Tokoh

Spirit Membangun Literasi, Transformasi GLK dari Komunitas ke Yayasan

BERITAALTERNATIF.COM – Erwan Riyadi merupakan penggagas Gerakan Literasi Kutai (GLK). Seiring komunitas tersebut bergerak serta menjalankan berbagai kegiatan literasi, namanya pun kian dikenal luas di masyarakat Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar). Belakangan, ia pun tak dapat dipisahkan dengan usaha membangun semangat literasi di Kukar.

Tentu saja Erwan tidak sendiri. GLK juga digerakkan oleh sejumlah penggiat literasi seperti Listy, Viola Meilinda Putri, Alfiannur, Arsad, dan beberapa orang pemuda Kukar yang dengan tulus membangun GLK.

GLK memang masih seumur jagung. Gerakan yang dimulai dengan komunitas ini baru berumur sekitar lima tahun. Tetapi berbagai kegiatan besar yang dilakukan oleh orang-orang yang berkecimpung di dalamnya telah membawa GLK laksana komunitas yang berusia puluhan tahun karena dijalankan dengan ketulusan, keikhlasan, dan kecintaan pada semangat membangun literasi di Kaltim.

Tim beritaalternatif.com berkesempatan mewawancarai Erwan pada Senin (30/5/2022) malam di Sekretariat GLK yang berlokasi di Jalan Kartini, Kelurahan Loa Ipuh, Kecamatan Tenggarong. Berikut kami suguhkan artikel berbentuk wawancara tersebut.

Bagaimana awal mula Anda dan teman-teman menggagas dan mendirikan Gerakan Literasi Kutai (GLK) ini?

Kalau bicara tentang gerakan yang berkaitan dengan literasi, itu kan kita mulai sejak 2017. Tapi, bicara tentang pergerakan kemasyarakatan itu sebenarnya sudah dimulai sejak tahun 2011. Jadi, ada semacam rangkaian dalam gerakan ini.

Tahun 2011 itu aku bikin yang namanya Kukar Kreatif. Sesuai namanya, ini fokusnya lebih pada industri kreatif. Lebih ke ekonomi kreatif. Kenapa itu? Karena memang aku melihat itu satu potensi yang besar. Apabila bisa digarap dengan baik, dia akan punya dampak (impact) bagi perekonomian daerah.

Nah, waktu itu, persisnya tahun 2012, aku bikin itu. Salah satunya karena terinspirasi programnya Kementerian Pariwisata. Mereka bikin program itu tahun 2010. Di Jakarta baru 2010. Nah, aku tahun 2011 sudah menyiapkannya.

Ketika aku bicara ke mana-mana tentang ekonomi kreatif, nyaris enggak ada seorang pun yang tahu tentang itu. Termasuk para pelakunya sendiri. Enggak ngerti itu industri kreatif. Karena memang baru.

Sejalan dengan pertumbuhan gerakan Kukar Kreatif sendiri, yang lama-lama makin banyak pihak yang ikut dan segala macam, bahkan pemerintah juga ikut masuk belakangan, kemudian aku merasa begini, kalau sudah banyak orang yang masuk, ini berarti rencana awal sudah selesai. Karena rencana awalnya ingin menimbulkan riaknya, bahwa ini sesuatu yang penting dan perlu, maka kita harus melakukannya bersama-sama. Di fase itu aku rasa sudah berhasil. Banyak pihak yang terlibat. Kemudian di lapangan terlihat pertumbuhan ekonomi kreatif sendiri.

Bagaimana proses gerakan ini kemudian menggarap juga bidang kebudayaan?

Seiring dengan itu, pelan-pelan aku mulai bergeser. Tahun 2015, aku mulai bergeser ke budaya. Nah, waktu itu berdiri yang namanya Jejak Budaya. Waktu itu ketuanya salah satu orang yang tinggal di rumah ini—Sekretariat GLK di Jalan Kartini Tenggarong. Aku pembinanya.

Tahun 2015 sampai 2017 itu fase budaya. Dan memang sesuai tren pada saat itu di mana-mana orang lebih suka budaya. Banyak komunitas budaya yang lahir di daerah ini. Jejak Budaya adalah salah satunya. Jadi, momentumnya saat itu bagus. Langsung naik dan rame. Jejak Budaya itu kemudian sampai punya 100 anggota. Bisa bikin cabang di Bontang, Kutim, dan segala macam.

Nah, sampai kemudian 2017 aku bikin satu lagi. Namanya Rumah Budaya Kutai (RBK). Beda dengan Jejak Budaya. Jejak Budaya ini kan lebih memanfaatkan budaya untuk kepentingan pariwisata. Sementara RBK itu, yang aku bikin dengan beberapa kawan, lebih untuk mengangkat budaya Kutai itu sendiri menurut konteks budaya.

Itu tahun 2017. Secara bersamaan, lahir pula GLK itu. Jadi, RBK dulu yang dibikin. Home base-nya di Jalan Mulawarman. GLK itu menyusul beberapa bulan kemudian. Kalau GLK, itu murni dari aku sendiri. Jadi, otomatis yang lain juga ikut. RBK dan GLK itu kayak jadi satu karena tumbuh di tempat yang sama. Areanya memang berbeda. Tapi juga ada kesamaan.

Seiring dengan dinamikanya, akhir tahun 2018, GLK itu kemudian aku bawa lagi ke sini. Di Kukar Kreatif. Di rumah ini. Di Jalan Kartini. RBK masih di sana. Jalan Mulawarman.

Aku kepingin RBK itu tetap jalan. Nanti GLK juga tetap jalan. Langsung di bawah komandoku. RBK kan teman-teman. Aku tetap support. Itu rencananya. Jalannya memang seperti itu.

Karena aku kemudian tidak intens lagi di RBK, fokus ke GLK, enggak tahu kenapa RBK seperti kekurangan energi. Tetap ada. Tetap bergerak. Tapi enggak kayak di awal-awal. Dan aku pun dalam kondisi yang enggak bisa mengintervensi itu. Karena keterbatasan kita. Kalau GLK, aku memang bisa fokus. Aku bawa ke sini. Ke tempatku di sini.

Sejak kapan GLK membentuk yayasan?

Semenjak pindah 2018 itu pelan-pelan bikin ini, bikin itu. Tapi tetap bergerak ala komunitas. Jadi, yang namanya komunitas itu kan dia lebih mengandalkan rasa senang, rasa suka, ini baik, ini bagus, kemudian jalan. Enggak ada program dan enggak ada kegiatan yang direncanakan sejak awal.

Meskipun sebenarnya GLK sendiri formatnya aku sudah bikin dalam bentuk organisasi, tapi karena kondisinya belum memungkinkan, ya sudah bikin kayak komunitas biasa saja. Enggak ada pengurus. Otomatis enggak ada struktur dan enggak ada program-program. Itu berjalan dari 2018 sampai 2021.

Dalam konteks komunitas itu, memang aneh. Karena kita bisa melakukan beberapa hal yang menurut kebanyakan orang itu susah untuk ukuran komunitas. Itu faktanya bisa. Itulah kemudian mengapa beberapa orang mau ikut GLK, dikira GLK itu sudah besar. GLK itu bayangan orang kayak organisasi besar. Padahal enggak. Kan enggak ada pengurus, program, dan kegiatan yang disiapkan.

Seiring berjalannya waktu, kan sejak awal aku sudah punya langkah-langkah kerjanya bahwa memang nanti harus dibikin kayak organisasi yang punya manajemen. Barulah pada tahun 2021 itu mulai kesampaian dengan didirikannya yayasan. Itu namanya sekarang menjadi Yayasan Gerakan Literasi Kutai. Sebagaimana sebuah yayasan, ada pengurus, pembina, dan seterusnya. Jadi, memang sudah ada organisasinya.

Tapi, kita kan berangkatnya dari komunitas. Semangatnya semangat komunitas. Cara kerjanya juga masih cara kerja komunitas. Jadi, ini penyesuaian. Transformasi dari komunitas ke yayasan kan sampai hari ini masih berjalan.

Artinya, kita punya pengurus. Kita sudah nyiapkan program ini dan lain sebagainya. Tapi belum bergerak sebagaimana yayasan yang semestinya. Sampai hari ini masih bercampur antara yayasan dan komunitas. Dan kebanyakan orang tahunya masih GLK saja. Bukan yayasan.

Yayasan ini memang kita bikin lebih sebagai langkah kita untuk menjembatani kita dengan pihak eksternal. Kemarin kan susah kita bekerja sama dengan CSR. Karena kan perlu legalitas.

Tapi, yang namanya gerakan sebagai sebuah spirit itu memang tidak akan pernah selesai. Dan aku kepingin memang GLK itu tetap ada spiritnya sebagai sebuah gerakan. Bukan sebatas sebuah yayasan.

Nah, ini yang membedakan barangkali dengan beberapa yayasan yang lain. Mungkin yayasan yang lain sudah dalam format yayasan. Dia didirikan dengan fungsi, tujuan, dan lain sebagainya. Kalau kita kan enggak. Kita sudah bergerak duluan sebelum ada yayasan. Spirit tentang gerakan barangkali tidak akan pernah hilang. Tapi aku kepingin, sebagai sebuah organisasi, yayasan, dia makin lama makin menyesuaikan diri dengan formatnya sebagai sebuah yayasan: makin profesional, aktivitas gerakannya pun semakin baik, ada pertanggungjawaban, dan seterusnya.

Berapa lama ini akan mengalami proses transformasi? Aku enggak tahu juga kapan. Tapi, kalau rencana kami, fase itu akan memakan waktu satu, dua atau tiga tahun. Ini kan memasuki umur setahun.

Jadi, sampai hari ini, GLK itu masih bergerak dalam dua format. Pertama, format yayasan. Kedua, format sebagai sebuah gerakan. (*)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top