Internasional

Penentangan Bani Israel terhadap Nabi Musa saat Memasuki Tanah Palestina

BERITAALTERNATIF.COM – Israel merupakan nama lain dari Nabi Yaqub. Ia mempunyai 12 anak laki-laki dan satu orang anak perempuan. Dua di antara anak laki-lakinya adalah Nabi Yusuf dan Bunyamin.

Semula mereka bermukim di kawasan Fadan, Irak. Kemudian berhijrah ke Kanaan, Palestina. Lalu, Nabi Yaqub dan anak-anaknya berpindah lagi ke Mesir.

Ketika Nabi Yusuf menjadi penguasa Mesir, saat itulah mereka berhijrah dari Kanaan ke Negeri Seribu Menara tersebut. Peristiwa ini diperkirakan terjadi 2.000 SM.

Setelah 400 tahun peristiwa hijrah tersebut, terjadi transformasi politik yang tidak menguntungkan bani Israel, di mana Firaun menjadi penguasa yang sangat kejam.

Saat bani Israel mengalami penindasan, Allah mengutus Nabi Musa dan Nabi Harun untuk menyelamatkan bani Israel.

Kemudian, Nabi Musa mengajak bani Israel ke tanah Kanaan, yang merupakan kawasan yang sebelumnya ditempati Nabi Yaqub. Di situ mereka hendak menempati tanah yang merupakan hak mereka selaku bani Israel. Tanah inilah yang dalam Alquran disebut sebagai tanah yang dijanjikan Allah untuk bani Israel.

Hal ini dijelaskan akademisi dari Sekolah Tinggi Agama Islam Sadra, Dr. Otong Sulaeman, sebagaimana dikutip beritaalternatif.com dari kanal YouTube Dina Sulaeman pada Kamis (9/6/2022) siang.

Allah memerintahkan Nabi Musa untuk kembali ke Kanaan karena di situ mereka akan mendapatkan kebahagiaan.

“Bani Israel berhasil melakukan hijrah. Mereka melewati laut yang terbelah dan selamat dari kejaran tentara Firaun,” jelasnya.

Rangkaian ayat 20-26 surah Al-Maidah bercerita kejadian saat bani Israel semakin mendekati tanah Palestina. Namun, mereka takut memasuki kota tersebut karena terdapat orang-orang kuat yang mendudukinya.

Dalam ayat-ayat tersebut dijelaskan pula dorongan kepada bani Israel untuk berperang dengan penduduk Kanaan. Tetapi, mereka mengaku takut berperang.

Sehingga, Nabi Musa mengecam bani Israel. Allah kemudian mengharamkan tanah Kanaan untuk diduduki bani Israel selama 40 tahun. Karena itu, mereka berputar-putar kebingungan dan hidup terlunta-lunta di Padang Tih—sekitar 600 kilometer dari Baitul Maqdis. Sekira tiga tahun kemudian, Nabi Musa dan Nabi Harun pun meninggal dunia di Padang Tih.

Orang-orang yang melakukan hijrah dari Mesir ke Kanaan pun hidup dalam keterbatasan di Padang Tih, sehingga sebagian dari mereka meninggal dunia di padang tandus tersebut.

Setelah Nabi Musa dan Nabi Harun meninggal dunia, juga bani Israel berganti menjadi generasi yang berbeda, Allah mengangkat Yusa bin Nun dan Khalid bin Yuvana sebagai nabi.

Setelah 40 tahun berlalu, di bawah kepemimpinan Yusa bin Nun dan Khalid bin Yuvana, bani Israel menemukan jalan untuk memasuki tanah Kanaan.

Penempatan tanah ini pun melalui proses yang tak mudah. Terkadang mereka terhalang berbagai cobaan, salah satunya jalan tiba-tiba menjadi gelap, yang mengakibatkan mereka hanya berputar-putar di satu tempat.

“Tetapi, akhirnya mereka bisa memasuki tanah Palestina dengan aman,” jelas Otong.

Ayat 58 surat Al-Baqarah bercerita tentang kisah tersebut. Allah memerintahkan bani Israel untuk memasuki tanah Palestina serta memakan berbagai makanan di dalamnya.

Karena itu, dia menyebutkan, ayat 20-26 surah Al-Maidah dan ayat 58 surah Al-Baqarah bercerita kisah yang berbeda terkait bani Israel.

Otong menyimpulkan, isu tanah yang dijanjikan Allah, yang diklaim oleh Zionis Israel, berdasarkan keterangan Alquran, hanya terkait dengan umat Nabi Musa yang mengalami penindasan di Mesir.

“Artinya, isu ini tidak berlaku untuk bani Israel sepanjang masa. Bahwa semua orang Yahudi punya hak untuk bertempat tinggal di Palestina kapan pun juga, tidak seperti itu,” tegasnya.

Hal ini juga bermakna bahwa Zionis tidak berhak mengusir warga Palestina sebagaimana yang mereka lakukan dalam kurun waktu lebih dari tujuh dekade terakhir.

“Mereka tidak berhak mengusir warga Palestina,” pungkasnya. (*)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

To Top