari reruntuhan gedung yang dibom oleh Rusia’. Omran diselamatkan oleh tim White Helmets, lalu dibawa ke ambulans dan difilmkan oleh tim Aleppo Media Center.

McNeill langsung memposting video singkat itu di Twitter-nya, tanpa menyebut sumbernya. “Saksikan video dari Aleppo malam ini. Dan saksikan lagi. Dan ingatkan dirimu bahwa with #Syria #wecantsaywedidntknow [kita tidak bisa lagi berkata ‘tidak tahu tentang Suriah],” tulis McNeill. Cuitannya di-retweeted lebih dari 17.000 kali dan hashtag yang dia buat pun menjadi viral.

Beberapa jam kemudian, foto Omran Daqneesh yang berlumuran debu dan darah, dengan mata yang menatap kosong, dimuat di halaman depan berbagi media internasional, mulai dari New York Times dan The Wall Street Journal di AS, Times di Inggris, hingga koran-koran berbagai negara.

Di televisi di seluruh dunia, termasuk Indonesia, video itu disiarkan berulang-ulang. Di internet dan media sosial, histeria juga terjadi. Semua mengecam tentara Suriah dan Rusia, tanpa merasa perlu mengecek siapa sumber berita dan memverifikasi video dengan seksama. Kolumnis New York Times terkenal, Nicholas Kristof (yang aktif mempromosikan The White Helmets) menulis bahwa pemerintah AS harus segera menembakkan misil dari luar Suriah untuk melumpuhkan tentara Suriah.

Sumber pertama huru-hara ini, McNeill, masih belum berhenti. Pada tanggal 20 Agustus, dia menulis di Facebooknya, “Apakah Anda ngeri melihat video si kecil Omran? Tidak bisa berhenti memikirkannya? Kalau ya, jangan hanya sekedar share, tapi marahlah selama 24 jam dan terus-menerus. Dengarkan dua aktivis kemanusiaan hebat Suriah, Zaher Sahloul dan James Sadri, apa langkah yang harus Anda lakukan sekarang.”

Siapa sesungguhnya kedua orang ini? Sadri adalah direktur The Syria Campaign dan Sahloul adalah direktur Syrian American Medical Society yang bekerja sama dengan SC. Keduanya aktif menyerukan No Fly Zone di Suriah.

Namun histeria massal ini tidak mencapai klimaks yang diinginkan (serangan ke Suriah) karena hanya sehari setelah foto Omran ditaruh di halaman depan koran-koran dunia, website Inggris thecanary.co mengungkap sisi gelap di balik video itu. Fotografer dan videographer si bocah, bernama Mahmoud Raslan, kedapatan menyimpan foto-foto selfie dengan teroris dari faksi Nouroddin Al-Zinki (yang didukung Turki), pelaku penyembelihan bocah Palestina, Abdullah Isa yang membuat heboh jagat media sosial.

Foto-foto selfie itu ada di Facebook Raslan sendiri. Bahkan Raslan menulis, “Bersama pejuang bunuh diri, dari tanah pertempuran dan pembunuhan, dari Aleppo, kami akan membawakan kepada Anda kebahagiaan, insyaallah.” Raslan juga menggunakan ikat kepala khas “petempur bunuh diri.”

Apa artinya? Artinya, sumber berita soal Omran adalah pihak teroris dan diberitakan secara luas tanpa diverifikasi mengikuti asas jurnalistik. Untuk ‘mencuci tangan’, Sophie McNell memposting foto yang diakuinya bersumber dari The Syria Campaign, berisi pernyataan Mahmoud Raslan, bahwa dia tidak tahu, dia sedang berfoto dengan Al Zinki. Raslan bahkan juga berusaha menggeser opini publik dengan menyatakan bahwa bocah Palestina yang disembelih Al Zinki berusia 19 tahun, bukan 12 tahun. Sebuah klaim yang tidak cocok dengan video penyembelihan itu, yang jelas menunjukkan bahwa Abdullah Isa masih kecil.

Lebih parah lagi, hasil investigasi atas sisi gelap video itu menunjukkan bahwa sang bocah di kursi oranye itu bukanlah warga sipil yang menjadi korban. Omran adalah seorang yang punya relasi kuat dengan para teroris, dan dia termasuk anak-anak yang dipersiapkan untuk kelak menjadi teroris. Omran, sebagaimana Bana Al Abed, adalah korban. Mereka adalah bocah malang yang dimanfaatkan oleh Al Qaida untuk propaganda perang demi diluncurkannya “Humanitarian Intervention” oleh NATO.

