Kalimantan Timur, ID
23°C
Visibility: 10 km

Dina Sulaeman Ungkap Penyebab Taliban Berkuasa tanpa Perlawanan

Dina Yulianti Sulaeman
Dina Yulianti Sulaeman

Jakarta, beritaalternatif.com – Pengamat Timur Tengah yang juga Dosen Prodi Hubungan Internasional Universitas Padjadjaran Dina Yulianti Sulaeman menyebutkan, jika dilihat pemberitaan baik di media nasional dan internasional, proses pengambilalihan kota demi kota di Afghanistan berjalan cepat dan nyaris tidak ada perlawanan. Bahkan ibu kota pun (Kabul) jatuh ke tangan Taliban nyaris tanpa perlawanan. 

Kata dia, Presiden Afghanistan pergi begitu saja, padahal sebelumnya ia berjanji akan terus berjuang melawan Taliban. Ada dua kemungkinan, pertama Taliban punya kekuatan yang besar. Namun, ini kontradiktif dengan informasi bahwa jumlah pasukan Taliban hanya enam puluh ribuan.

“Sementara pasukan Afghanistan yang dipersenjatai dan dilatih AS selama ini mencapai tiga ratus ribuan,” kata Dina sebagaimana dilansir dari fixindonesia.com, Selasa (17/8/2021). 

Menurutnya, kemungkinan kedua, Taliban mendapatkan dukungan dari sebagian warga Afghanistan sehingga mereka begitu saja menyerahkan kendali kota kepada Taliban.

Pasalnya, untuk sebagian warga sipil, opsi mereka ada dua: pertama, AS tetap ada di Afghanistan dan setiap saat mereka terancam oleh bom-bom yang dijatuhkan AS dan menyebabkan kematian anggota keluarga mereka. Atau kedua, menerima kekuasaan Taliban, tanpa kehadiran AS.

Namun, Dina melihat fenomena ini sebagai bukti kegagalan proyek perang AS. Sudah 20 tahun AS menduduki Afghanistan dengan alasan akan membantu bangsa Afghanistan untuk memiliki pemerintahan dan militer yang kuat dan demokratis.

“Namun yang terjadi adalah AS terus-menerus melakukan pembunuhan kepada warga sipil dengan alasan mengejar teroris,” jelasnya.

AS mengaku sudah mengeluarkan dana 2,4 triliun USD, lanjut Dina, tapi yang menikmati adalah military industrial complex.

Banyak pebisnis perang yang menjadi kaya raya dari proyek Afghanistan, sementara rakyat Afghanistan tetap miskin dan menderita. Rakyat Afghanistan menjadi korban di tengah-tengah perang berkepanjangan antara AS dan NATO versus Taliban.

Ia menegaskan, AS bersama Arab Saudi dan intel Pakistan dulu membentuk milisi “Mujahidin” pada era Perang Dingin, demi melawan Uni Soviet. Selain menyuplai dana dan senjata, AS bahkan mencetak buku-buku bermuatan ekstrem dan indoktrinasi kekerasan untuk diajarkan kepada anak-anak sekolah Afghanistan.

“Hasil didikan AS era Perang Dingin itulah yang kini menjadi Taliban,” pungkasnya. (fixindonesia/ln)

 

Ketua FPK Kukar Ajak Masyarakat Taati Prokes Covid-19 Juli 30, 2021

Kukar, beritaalternatif.com - Ketua Forum Pembauran Kebangsaan (FPK) Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), Marwan, mengimbau masyarakat untuk menaati...

Lima Fenomena yang akan Pengaruhi Ekonomi Global hingga 2030 September 9, 2021

Jakarta, beritaalternatif.com - Institute for Development of Economics and Finance atau Indef memproyeksikan terjadinya lima fenomena ekonomi...

Aliansi Akademisi Desak Aparat Hentikan Kriminalisasi terhadap Masyarakat Adat Laman Kinipan Juli 23, 2021

Samarinda, beritaalternatif.com - Konferensi pers bertajuk Dari Akademisi untuk Kinipan, Kembalikan Hak Masyarakat Hukum Adat Laman Kinipan didukung...

Alasan di Balik Kewaspadaan Negara-Negara terhadap Tapering The Fed September 21, 2021

Jakarta, beritaalternatif.com - Wacana tapering bank sentral Amerika Serikat (AS), The Fed, jadi perhatian dunia. Berbagai negara sudah mewaspadai...

Tahap Pendaftaran Program Kartu Prakerja Gelombang 18 Agustus 18, 2021

Jakarta, beritaalternatif.com - Manajemen Pelaksana Program Kartu Prakerja telah membuka pendaftaran peserta Kartu Prakerja gelombang 18 pada Senin...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *