Internasional

Dina Sulaeman Ungkap Penyebab Taliban Berkuasa tanpa Perlawanan

Jakarta, beritaalternatif.com – Pengamat Timur Tengah yang juga Dosen Prodi Hubungan Internasional Universitas Padjadjaran Dina Yulianti Sulaeman menyebutkan, jika dilihat pemberitaan baik di media nasional dan internasional, proses pengambilalihan kota demi kota di Afghanistan berjalan cepat dan nyaris tidak ada perlawanan. Bahkan ibu kota pun (Kabul) jatuh ke tangan Taliban nyaris tanpa perlawanan. 

Kata dia, Presiden Afghanistan pergi begitu saja, padahal sebelumnya ia berjanji akan terus berjuang melawan Taliban. Ada dua kemungkinan, pertama Taliban punya kekuatan yang besar. Namun, ini kontradiktif dengan informasi bahwa jumlah pasukan Taliban hanya enam puluh ribuan.

“Sementara pasukan Afghanistan yang dipersenjatai dan dilatih AS selama ini mencapai tiga ratus ribuan,” kata Dina sebagaimana dilansir dari fixindonesia.com, Selasa (17/8/2021). 

Menurutnya, kemungkinan kedua, Taliban mendapatkan dukungan dari sebagian warga Afghanistan sehingga mereka begitu saja menyerahkan kendali kota kepada Taliban.

Pasalnya, untuk sebagian warga sipil, opsi mereka ada dua: pertama, AS tetap ada di Afghanistan dan setiap saat mereka terancam oleh bom-bom yang dijatuhkan AS dan menyebabkan kematian anggota keluarga mereka. Atau kedua, menerima kekuasaan Taliban, tanpa kehadiran AS.

Namun, Dina melihat fenomena ini sebagai bukti kegagalan proyek perang AS. Sudah 20 tahun AS menduduki Afghanistan dengan alasan akan membantu bangsa Afghanistan untuk memiliki pemerintahan dan militer yang kuat dan demokratis.

“Namun yang terjadi adalah AS terus-menerus melakukan pembunuhan kepada warga sipil dengan alasan mengejar teroris,” jelasnya.

AS mengaku sudah mengeluarkan dana 2,4 triliun USD, lanjut Dina, tapi yang menikmati adalah military industrial complex.

Banyak pebisnis perang yang menjadi kaya raya dari proyek Afghanistan, sementara rakyat Afghanistan tetap miskin dan menderita. Rakyat Afghanistan menjadi korban di tengah-tengah perang berkepanjangan antara AS dan NATO versus Taliban.

Ia menegaskan, AS bersama Arab Saudi dan intel Pakistan dulu membentuk milisi “Mujahidin” pada era Perang Dingin, demi melawan Uni Soviet. Selain menyuplai dana dan senjata, AS bahkan mencetak buku-buku bermuatan ekstrem dan indoktrinasi kekerasan untuk diajarkan kepada anak-anak sekolah Afghanistan.

“Hasil didikan AS era Perang Dingin itulah yang kini menjadi Taliban,” pungkasnya. (fixindonesia/ln)

 

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

To Top