Perlu dicatat pula bahwa pada 24 September 2016, faksi Al Zinki secara resmi bergabung dengan Jabhat Fatah Al Syam (nama baru Al Nusra).

Analisis Video Omran Daqneesh

Video Omran Daqneesh, selain sudah cacat dari sumbernya (White Helmets dan Aleppo Media Center yang merupakan jaringan teroris Al Nusra), juga sangat mencurigakan dari sisi kontennya. Bila Anda cermati dengan seksama, terlihat ambulans yang digunakan masih mulus dan baru, padahal konon sedang berada di zona perang yang selalu dibombardir Rusia.

Lalu, mengapa si anak disuruh duduk begitu saja bermenit-menit, bukannya langsung ditangani dokter sebagaimana seharusnya tindakan darurat, misalnya dibaringkan untuk memeriksa, apakah ada patah tulang? Tidak ada yang bicara dengannya, sementara ada belasan pria di sekitar situ, sebagiannya sibuk memotret. Anak itu juga tidak menangis, sebagaimana biasanya anak yang terluka dan tidak ada orang tua di sisinya.

Selain itu, Anda bisa mencermati video-video lain yang diproduksi White Helmets dan Aleppo Media Center, semuanya mirip. Orang-orang berteriak dan lalu lalang tidak jelas. Tenaga medis tidak melakukan tindakan yang mirip perilaku tenaga medis yang asli. Mereka juga banyak memproduksi foto berkualitas bagus, karya fotografer profesional.

Tidak adakah pakar fotografi yang mencurigai, bagaimana di sebuah lokasi yang katanya tiap hari dibombardir, bisa didapatkan sedemikian banyak foto dengan ‘gaya’ yang mirip: puing-puing, debu, asap, anak-anak yang berdebu namun tak terlihat ada luka serius, para penyelamat yang menggendong anak tepat di depan kamera (dan atribut White Helmets selalu terlihat). Semua foto itu dramatis, berkualitas bagus, dan dipublikasi secara masif oleh media-media terkemuka dunia.

Video dan foto versi White Helmets perlu dibandingkan dengan foto dan video korban bom yang asli supaya Anda bisa menangkap ‘drama’-nya. Biasanya, foto dan video asli itu adalah korban bom yang dilakukan oleh pihak teroris, sehingga tidak pernah viral. Padahal anak-anak di dalam foto dan video itu kondisinya jauh lebih menyayat hati dibandingkan Omran.

Yang menarik, pada Oktober 2016, situs Revolutionary Forces of Syria Media Office (RFS), situs anti-Assad, mengunggah sebuah ‘video penyelamatan’ White Helmets yang lupa diedit. Di bagian awal, terlihat dua anggota White Helmets sedang memegang seorang pria yang mukanya putih seolah terpapar debu. Mereka diam seperti patung. Lalu beberapa detik kemudian, baru terdengar suara teriakan-teriakan, barulah si pria berteriak-teriak seolah kesakitan dan dibopong oleh White Helmets.

Jelas, video itu sontak memunculkan kehebohan di media sosial (wow, White Helmets ketahuan membuat video palsu!). Beberapa jam kemudian, RFS segera menghapus video tersebut. White Helmets lalu mengeluarkan pernyataan, berdalih itu adalah video manequin challenge (video pura-pura jadi patung yang sedang tren akhir-akhir ini). Meski dihapus, banyak pihak yang sudah mengunduhnya dan video hoaks itu tetap tersebar di internet.

Dalih White Helmets tentang manequin challenge lalu terbantah: orang yang ditolong itu ternyata terlanjur selfie bersama White Helmets dan mengunggahnya di Facebook, menyatakan terima kasih kepada White Helmets yang telah ‘menyelamatkannya dari puing-puing’. Dan kemudian juga ketahuan dari Facebooknya, orang itu berpose mengenakan seragam Free Syrian Army. Eh? Jangan pernah meremehkan Facebooker anti-perang, mereka akan dengan cepat mengungkap jejak digitalmu! (Sumber: Dina Sulaeman dalam buku Salju di Aleppo)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

To Top