Internasional

Dokter Anak Terakhir dari Aleppo

BERITAALTERNATIF.COM – Di antara propaganda “Save Aleppo” yang terkenal adalah video “The Last Pediatrician” (Dokter Anak Terakhir). Dalam video yang diviralkan pada April 2016 itu, terlihat seorang dokter menolak meninggalkan rumah sakit Al Quds yang dibombardir oleh tentara Suriah dan Rusia. Selain menjadi viral di media sosial, berita tentang sang dokter diberitakan oleh semua media terkemuka di dunia, dan diterjemahkan oleh media-media nasional berbagai negara, termasuk Indonesia.

Nama dokter itu Mohammad Wassim Maaz (ada juga yang menulis Moaz). Sementara itu, RS Al Quds adalah rumah sakit yang dikelola oleh The Medecins sans Frontieres (MSF), LSM yang bergerak memberi bantuan medis di berbagai wilayah konflik di dunia. MSF memiliki rekam jejak sebagai LSM yang mulia karena menolong orang di berbagai wilayah konflik. Tapi kiprahnya di Suriah terlihat aneh. MSF membuka rumah sakit justru di wilayah yang dikuasai ‘pemberontak’ Suriah (Aleppo timur).

Jurnalis independen asal AS, Rick Sterling, menulis surat terbuka kepada Direktur MSF, Dr. Joanna Liu, mengkritisi kinerja MSF di Aleppo, termasuk kisah Dokter Anak Terakhir ini. Berikut ini poin-poin utamanya.

Pertama, video kematian ‘dokter anak terakhir’, Dr. Moaz, yang menjadi viral, sangat mencurigakan. Disebutkan bahwa video itu adalah rekaman CCTV pada detik-detik sebelum RS Al Quds diserang bom. Aneh sekali bila gedung RS Al Quds hancur jadi puing, tapi beberapa kamera CCTV (bukan cuma satu) tetap selamat.

Kedua, konon RS Al Quds dibom pada tanggal 27 April. Staf MSF, Pablo Marco, saat di-interview oleh CNN dan PBS Newshour pada 28 April, mengatakan, “Ada 2 bom barrel yang jatuh dekat RS Al Quds, lalu bom ketiga jatuh di pintu depan RS Al Quds”. Tetapi, press rilis MSF justru kontradiktif dengan menyatakan bahwa “RS Al Quds dihancurkan oleh minimalnya 1 serangan udara yang secara langsung menimpa bangunan dan membuatnya jadi puing.” Tapi foto yang ditunjukkan tidaklah berupa “puing-puing”. Versi berita mana yang benar? Jumlah korban yang disebut pun bervariasi, mulai dari 14, lalu muncul berita, lebih dari 50. Mana yang benar?

Ketiga, staf MSF, Pablo Marco dan Muskilda Zancada memastikan bahwa serangan pada RS Al Quds adalah serangan yang disengaja karena ‘RS Al Quds sudah berfungsi sejak 4 tahun yang lalu, tidak mungkin [pengebom] tidak tahu’. Namun faktanya, warga Aleppo tidak pernah mendengar nama RS Al Quds dan rumah sakit ini tidak ada sebelum perang. Kalau benar RS Al Quds ada, seharusnya MSF punya foto dan dokumen bahwa di lokasi itu benar ada rumah sakit dengan 34 tempat tidur perawatan (seperti yang diklaim MSF). Yang terlihat dari foto adalah kemungkinan bahwa RS Al Quds sekedar klinik medis yang beroperasi di bawah tanah di sebuah apartemen rusak.

Keempat, Kementerian Pertahanan Rusia, segera setelah dituduh mengebom RS Al Quds, merilis foto satelit yang memperlihatkan bahwa gedung yang diklaim sebagai RS Al Quds berada dalam kondisi kerusakan yang sama seperti foto pada Oktober 2015. Selain itu, Rusia juga memiliki data bahwa yang terbang di udara Aleppo pada tanggal 27 April sore itu hanya 1 pesawat dari kubu koalisi (NATO).

Kelima, sebanyak 80-90% populasi Aleppo tinggal di area yang dikontrol pemerintah. Hal ini jarang diungkap di media, namun fakta ini penting. Mengapa MSF hanya memberikan bantuan di kawasan yang dikuasai oposisi?

Keenam, pada 22 April, ratusan mortar dan bom diluncurkan ke Aleppo barat dari arah kawasan yang dikontrol Al Nusra dan kelompok-kelompok teroris lainnya. Bom-bom berjatuhan seperti hujan dan di antara yang hancur adalah RS Al Dabeet. Ratusan orang tewas dan terluka. Apakah MSF pernah bersuara mengecam hal ini?

Ketujuh, banyak video dari RS Al Quds yang menampilkan anggota The White Helmets. Bila dibandingkan antara video serangan ke RS Al Quds dengan video serangan ‘mujahidin’ ke kawasan Aleppo barat, termasuk RS Al Dabeet, terlihat bedanya antara serangan ‘asli’ dan serangan ‘buatan’.

Kedelapan, Al Nusra/Al Qaeda masuk ke dalam daftar teroris baik oleh AS, Perancis, dan Kanada, dan telah sangat banyak melakukan pengeboman di Aleppo barat, di antaranya menghancurkan RS Al Kindi. Dokter memang memegang ‘sumpah Hipokrates’. Tapi mengapa di tengah luasnya kebutuhan bantuan medis di Aleppo, MSF memprioritaskan perawatan terhadap teroris?

Kesembilan, MSF di Suriah disebut-sebut didanai pemerintah Kanada. Kanada sendiri pernah mengakui pada 2012 bahwa “alasan mengapa $2 juta disalurkan lewat Canadian Relief for Suriah, bukan kepada PBB atau Palang Merah Internasional, adalah karena memang bantuan itu dimaksudkan untuk kelompok-kelompok oposisi dan bukan bantuan kemanusiaan.” Apakah MSF menerima dana itu sehingga kegiatannya di Suriah khusus untuk merawat teroris?

Selain Sterling, jurnalis independen asal Inggris, Vannessa Beeley, juga menulis tentang kasus Al Quds. Dalam investigasinya, Beeley menemukan bahwa tidak ada rumah sakit resmi MSF di Suriah. Yang ada adalah RS darurat yang “didukung MSF”, yang didirikan tanpa izin pemerintah Suriah, dan stafnya umumnya berasal dari White Helmets yang berafiliasi dengan Al Nusra (Al Qaida). Hal ini sesuai dengan pernyataan staf MSF sendiri yang mengaku MSF merawat teroris dan membuka klinik di lokasi-lokasi tersembunyi, antara lain di gua-gua.

MSF juga melakukan langkah mencurigakan dengan merahasiakan koordinat GPS rumah sakit-rumah sakitnya (dengan alasan takut dibom tentara Suriah/Rusia). Lalu ketika dibom, belum ada penyelidikan, staf MSF langsung berkata kepada media massa bahwa pelakunya Rusia/Suriah meski tetap mengaku ‘belum ada bukti’.

Di akhir suratnya, Sterling menulis, “Kita sepakat bahwa petugas dan fasilitas medis tidak boleh diserang, hal ini diatur dalam Konvensi Perang Jenewa. [Tetapi] ada hukum internasional lainnya, yaitu hukum yang melarang agresi dan [hukum] hak membela diri. Sangat jelas pemerintah Suriah sedang diserang oleh pasukan proxy (kaki-tangan) koalisi negara-negara asing dan hal ini merupakan pelanggaran hukum internasional dan Deklarasi PBB …Pernyataan yang bias [dari MSF] dan propaganda akan memperpanjang konflik dan membuatnya lebih buruk.” (Sumber: Dina Sulaeman dalam buku Salju di Aleppo)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

To Top